Ilustrasi maling dibakar. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Pencuri Dibakar Hidup-hidup, Kasus Amplifier Musala Curi Perhatian

Estimasi Baca:
Minggu, 25 Feb 2018 12:15:12 WIB

Kriminologi.id - Tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh masyarakat kembali terulang. Peristiwa terkini adalah kasus yang menimpa Julkifli (22) pada Selasa, 20 Februari 2018. Lantaran kepergok melakukan pencurian kambing milik warga, Julkifli dengan nahas tewas dihakimi oleh warga setempat dengan cara dibakar di tengah lapangan sepak bola, di Desa Tangga Baru, Bima, Nusa Tenggara Barat.

Peristiwa yang terjadi di siang hari itu berawal ketika sejumlah warga memergoki Julkifli dan rekannya Mahmud yang menggunakan sepeda motor mencuri kambing milik warga yang lepas. Saat berusaha kabur, Julkifli berhasil ditangkap kemudian diseret ke lapangan sepak bola dan setelah dihajar lalu dibakar beserta sepeda motornya hingga tewas.

Sedangkan Mahmud yang sempat lolos dari kejaran massa, berhasil ditangkap dan dikeroyok hingga kritis.

Baca: Curi Kambing Berujung Maut, Pemuda Tewas Dibakar Warga

Sungguh miris melihat berulangnya aksi main hakim sendiri yang dilakukan masyarakat. Apa pun bentuk dan alasannya, aksi main hakim sendiri jelas tidak bisa dibenarkan karena itu juga adalah bentuk kekerasan dan penganiayaan. Pasalnya, di negara hukum sudah ada pihak yang berwenang untuk melakukan penindakan terhadap pelaku kriminal, yakni kepolisian.

Peran masyarakat adalah membantu penegak hukum dengan mengamankan dan melaporkan ke pihak berwenang ketika ditemukan pelaku kriminal di daerahnya. Sehingga aksi main hakim sendiri itu tidak sesuai dengan hukum. .

Aksi main hakim sendiri tidak sesuai dengan hukum karena di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP sudah diatur pasal mengenai kekerasan dan penganiayaan, yakin pasal 170 dan 351. Merujuk pada kedua pasal itu, sanksi terberat yang dapat diterima adalah pidana penjara selama 12 tahun.

Pasal 170 KUHP yang mengatur tentang kekerasan menyebutkan bahwa: 

(1) Barangsiapa secara terang-terangan dan secara bersama-sama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

(2) Yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun, bila ia dengan sengaja menghancurkan barang atau bilang kekerasan yang digunakan itu mengakibatkan luka-luka; dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun, bila kekerasan itu mengakibatkan luka berat; dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun, bila kekerasan itu mengakibatkan kematian.

Selain itu, dalam pasal 351 KUHP yang mengatur tentang penganiayaan juga menyebutkan, (1) penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan; (2) bila perbuatan itu mengakibatkan luka berat, maka yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun; dan (3) bila perbuatan itu mengakibatkan kematian, maka yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Baca: Kepergok Cabuli Bocah 5 Tahun, PHL Kemenkes Tewas Dikeroyok

	Infografik 5 kasus pencuri yang tewas dibakar massa. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Melihat fenomena aksi main hakim sendiri itu, penelusuran Kriminologi menunjukkan bahwa pembakaran terhadap pelaku kriminal oleh masyarakat sudah beberapa kali terjadi. Berikut adalah beberapa kasus serupa yang berhasil dirangkum Kriminologi:

1. Curi Amplifier Musala, Zoya Dibakar Masa

Muhammad Al Zahra alias Zoya (30) menjadi sasaran kemarahan massa yang menuduhnya sebagai pencuri amplifier milik Musala Al Hidayah di Desa Muara Bakti, Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Ia dikeroyok lalu dibakar hidup-hidup hingga tewas pada 1 Agustus 2017.

Kasus ini mencuri perhatian publik tak hanya di Indonesia tetapi hingga mancanegara. Beragam komentar muncul mengecam kekejian pelaku pengeroyokan dan pembakaran Zoya. 

Kejadian miris itu bermula ketika marbot Musala Al Hidayah, Rojali menyaksikan amplifier milik musala tidak berada di tempat biasanya. Lalu ia mengejar Zoya, pria yang ia ketahui baru saja meninggalkan musala. Saat memeriksa tas Zoya itulah, Rojali menemukan amplifier milik Musala.

Rojali telanjur berteriak hingga mengundang banyak orang datang menghampiri dan melakukan pengeroyokan terhadap Zoya. Tak hanya dikeroyok, Zoya juga disiram bensin lalu dibakar hingga meregang nyawa.

Kepolisian pun mengusut tindakan main hakim sendiri ini. Pelaku pengeroyokan dan pembakaran telah ditangkap dan diproses hukum. Sementara Rojali sebagai saksi kunci meyakini bahwa amplifier yang berada di tas Zoya adalah milik Musala. Hal itu diperkuat dengan kuitansi pembelian yang memuat kode produksi yang serupa dengan yang tertera pada amplifier tersebut.

Hingga akhirnya pihak kepolisian menyusun kesimpulan jika Zoya terduga keras pelaku pencurian amplifier tersebut. Namun karena Zoya telah tewas, kepolisian tidak bisa menyimpulkan lebih lanjut motifnya melakukan pencurian itu.

"Penyidik sudah menyusun kesimpulan bahwa saudara MA terduga keras melakukan aksi pencurian tersebut," kata Kombes Pol Asep Adisaputra yang menjabat Kapolres Metro Bekasi kala itu saat memberikan rilis pengungkapan kasus tersebut.

2. Pencuri Toko Dibakar di Pamekasan (2017)

Di Desa Karangan Badung, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, seorang pencuri toko dibakar hidup-hidup oleh warga setempat pada 22 Mei 2017. Warga yang berhasil menangkap pencuri itu langsung mengikat dan membakarnya hidup-hidup.

Beruntung pihak kepolisian segera datang ke tempat kejadian perkara sehingga tindak main hakim sendiri tersebut tidak berujung pada tewasnya pelaku pencurian. Diketahui pencuri tersebut hanya mengalami luka bakar di bagian kakinya.

3. Dua Pencuri Dibakar Warga di Bangkalan (2015)

Dua pencuri sapi bernama Nasir (30) dan Bahri (35) dibakar oleh warga hingga tewas di Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Peristiwa itu terjadi Selasa malam, 4 Agustus 2015.

Tempat kejadian perkara diketahui di Desa Karang Gayam, Kecamatan Blega, yang kabarnya memang sering menjadi sasaran pencurian sepeda motor dan hewan ternak. Lantaran seringnya terjadi kasus pencurian itu, warga menjadi tidak sabar dan ketika ada maling tertangkap mereka langsung main hakim sendiri dengan membakarnya hidup-hidup.

4. Begal Tewas Dibakar Warga di Tangerang (2015)

Seoarang begal berinisial H (21) tewas setelah dibakar hidup-hidup oleh warga yang menangkapnya. Peristiwa itu terjadi pada Selasa dini hari, 24 Februari 2015, di Pondok Jaya, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan. Diketahui H tidak melakukan aksinya sendirian, melainkan bersama tiga rekan lainnya.

Peristiwa ini berawal ketika Wahyu Hidayat dan Sri Astriani yang sedang dalam perjalanan tiba-tiba dipepet oleh para pelaku, lalu membacok Sri di bagian tangannya. Karena Wahyu dan Sri melakukan perlawanan dengan berteriak, ratusan warga mendengarnya dan langsung mengepung keempat pelaku.

Akhirnya, satu pelaku yaitu H berhasil ditangkap dan menjadi bulan-bulanan warga. H babak belur dikeroyok dan tewas setelah warga membakarnya hidup-hidup.

Baca: Persekusi dan Menurunnya Tingkat Kepercayaan Pada Polisi

5. Pencuri Sepeda Motor Dibakar di Karawang (2014)

Minggu, 13 Juli 2014, puluhan warga Citarik, Tirtamulya, Karawang, Jawa Barat, membakar hidup-hidup seorang pelaku pencurian sepeda motor hingga tewas. Aksi main hakim sendiri itu terjadi lantaran warga sudah emosi dengan aksi pencurian yang semakin marak terjadi di wilayah tersebut saat itu.

Peristiwa sadis itu berawal saat ada tiga pencuri yang menerobos masuk ke rumah salah satu warga dan mengincar sebuah sepeda motor yang diparkir di teras rumah itu. Namun, aksi ketiga pelaku dipergoki oleh pemilik rumah dengan langsung berteriak dan mengejar pelaku yang berusaha kabur.

Sejumlah warga pun langsung mengepung kampung itu. Beberapa warga yang kepalang emosi langsung menyiramkan bensin ke tubuh salah satu pelaku dan kemudian membakarnya hidup-hidup hingga tewas di lokasi kejadian.

6. Remaja di Magelang Tewas Dibakar Usai Kepergok Mencuri (2012)

Bima, remaja berumur 16 tahun warga Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang kepergok mencuri dompet berisi uang Rp 25 ribu dianiaya hingga tewas oleh 11 orang warga. Peristiwa nahas itu terjadi pada Rabu, 29 Agustus 2012.

Bima diseret secara beramai-ramai lalu diikat di tiang listrik oleh warga. Setelah itu, sejumlah warga mengeroyok Bima dengan menendang dan mencambuknya. Sadisnya, tindakan penganiayaan yang dilakukan tidak berhenti sampai situ, warga juga membakar Bima hidup-hidup hingga tewas. RZ

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500