Ilustrasi Teroris. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Lima Profesi Terduga Teroris, Dari Pegawai PLN hingga Pengusaha

Estimasi Baca:
Rabu, 15 Ags 2018 07:35:55 WIB

Kriminologi.id - Pada 4 Agustus 2018 lalu Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 menangkap dua terduga teroris di tempat berbeda yaitu di Tegal, Jawa Tengah dan Blitar, Jawa Timur. Penangkapan YW yang merupakan anggota jaringan Jamaah Ansharut Daulah atau JAD mengagetkan masyarakat sekitar. Para tetangga tidak merasa curiga sedikit pun terhadap YW yang sehari-harinya berprofesi sebagai pemilik toko optic di Pasar Kemantran, Tegal.

Selain itu, seorang terduga teroris bernama Lut di Blitar, Jawa Timur yang ditangkap Densus 88 pada 4 Agustus 2018, juga membuat para tetanga kaget. Lut dikenal pribadi yang baik dan sopan. Selain itu, setiap harinya Lut bekerja sebagai penjual tabung gas elpiji.

Infografik Deretan Kedok Profesi Para Terduga Teroris. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Berdasarkan penelusuran Kriminologi.id, para terduga teroris yang ditangkap aparat penegak hukum sebenarnya memiliki pekerjaan yang biasa-biasa saja layaknya anggota masyarakat lainnya. Berikut adalah profesi mereka:

1. Karyawan PLN

Pada Juli 2018, Densus 88 mengangkap lima terduga teroris di Pekanbaru, Provinsi Riau. Diduga mereka mempunyai peran dalam penyerangan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok pada Mei 2018. Salah satunya adalah Daulay yang berperan dalam mendanai aksi penyerangan di dalam Mako Brimob Kelapa Dua tersebut. Selain itu, kelompok Daulay disinyalir juga terlibat dalam aksi terorisme di Mapolda Riau.

Daulay sehari-hari bekerja sebagai karyawan PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN. Posisi Daulay di perusahan pelat merah tersebut adalah sebagai staf di salah satu Rayon Kota Pekanbaru.

2. Pelatih Satuan Pengamanan PT. PAM

Beberapa bulan lalu tepatnya 9 Juli 2018, Densus 88 menggeledah rumah terduga teroris di Kemayoran, Jakarta Pusat. Petugas menemukan beberapa barang bukti berupa senjata api, senjata tajam dan beberapa buku dengan konten radikal. Selain itu, terduga teroris yang berinisial S ini juga terindikasi sebagai jaringan Jamaah Ansharut Daulah atau JAD.

Sehari-hari terduga teroris ini ternyata bekerja sebagai pelatih satuan pengamanan atau Satpam perusahaan pelayanan air minum PT. PAM Jaya. Tidak hanya sebagai pelatih satpam PT. PAM, terduga teroris berinisial S ini juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai sopir ojek online.

3. Pedagang Makanan

Warga Sukamaju, Cilodong, Depok dikagetkan kedatangan pasukan Densus 88 ke wilayah mereka dan menangkap lima orang terduga teroris pada 11 Juli 2018. Salah seorang yang ditangkap bernama Lukman. Sebelumnya Lukman bekerja di perusahaan Sanyo, tapi kemudian keluar dan memilih bekerja sebagai pedagang mi ayam.

Sementara seorang terduga teroris bernama Joko alias Abu Jalal ditangkap di Sleman pada 18 Juli 2018. Joko ditangkap di rumah makan ayam bakar miliknya di Jalan Perumnas, Condoongsari, Sleman, Yogyakarta. Rumah makan ayam bakar memang menjadi mata pencaharian utama Joko. Diduga Joko memiliki hubungan dengan jaringan JAD yang melakukan pengeboman di Surabaya.

4. Pengusaha Kerajinan Mebel

Pada 14 Juli 2018, seorang terduga teroris berinisial GR ditangkap di Jalan Kaliurang, Ngaglik, Kabupaten Sleman. Saat penangkapan, sempat terjadi baku tembak antara Densus 88 Antiteror dengan terduga teroris hingga akhirnya GR dapat dilumpuhkan.

Walaupun bisa menggunakan senjata api, GR sebenarnya bukanlah anggota militer. Sehari-hari GR bekerja sebagai pengrajin mebel dan telah membuka usaha milik dirinya sendiri sejak lima tahun lalu.

5. Dokter

Pada 13 Juni 2018, tim Densus 88 melakukan penangkapan terhadap tiga terduga teroris di Blitar, Jawa Timur. Salah satunya adalah seorang dokter berinisial NH.

NH tinggal dengan mengontrak sebuah rumah sejak tiga tahun yang lalu. Kepala Lingkungan Bajang, Blitar menyatakan bahwa NH termasuk warga yang jarang bergaul dengan tetangga. Selain itu, dokter NH juga pernah sekali waktu menggelar sebuah acara di rumah kontrakannya namun sepertinya acara tersebut merupakan acara eksklusif sehingga masyarakat umum tidak dapat masuk begitu saja. (Farhan Dzakwan)

KOMENTAR
500/500