Ilustrasi Perdagangan Orang. Ilustrasi: Kriminologi.id

Lima Negara Paling Buruk Dalam Penanganan Perdagangan Orang

Estimasi Baca:
Rabu, 1 Ags 2018 07:05:44 WIB

Kriminologi.id - Beberapa waktu yang lalu, praktik sindikat perdagangan orang di Indonesia terungkap. Polisi mengamankan tiga orang masing-masing berinisial TDD, GC dan YH yang memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dalam menyelundupkan sejumlah perempuan asal Indonesia ke Cina. Aktivitas sindikat tersebut diketahui sudah berlangsung sejak 2017 hingga Juli 2018.

Praktik human trafficking atau perdagangan orang ini bukan hanya di Indonesia saja, namun diakui sebagai masalah global yang serius. Pada Juni 2017, Departemen Negara Amerika Serikat mengeluarkan laporan tahunan terkait perdagangan orang yang mengindikasikan adanya beberapa negara yang belum serius dalam menunjukkan komitmennya dalam melawan praktik perdagangan orang.

Dalam laporan berjudul Trafficiking in Person Report (TIP) 2017 itu, disajikan peringkat negara-negara dengan tiga skala tingkat. Tingkat 1 merujuk pada pemerintah negara yang mengakui adanya masalah perdagangan orang dan memiliki upaya dalam penghapusan terhadapnya.

Sebaliknya, negara-negara Tingkat 3 merupakan negara-negara terburuk dalam penanganan perdagangan orang. Negara yang termasuk dalam tingkat ini hanya sedikit atau tidak ada sama sekali usaha dalam membawa isu perdagangan orang ke pengadilan.

Dilansir Borgen Project, sebuah organisasi nonprofit yang fokus pada isu kemiskinan global, berikut adalah 5 negara dengan penanganan terburuk untuk praktik perdagangan orang.

1. Belarusia

Korban sindikat perdagangan orang di Belarusia sebagain besar berada di Belarusia atau Rusia. Sementara korban lainnya diselundupkan ke Polandia, Turki dan berbagai negara di Eurasia dan Timur Tengah. Perempuan Belarusia yang mencari pekerjaan di luar negeri di indsutri hiburan dewasa dan perhotelan sering kali menjadi korban eksploitasi seksual.

2. Republik Afrika Tengah

Sebagian besar korban perdagangan orang di Republik Afrika Tengah (RAT) adalah warga negara yang dieksploitasi di dalam negeri. Perempuan muda di pusat-pusat perkotaan berisiko besar masuk ke dalam lingkaran perdagangan seks komersial.

Pelaku perdagangan orang di RAT memaksa perempuan muda ke dalam pernikahan dan memaksa mereka menjadi pembantu rumah tangga. Pelaku juga memaksa para korban ke dalam perbudakan seksual dan perdagangan seks internasional.

3. Cina

Cina mengalami penurunan ke Tingkat 3 dalam laporan TIP 2017, setelah tiga tahun berada di Tingkat 2. Di Cina, para pelaku perdagangan orang menyasar laki-laki, perempuan dan anak anak untuk dijadikan sebagai pekerja paksa dan masuk ke dalam perdagangan seks.

Para pelaku menargetkan individu yang mengalami cacat perkembangan, seperti anak-anak yang ditinggal orang tuanya untuk bermigrasi ke kota. Ada juga ditemukan kasus penculikan orang-orang Afrika dan Asia untuk dijadikan pekerja paksa di kapal-kapal penangkap ikan yang disponsori oleh negara.

4. Eritrea

Eritrea bisa dikatakan sebagai penghuni tetap negara Tingkat 3 dalam perdagangan orang. Banyak perempuan muda Eritrea pergi ke negara-negara Teluk, Israel, Sudan atau Sudan Selatan untuk mencari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Namun, kenyataan mereka justru kerap menjadi korban cincin perdagangan seks.

Permasalahan yang dihadapi adalah oknum militer dan polisi di Eritrea juga sering melakukan kejahatan perdagangan orang di sepanjang perbatasan Sudan. Hal ini mempertahankan status Eritrea sebagai salah satu negara terburuk dalam perdagangan orang.

5. Iran

Kelompok-kelompok kriminal Iran dilaporkan menyerang perempuan dan anak-anak untuk dimasukkan ke lingkaran perdagangan seks, tidak hanya di dalam Iran tetapi juga di Wilayah Kurdistan Irak, Afghanistan, Pakistan, Uni Emirat Arab dan Eropa.

Para pelaku menargetkan anak perempuan berusia 13 hingga 17 tahun untuk diperdagangkan di luar negeri. Anak perempuan dengan umur yang masih sangat muda dipaksa untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sampai mereka dianggap cukup besar untuk digunakan dalam perdagangan seks anak.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500