Ilustrasi penembakan, Foto: Pixabay

Lima Kasus Pembunuh Bayaran yang Menggegerkan Indonesia

Estimasi Baca:
Sabtu, 4 Ags 2018 09:05:48 WIB

Kriminologi.id - Penembakan yang menewaskan Herdi Sibolga di dekat rumahnya di Penjaringan, Jakarta Utara, beberapa waktu silam ternyata dilakukan komplotan pembunuh bayaran. Hal ini menambah deretan kasus pembunuh bayaran yang pernah terjadi di Indonesia. Sebelum kasus Herdi, sudah ada beberapa kasus lainnya yang sempat menggegerkan masyarakat Indonesia.

Hasil penyelidikan dan penyidikan polisi menemukan fakta para pelaku dijanjikan bayaran Rp 400 juta untuk mengeksekusi Herdi. Empat pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Pelaku PWT dan SM berperan mengawasi daerah sekitar saat eksekusi dilakukan.

Kemudian, pelaku JS berperan mempelajari keseharian korban dan AS sebagai eksekutor penembakan. Pelaku AS kemudian teridentifikasi sebagai pecatan anggota TNI AL.

Infografik Deretan Kasus Pembunuhan Bayaran yang Gegerkan Indonesia. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Kasus pembunuhan yang melibatkan orang bayarang bukan kali ini saja terungkap di Indonesia. Berdasarkan penelurusan Kriminologi.id, berikut lima kasus lainnya yang sempat membuat geger Indonesia:

1. Pembunuhan Syafiuddin Kartasasmita

Pada 26 Juli 2001, Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita tewas ditembak orang tak dikenal saat hendak menuju ke kantornya. Hakim Syafiuddin ditembak empat orang yang mengendarai Yamaha RX King. Akibatnya, empat peluru bersarang di tubuhnya hingga tewas.

Peristiwa pembunuhan ini menggemparkan masyarakat karena ternyata melibatkan nama pengusaha besar Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, anak bungsu mantan Presiden Soeharto. 

Hasil penyelidikan dan penyidikan polisi menemukan adanya benang merah antara pembunuhan itu dan kasus Tommy Soeharto yang pernah ditangani Hakim Syafiuddin. Bukti kuat keterlibatan Tommy terungkap setelah polisi berhasil menangkap dua eksekutor, Mulawarman dan Noval Hadad, pada 7 Agustus 2001.

Dari keterangan keduanya, Tommy memerintahkan mereka untuk membunuh mati Hakim Syafiuddin dengan imbalan sebesar Rp 200 juta. Perintah itu dilakukan atas dasar dendam lantaran sang Hakim memvonisnya dalam kasus tukar guling antara PT Goro Batara Sakti dan Bulog.

Dalam kasus ini, Mulawarman dan Noval Hadad divonis hukuman seumur hidup. Mirisnya, Tommy sang otak pembunuhan hanya dijatuhi hukuman 15 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Lalu pada peninjauan kembali (PK) yang diajukan Tommy, hukumannya turun menjadi 10 tahun.

2. Pembunuhan Boedyharto Angsono

Pembunuhan menimpa Direktur Utama PT Aneka Sakti Bhakti (PT Asaba), Boedyharto Angsono, pada 19 Juli 2003. Boedyharto ditembak mati bersama dengan pengawal pribadinya, Serda Edy Siyep, sekitar pukul 05.30 WIB di depan lapangan basket Gelanggang Olahraga Sasana Krida Pluit, Jakarta Utara. Peristiwa pembunuhan ini kemudian terungkap dieksekusi oleh orang bayaran.

Pengungkapan kasus ini berjalan cepat. Dua pekan setelah kejadian, pada 31 Juli 2003, polisi menangkap empat anggota Marinir yang diduga terkait kasus pembunuhan Boedyharto. Yakni Kopda (Mar) Suud Rusli, Kopda (Mar) Fidel Husni, Letda (Mar) Syam Ahmad Sanusi, dan Pratu (Mar) Santoso Subianto.

Keempatnya diketahui adalah pengawal pribadi Gunawan Santoso, mantan menantu Boedyharto sekaligus mantan eksekutif PT Asaba. Ia terlibat kasus penggelapan dana perusahaan sehingga membuatnya divonis 28 bulan penjara.

Pada 16 Januari 2003, Gunawan berhasil kabur dari LP Kuningan, Jawa Barat. Dalam pelariannya, Gunawan merancang aksi pembunuhan tersebut.

3. Pembunuhan Imran Ray

Kasus pembunuhan seorang pengacara bernama Imran Ray terjadi di tahun yang sama dengan kasus pembunuhan Dirut PT Asaba. Pada September 2003, Imran ditemukan tewas di dalam mobilnya dengan luka tusuk di sekujur tubuhnya. Ia ditemukan di sekitar Kali Malang, Jakarta Timur.

Imran dibunuh oleh pembunuh bayaran yang disewa Dwi Aryanto alias Husen Karbala, seorang pegawai eselon V di Ditjen Pajak. Kasus pembunuhan ini terungkap melibatkan sejumlah anggota aktif dan mantan anggota TNI sebagai eksekutornya.

Peristiwa ini berawal dari Dwi yang merasa ditipu Irman perihal mutasi kerja. Dalam hal perjanjian dengan Irman, Dwi sudah menggelontorkan dana sebesar Rp 650 juta agar dirinya bisa kembali ditempatkan di Jakarta. Namun, hingga pertengahan 2003 janji Imran tak ditepati.

Oleh karena itu, Dwi memerintahkan Yusuf Buka, anggota TNI sekaligus ajudan Dwi, untuk membunuh Imran. Yusuf kemudian meminta bantuan Elly Jauhar, mantan anggota TNI, dan setuju dengan imbalan Rp 300 juta. Eksekusi dibantu dengan rekan lainnya, Yonatan Womsiwor.

4. Pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen

Sabtu, 14 Maret 2009, Nasrudin Zulkarnaen, yang saat itu menjabat Direktur BUMN PT Putra Rajawali Banjaran (PRB), ditembak mati usai bermain golf di Modernland, Tangerang. Kasus ini menjadi kasus pembunuhan terbesar setelah kasus yang menimpa bos PT Asaba pada 2003. 

Kasus ini melibatkan banyak orang besar, salah satunya Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat itu Antasari Azhar. Nama lain yang terlibat adalah Kombes Pol Wiliardi Wizard dan Sigid Haryo Wibisono, pengusaha yang diduga sebagai makelar kasus.

Wiliardi menyewa empat pembunuh bayaran melalui Jerry Kusuma. Keempat orang tersebut antara lain Eduardo Ndopo Mbete alias Edo, Hendrikus Kia Walen, Daniel Daen Sabon, dan Heri Santosa.

Dalam kasus ini, Antasari ditetapkan sebagai otak intelektual pembunuhan. Selain Antasari, 10 tersangka lain juga ditetapkan. Pada 2016 lalu, Antasari akhirnya bebas bersyarat.

5. Pembunuhan Holly Angela Hayu Winanti

Holly Angela Hayu Winanti ditemukan tewas di kamar lantai 9 AT, Tower Ebony, Kalibata City, Pancoran, Jakarta Selatan, pada 2013 silam. Hasil penyelidikan dan penyidikan polisi mendapati kasus ini melibatkan pembunuh bayaran.

Holly dibunuh suaminya Gatot Supiartono, pejabat tinggi di Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK), melalui jasa orang bayaran. Gatot tega mengotaki pembunuhan itu lantaran merasa kesal dengan sikap sang istri muda yang selalu meminta perhatian lebih darinya.

Gatot kemudian menyuruh Surya Hakim, sopirnya, untuk membunuh Holly. Dalam melakukan eksekusinya, Surya dibantu oleh tiga rekannya Abdul Latif sebagai pemantau situasi, Pagu sebagai pemantau sekaligus sopir, dan Elrizki alias Haris sebagai eksekutor.

Kasus ini mulai terkuat saat polisi berhasil menangkap dua orang eksekutor. Mereka mengaku mendapat bayaran Rp 40-50 juta dari Gatot untuk membunuh Holly. Dari keterangan mereka pula polisi akhirnya juga menetapkan Gatot sebagai tersangka.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500