Oknum polisi aniaya pencuri wanita di Pangkalpinang. Foto: Ist/Kriminologi.id

Perwira Polisi Dicopot karena Kekerasan, AKBP M Yusuf Tak Sendiri

Estimasi Baca:
Minggu, 15 Jul 2018 15:05:22 WIB

Kriminologi.id - Sejak dilantik sebagai Kapolri pada Juli 2016 silam, Jenderal Tito Karnavian terkenal dengan tangan dinginnya dalam melakukan perombakan di tubuh Polri. Tito tidak segan-segan mencopot anggotanya jika melakukan kesalahan. 

Seperti pencopotan AKBP M Yusuf karena kasus kekerasan yang dilakukannya beberapa waktu yang lalu. Ternyata, ini bukanlah perwira Polri pertama yang dicopot karena kasus kekerasan di era Jenderal Tito Karnavian. 

Pencopotan itu bermula dari video beredar viral di media sosial yang menampilkan aksi seorang pria memakai baju oranye bertuliskan Polisi sedang menendang seorang ibu yang tengah duduk di lantai sebuah minimarket.

Belakangan diketahui bahwa aksi tersebut dilakukan oleh seorang perwira menengah di Polda Kepulauan Bangka Belitung bernama AKBP M Yusuf. Aksi itu dilakukan terhadap ibu, bernama Desy, yang tertangkap mencuri di minimarket miliknya yang bernama APRIMART, Rabu, 11 Juli 2018, sekitar pukul 19.00 WIB.

Selain Desy, korban lainnya adalah Atmi yang juga mengalami penganiayaan. AR anak laki-laki Desy yang masih berusia 12 tahun juga mengalami pemukulan. Dua hari setelah peristiwa itu, turun Surat Telegram bernomor ST/1786/VII/2018 dari Kapolda Kepulauan Bangka Belitung yang menjelaskan mutasi AKBP M Yusuf dari jabatan Kasubdit Kilas Ditpamobvit Polda Kepulauan Bangka Belitung menjadi Pamen Yanma Polda Kepulauan Bangka Belitung.

Penelusuran Kriminologi.id, AKBP M Yusuf ternyata bukan perwira polisi yang pertama kali dicopot karena kasus kekerasan yang dilakukannya. Adalah Kombes Ekotrio Budhiniar dan Kombes Krishna Murti, dua perwira Polri yang sudah terlebih dahulu merasakan tangan dingin Jenderal Tito.

Masih lekat diingatan kita kasus penganiayaan yang dilakukan Kombes Ekotrio Budhiniar terhadap 7 anggotanya menggunakan helm baja di Pusdikmin Lemdikpol di Soreang, Bandung, sebulan yang lalu.

Penganiayaan yang terjadi pada 26 Juni 2018 itu berawal dari masalah sepele. Saat itu, Kombes Ekotrio yang hendak memasuki lingkungan Pusdik terhalang mobilnya oleh sebuah mobil boks katering.

Sebenarnya, petugas pos sudah menyuruh mobil boks tersebut untuk mundur dan memberi jalan kendaraan Kombes Ekotrio. Namun, Kombes Ekotrio justru turun dan memarahi petugas pos dan memukuli petugas piket tersebut menggunakan helm yang ada di meja piket.

Tidak berhenti di situ, Kombes Ekotrio juga meminta agar semua anggota yang bertuga piket untuk berkumpul. Ketika semua anggota telah berkumpul, Kombes Ekotrio lanjut melampiaskan amarahnya dengan memukulkan helm baja ke kepala ketujuh anggotanya secara bergantian.

Merespon tindakan tak terpuji itu, Jenderal Tito secara tegas mencopot perwira menegah kepolisian itu dari jabatannya sebagai Kepala Pusat Pendidikan Administrasi (Kapusdikmin) Lembaga Pendidikan Polri (Lemdikpol) Polri. Mutasi jabatan tersebut tertera dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1572/VI/KEP/2018.

Dua tahun yang lalu, Jenderal Tito juga memutuskan untuk mencopot Kombes Krishna Murti dari jabatannya sebagai Wakil Kepala Kepolisian Daerah Lampung, juga karena kasus kekerasan.

Sebelum pencopotan itu, mencuat sebuah isu penganiyaan yang melibatkan mantan pejabat Polda Metro Jaya itu. Isu penganiyaan tersebut berawal dari adanya cuplikan layar di sebuah pemberitaan media yang menyebut Kombes Krishna diduga melakukan penganiyaan.

Bersamaan dengan pemberitaan itu, juga beredar dua foto yang terkait. Foto pertama menunjukkan seorang perempuan yang terluka pada bagian wajahnya. Sementara foto lainnya menunjukkan seorang perempuan yang sedang bersama mantan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya tersebut.

Menyusul pemberitaan penganiayaan tersebut, Jenderal Tito bertindak tegas dengan mencopot Kombes Krishna dari jabatannya. Hal ini pun dikonfirmasi oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigadir Jenderal Agus Rianto, yang menyatakan pencopotan ini salah satunya terkait isu penganiyaan yang beredar.

Keputusan itu terdapat dalam Surat Telegram Kapolri dengan nomor ST/2325/IX/2016 yang menjelaskan bahwa perwira menengah Polri tersebut dimutasi kembali ke Divisi Hubungan Internasional, dari yang sebelumnya sebagai Wakapolda Lampung. AS

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500