Ilustrasi teroris bersenjata, Foto: Ist/Kriminologi.id

Mengenal Program Anti-Teror di 5 Negara, Singapura Paling Inovatif

Estimasi Baca:
Minggu, 20 Mei 2018 11:00:37 WIB
Dengan munculnya rangkaian serangan aksi teror di berbagai daerah belakangan ini, program pencegahan terorisme di Indonesia dipertanyakan keefektivitasannya. Bagaimana dengan program pencegahan terorisme di negara lain?

Kriminologi.id - Terorisme merupakan masalah global. Seluruh negara di dunia berusaha mengembangkan program-program pencegahan radikalisasi dan ekstremisme kekerasan dalam menanggapi masalah terorisme.

Di Indonesia, masalah terorisme kembali menyita perhatian masyarakat. Program deradikalisasi yang selama ini digaungkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pun menjadi sorotan utama. Dengan munculnya serangkaian serangan aksi teror yang terjadi belakangan ini, program tersebut dinilai belum efektif.

Kriminologi.id menelurusi berbagai program pencegahan radikalisasi dan ekstremisme di beberapa negara lain. Ternyata terdapat program-program yang dikembangkan di lima negara yang diakui berhasil berjalan efektif.

Merujuk pada sebuah artikel yang dikeluarkan European Institute of Peace, kelima negara tersebut antara lain Denmark, Belgia, Inggris Raya, dan Singapura. 

Melihat dari program yang dikembangkan di negara-negara tersebut, pencegahan bisa berjalan efektif ketika pemerintah melibatkan masyarakat sipil di dalamnya, dengan mengembangkan dialog-dialog positif. 

Menariknya, Singapura dikenal memiliki program yang inovatif di Asia, dengan programnya yang melibatkan para tahanan teroris. 

Berikut adalah program-program pencegahan radikalisme dan ekstremisme di lima negara tersebut:

1. The Aarhus Model, Denmark

Aarhus merupakan kota terbesar kedua di Denmark. Kota ini menjadi menarik pemerintahan Denmark ketika mengadopsi sebuah kebijakan untuk menghalangi anak muda bergabung dengan ISIS atau Alqaida. Kota Aarhus menawarkan layanan konseling dan mentoring khusus bagi mereka yang telah teradikalisasi, serta sebuah ‘exit programmes’ bagi mereka yang mendukung atau siap untuk melakukan tindakan kekerasan.

Model Aarhus berfokus pada rehabilitasi bagi pejuang yang telah kembali dari Suriah. Rehabilitasi yang dilakukan melibatkan orang tua, jaringan keluarga, pekerja sosial dan guru.

Model Aarhus berhasil karena program tersebut menciptakan kepercayaan antara otoritas dan lingkungan sosial di mana para ekstremis beroperasi. Model ini juga dianggap berhasil karena ‘exit programmes’-nya yang dirancang sebagai intervensi di tingkat mikro, yakni alih-alih memenjarakan, program ini justru menawarkan opsi pekerjaan bagi mereka yang ingin meninggalkan organisasi ekstremis.

Dengan adanya program ini, jumlah orang yang berangkat ke Suriah mengalami penurunan yang signifikan. Pada tahun 2013, terdata sebanyak 31 orang meninggalkan Aarhus untuk bertempur di Suriah. Namun, pada tahun 2014 hanya terdata 1 orang yang berangkat, sementara pada 2015 terdata 3 orang.

Ilustrasi keluarga terancam radikalisme. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id
Ilustrasi keluarga terancam radikalisme. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

2. The Mechelen Model, Belgia

Model pencegahan yang ada di kota Mechelen menjadi contoh lain bagaimana masyarakat dapat menghadapi radikalisasi. Dari semua negara Eropa, Belgia memiliki jumlah pejuang asing terbanyak. Mechelen merupakan kota multikultural dengan jumlah masyarakat Muslim yang besar, serupa dengan kota-kota di Belgia lainnya yang terlihat banyak anak muda pergi ke Suriah.

Namun, perbedaan Mechelen dengan kota lainnya adalah tidak ada anak mudanya yang pergi ke Suriah. Hal itu disadari karena sebuah program pencegahan yang ada di kota Mechelen. Kota ini mengadopsi sebuah pendekatan ‘integral’ dengan fokus yang kuat pada pencegahan, di mana penegakan hukum dan dialog komunitas berjalan beriringan.

Model Mechelen berhasil karena dialog-dialog yang ada mampu menciptakan kepercayaan yang besar di tengah masyarakat Mechelen. Selain itu, pihak pemerintah kota juga menekankan adanya program yang menumbuhkan ikatan sosial dan partisipasi anak muda dalam kegiatan-kegiatan kota, dengan mencoba menyelami dan menghargai setiap pemahaman dan kerja anak muda.

3. PREVENT Strategy, Inggris Raya

Strategi ini merupakan bagian dari kerangka kerja yang lebih luas dalam melawan kekerasan ekstremisme, yang dikenal sebagai CONTEST. 

Strategi ini didasarkan pada empat bidang: Pengejaran, untuk menghentikan serangan teroris; Pencegahan, untuk menghentikan orang menjadi teroris atau mendukung terorisme; Perlindungan, untuk memperkuat perlindungan dari serangan teroris; dan Persiapan, untuk mengurangi dampak serangan teroris.

Pencegahan difokuskan untuk menanggapi tantangan ideologis yang ditimbulkan terorisme dan ekstremisme, serta promosi keyakinan ekstremisme. Melalui keterlibatan dengan berbagai sektor, program ini bertujuan untuk menawarkan bantuan praktis kepada mereka yang paling rentan terhadap ideologi ekstremis. 

Selain itu, juga memberikan mereka saran dan dukungan, serta melibatkan mereka dalam kampanye berbasis komunitas, program bimbingan, dan pengembangan kapasitas diri.

Ilustrasi keluarga teroris. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id
Ilustrasi keluarga teroris. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

4. Exit to Enter, Jerman

Berbagai pendekatan dikembangkan di Jerman dengan fokus pada kelompok ekstremis sayap kanan. Salah satu program pentingnya adalah ‘Exit to Enter’, sebuah inisiatif yang membantu individu untuk meninggalkan kelompok yang terlalu kanan dengan menawarkan mereka peluang pelatihan atau pilihan pekerjaan. Pendekatan ini menawarkan gagasan bagaimana secara bertahap mengatasi faktor-faktor mendasar yang memungkinkan kelompok-kelompok ekstrem bisa berkembang.

Salah satu faktor keberhasilan program ini adalah pengakuan bahwa berurusan dengan ekstremisme juga perlu memperhitungkan faktor sosio-ekonomi. Para peserta program dapat menemukan cara untuk meninggalkan kelompok ekstremisme dan mereka dapat kembali menemukan pilihan untuk menjalani kehidupan yang ‘normal’ di luar ekstremisme.

Dari program ini terdapat temuan menarik. Banyak ekstremis, mayoritas berada usia sekitar 25 tahun, yang akhirnya merasa kecewa dan menyesal dengan jalan yang mereka tempuh ketika usia mereka lebih muda. 

5. Religious Rehabilitation Group, Singapura

Di Asia, Singapura disadari memiliki program pencegahan yang baik. Setelah penangkapan orang-orang yang dicurigai sebagai militant Jemaah Islamiyah, yang merencanakan serangkaian serangan terhadap kedutaan-kedutaan Barat dan kapal angkatan laut AS pada tahun 2002, pemerintah Singapura memulai inisiatif deradikalisasi skala besar.

Salah satu proyeknya dikenal sebagai Religious Rehabilitation Group, sebuah kelompok relawan yang terdiri dari para ulama dan guru Islam moderat yang menawarkan konseling agama untuk tahanan ekstremis dan keluarga mereka.

Tujuan dari program ini tidak sekadar bekerja dengan tahanan. Kelompok ini juga menantang pembacaan-pembacaan kekerasan dalam Islam dengan mengembangkan narasi kontra berdasarkan keilmuan Islam itu sendiri.

Program ini melibatkan para mantan radikal dalam proses pencegahan. Hal tersebut telah terbukti menjadi strategi yang efektif untuk menjangkau kaum muda yang berisiko terkena radikalisasi. Pendekatan yang diadopsi SIngapura ini disadari sebagai salah satu model inovatif di Asia. Terutama karena mereka juga membahas radikalisasi di penjara, sebuah masalah yang sering diabaikan pemerintah di seluruh dunia. Penjara telah menjadi ‘sarang panas’ untuk radikalisasi, di mana narapidana terpapar ideologi radikal dan upaya rekrutmen bisa terorganisir.

Infografik Program Anti Terorisme di Lima Negara Maju. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id
Infografik Program Anti Terorisme di Lima Negara Maju. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id
Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500