Ilustrasi Penyiraman Air Keras. Ilustrasi: Kriminologi.id

Penyiram Air Keras ke Kamtibmas Ditangkap, Kasus Novel Menggantung?

Estimasi Baca:
Sabtu, 9 Jun 2018 07:15:21 WIB

Kriminologi.id - Penyiram air keras terhadap anggota Kelompok Sadar (Pokdar) Kamtibmas Jatinegara, Jakarta Timur, Daniel Ksatria ditangkap tak lama dari kejadian,  Minggu,  3 Juni 2018 pagi, tak lama setelah kejadian.

Adalah Muhammad Sahrul (19), pelaku penyiraman air keras yang mengaku diperintah seniornya. Kasus penyiraman air keras ini mengingatkan pada peristiwa yang menimpa Novel Baswedan, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hanya saja, kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel masih menggantung. Hingga saat ini polisi belum bisa menangkap siapa pelaku penyiraman air keras terhadap Novel tersebut. 

Daniel Ksatria, seorang anggota Kelompok Sadar (Pokdar) Kamtibnas Jatinegara yang menjadi korban penyiraman air keras pada kegiatan Sahur On The Road (SOTR) di Jalan Otista Raya, Jakarta Timur.

Aksi penyiraman air keras itu berawal ketika korban bersama anggota Pokdar lainnya sedang memantau situasi di Jalan Otista Raya mendatangi sebuah kelompok anak muda bernama Bhazack yang tiba-tiba berhenti di pinggir jalan.

Maksud hati memastikan tidak ada peristiwa tawuran, Daniel yang saat itu berada di depan langsung disiram air keras yang disimpan di dalam botol oleh pelaku. 

Setelah aksi penyiraman itu, para peserta SOTR langsung melarikan diri. Pelaku penyiraman Muhammad Sahrul berhasil dibekuk jajaran Polres Metro Jakarta Timur pada Minggu malam, 3 Juni 2018, tak lama setelah kejadian.

Akibat siraman air keras, anggota Pokdar berusia 27 tahun itu mengalami luka bakar di bagian wajah, leher dan tangannya.

Aksi penyiraman air keras diketahui sudah beberapa kali terjadi. Cara yang mudah dan efeknya yang fatal membuat beberapa orang memilih menggunakan air keras sebagai alat untuk melakukan penyerangan.

Aksi penyiraman ini mengingatkan kita pada salah satu kasus masih heboh hingga kini, yakni penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Seperti yang diketahui, kasus yang menimpa Novel ini terjadi di dekat rumahnya, Jalan Deposito RT 003/RW 010, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 11 April 2017, usai salat subuh. Akibat penyiraman air keras itu, Novel mengalami luka bakar serius pada wajah dan mata kirinya.

Hingga kini kasus tersebut masih terus bergulir, namun kepolisian belum berhasil menangkap pelaku penyerangan meskipun telah merilis dua sketsa wajah terduga pelaku. Akibatnya, kasus ini pun masih menggantung.

Desakan untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pun datang dari masyarakat guna menyelesaikan kasus ini.

Kasus Penyiraman Air Keras Lainnya

Selain dua kasus di atas, ternyata sudah banyak terjadi kasus penyiraman air keras terjadi. Bahkan, ada juga kasus yang berujung pada kematian sang korban. Berikut Kriminologi.id rangkum beberapa kasus lainnya:

1. Mahasiswi Disiram Air Keras Oleh Kekasihnya

Heboh kasus penyiraman air keras pernah terjadi di tahun 2013. Seorang mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus) bernama Lynia Davega (19) disiram air keras oleh mantan kekasihnya sendiri, Riki Halim Levin (23), karena masalah cemburu.

Aksi penyiraman dilakukan di sebuah rumah indekos di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, pada Kamis 3 Oktober 2013. Akibatnya, Lynia harus menjalani perawatan luka bakar serius pada mukanya.

2. Artis Kafe di Bandung Disiram Orang Tak Dikenal

Seorang penyanyi kafe di bandung, Intan Novrita (22), tiba-tiba disiram air keras oleh orang tak dikenal. Peristiwa itu terjadi di Jalan Ciwastra, Kelurahan Margasari, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung, hanya berjarak beberapa meter dari Buah Batu, pada Rabu petang, 26 Oktober 2016.

Akibat penyerangan dengan air keras tersebut, wajah dan sebagian tubuh Intan mengalami luka bakar yang cukup parah.

3. Pemandu Lagu Disiram Air Keras Oleh Pacarnya

Pemandu lagu  bernama Dian Wulansari (24) alias Citra Rey, warga Dusun Kemlagitimur, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, disiram air keras oleh pacarnya sendiri bernama Lamaji (39) pada Minggu, 5 Maret 2017.

Motifnya adalah cemburu lantaran pelaku melihat korban bersama lelaki lain.

Akibatnya, wanita berprofesi sebagai pemandu lagu itu mengalami luka bakar sekitar 60 persen di bagian muka, dada dan tangannya. Dian akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit dr Soetomo, Surabaya, selama satu bulan.

Berulangnya peristiwa penyerangan menggunakan air keras ini menimbulkan pertanyaan kenapa air keras mudah diperoleh? Mengingat dampak cidera yang ditimbulkannya bisa berakibat fatal.

	Infografik regulasi longgar sebabkan maraknya penyalahgunaan air keras. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Air keras sendiri merupakan larutan asam kuat yang berwarna cukup pekat, dan bila mengenai kulit akan menyebabkan panas, nyeri hebat, hingga luka bakar.

Sementara menghirup air keras pekat juga dapat menyebabkan kerusakan pada mata, usus dan juga pernapasan.

Beberapa larutan asam kuat yang termasuk ke dalam golongan air keras, antara lain asam sulfat, asam klorida, asam fosfat, dan asam nitrat. Kegunaannya pun beragam, mulai dari sebagai bahan baku untuk pembuatan pupuk hingga bahan peledak.

Secara teoretis, air keras dikategorikan sebagai bahan berbahaya atau biasa disebut B2, di mana penjualan dan peredarannya dibatasi oleh pemerintah. Regulasi terkait air keras tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 75 Tahun 2014, yang mengatur perihal produksi, penjualan, dan peredaran bahan berbahaya.

Merujuk pada Pasal 1 Permendag tersebut, hanya pihak-pihak tertentu dan sudah memiliki izin yang boleh memproduksi, menjual, dan mengedarkan B2.

Untuk produsen B2 (P-B2) wajib mempunyai Izin Usaha Industri dari instansi yang berwenang. Sementara distributor terdaftar (DT-B2) wajib memiliki izin usaha perdagangan khusus dari Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen PDN).

Selain itu, diatur juga mengenai pihak pengecer. Pasal 1 ayat 8 menjelaskan bahwa pengecer adalah perusahaan yang ditunjuk oleh produsen dan/atau distributor B2 dan mendapatkan izin usaha perdagangan khusus B2 dari Gubernur, dalam hal ini Kepala Dinas Provinsi untuk menjual B2 kepada pengguna akhir (PA-B2).

Lebih jauh lagi, diatur pula yang dimaksud dengan pengguna akhir adalah perusahaan industri dan badan usaha atau lembaga yang memiliki izin dari instansi yang berwenang.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa hanya pihak-pihak tertentu saja yang memiliki wewenang untuk memproduksi hingga menggunakan air keras, sebagai bahan kimia berbahaya, jika merujuk pada regulasi yang ada.

Namun, dalam praktiknya, regulasi tersebut terkesan longgar. Hal ini sempat diungkapkan oleh Kepala Dinas UMKM dan Perdagangan DKI Jakarta saat mengomentari kasus penyerangan Novel Baswedan.

Irwandi mengungkapkan bahwa penjualan air keras di Jakarta beredar dengan mudah di tangan para pengecer. Bahkan ia mengatakan sudah di tahap kebablasan, contohnya pengecer dengan mudahnya menjual air keras ke tukang las dan reklame, sehingga pembeliannya bisa bebas.

Hal itu disadari juga karena di Jakarta sendiri belum ada peraturan gubernur (pergub) yang secara khusus mengatur tentang penjualan atau peredaran air keras dan bahan berbahaya lainnya.

Selain itu, kembali ke Permendag No. 75/2014, sanksi yang diberikan terhadap pelanggaran ketentuan regulasi masih sebatas sanksi administratif, yakni pencabutan izin usaha.

Tidak diaturnya sanksi pidana terhadap pelanggar dapat membuat regulasi pengetatan peredaran bahan kimia berbahaya kurang dianggap serius.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500