Ilustrasi Kekerasan Anak, Foto: Pixabay.com

Potret Kelam Awal Tahun, 9 Anak Tewas di Tangan Ibu Kandung

Estimasi Baca:
Sabtu, 31 Mar 2018 09:05:14 WIB

Kriminologi.id - Setidaknya terdapat 9 anak yang tewas di tangan ibu kandungnya sendiri sejak awal tahun 2018. Kasus yang terbaru yang menyita perhatian publik adalah bayi Calista yang menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang pada 25 Maret 2018. Ia dianiaya oleh ibunya sendiri dengan alasan tak mampu menjalani hidup sendiri usai berpisah dengan suaminya.

Dokter yang menangani Calista menemukan bekas cubitan, pukulan, dan bekas sundutan rokok di sekujur tubuh bayi tersebut. Selain itu, dokter juga menemukan luka parah di kepala bagian belakang bayi Calista.

Mencium adanya keanehan, pihak rumah sakit akhirnya melaporkan ke polisi terkait masalah ini. Walaupun sempat mengelak, ibu kandung Calista mengaku telah melakukan penganiayaan terhadap bayinya sejak Februari 2018. Terakhir dia membanting bayi Calista ke tembok hingga harus dibawa ke rumah sakit.

Infografik Potret Kelam Kekerasan Anak oleh Ibu Kandungnya. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Tidak hanya Calista yang tewas di tangan ibu kandung. Menurut penelusuran Kiminologi.id setidaknya ada 8 anak yang tewas di tangan ibu kandung dalam 3 bulan terakhir sejak Januari 2018.

1. Tiga Anak Tewas Diracun Ibu Kandung

Ketiga anak Evi Sulastin tewas karena diracun ibu kandungnya sendiri. Pada awalnya, Evi berniat bunuh diri dengan ketiga anaknya tersebut. Alasannya diduga karena depresi berat setelah ditinggal oleh suaminya.

Pada 15 Januari 2018, Evi meminumkan racun serangga kepada ketiga anaknya dan kemudian Evi juga meminum racun tersebut. Evi dan ketiga anaknya sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, sayangnya hanya Evi yang dapat diselamatkan.

2. Clarita Tewas Disekap Ibu Kandung

Clarita, seorang anak berusia 9 tahun harus meregang nyawa akibat ulah sadis ibu kandungnya sendiri. Clarita kerap disiksa oleh ibu kandungnya sejak September 2017.

Ibunya sempat menyekap Clarita tanpa diberi makanan dan bahkan Clarita pernah ditinggal di luar rumah hanya ditemani boneka kecil, padahal kondisi sedang hujan dan suhu di Jayawijaya sangat dingin.

Clarita juga tidak diizinkan menemui saudara-saudara yang lain dan juga dilarang pergi ke sekolah. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, penyebab kematian Clarita pada 21 Januari 2018 adalah banyaknya luka-luka yang diderita Clarita. Hasil visum juga menunjukkan bahwa di tubuh Clarita terdapat bekas sundutan rokok dan juga adanya luka bakar yang kemungkinan besar disebabkan karena air panas.

Clarita diduga menjadi tempat pelampiasan ibunya karena kesal kepada ayah korban. Ibu Clarita sudah bercerai dengan ayah Clarita dan ibunya sudah menikah lagi dan tengah hamil dengan suami keduanya.

3. Balita Tewas Ditutup Bantal Ibunya

Seorang balita tewas karena mukanya ditutup bantal oleh ibu kandungnya sendiri. Peristiwa ini terungkap dari ibu mertua yang mencurigai kabar hilangnya sang cucu.

Kabar hilangnya balita tersebut rupanya telah menyebar ke seluruh sanak saudara dan juga warga sekitar. Hingga akhirnya bersama-sama mereka mencari balita tersebut.

Kecurigaan warga pun mengarah pada rumah Nur Saskia Wati yang tak lain adalah ibu korban itu sendiri. Warga menemukan rumah mamah muda tersebut dalam keadaan terkunci dari luar. Ibu mertua pelaku membuka paksa kunci gembok dari luar itu kemudian masuk ke dalam rumah.

Saat berada di dalam rumah, ia terkejut karena menemukan cucunya dalam kondisi meninggal dunia. Menurut pengakuan Nur Siska, dia mendapatkan bisikan yang terus membayang-bayanginya untuk menghabisi nyawa buah hatinya sendiri pada Februari 2018.

Suami Nur Siska kala itu tidak berada di rumah dikarenakan sedang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

4. Ibu Racun 3 Anaknya di Bali

Serupa dengan peristiwa di Jombang, Jawa Timur, seorang Ibu tega meminumkan racun serangga kepada 3 buah hatinya. Setelah meracuni ketiga anaknya hingga tewas, Ni Luh Putu Septiyani yang berusia 33 tahun itu sempat melakukan percobaan bunuh diri dengan menyayat tangannya.

Pada 20 Februari 2018, Ni Luh mengajak seluruh anaknya untuk menginap di rumah orang tuanya yang berada di daerah Sukawati, kabupaten Gianyar, Bali. Walaupun sempat diajak pulang suaminya, Ni Luh berkeras untuk tetap tinggal di rumah tersebut bersama anak-anaknya.

Malam harinya adik ipar menemukan Ni Luh bersimbah darah sehingga Ni Luh dan anak-anaknya segera dilarikan ke rumah sakit. Sayangnya nyawa ketiga anaknya tidak tertolong dan Ni Luh masih bisa diselamatkan walaupun dalam kondisi kritis. Alasan Ni Luh juga masih belum jelas mengapa dengan teganya menghabisi nyawa ketiga anaknya.

Kelima peristiwa yang mengakibatkan tewasnya 9 anak di tangan ibu kandungnya sendiri dalam 3 bulan terakhir ini menjadi potret kelam fenomena kekerasan yang terjadi pada anak. Seharusnya rumah dan keluarga adalah tempat yang aman dan nyaman bagi anak. Seharusnya keluarga dapat memberikan yang terbaik bagi tumbuh kembang anak. AS

KOMENTAR
500/500