Ilustrasi penderita sakit jiwa, Foto: Pixabay.com

Rentetan Aksi Orang dengan Gangguan Jiwa Serang Polisi

Estimasi Baca:
Minggu, 18 Feb 2018 12:05:32 WIB

Kriminologi.id - Sejumlah kasus penyerangan yang dilakukan oleh orang dengan gangguan jiwa kembali terjadi di tahun 2018. Pada 28 Januari 2018, KH Umar Basri, seorang ulama yang merupakan pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah mengalami penyerangan fisik saat berada di dalam Masjid Al Hidayah, Cicalengka, Bandung, Jawa Barat.

Pelaku penyerangan yang bernama Asep oleh polisi disebut mengalami gangguan kejiwaan. Polisi mendapati keterangan dari keluarga yang menyebut Asep telah mengalami gangguan jiwa sejak berusia 25 tahun.

Tahun 2017, seorang pria yang belakangan diketahui mengalami gangguan kejiwaan berusaha menerobos Istana Kepresidenan di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, pada 13 November 2017. Pria bernama Basulfi Tarsiwan itu juga menyerang petugas yang berjada di pagar Istana.

Sebelum Basulfi, seorang pria bernama Brockington Sianturi juga berusaha menerobos pagar Istana Kepresidenan pada Senin pagi, 28 Agustus 2017 dan melakukan perlawanan ketika diamankan oleh petugas Paspampres penjaga Istana.

Aksi nekat itu dilakukan Brockington dengan berlari bugil dari arah seberang Istana. Polisi yang melakukan pemeriksaan kemudian mengatakan pelaku mengalami gangguan kejiwaan akibat stres persaingan usaha.

Baca: KH Umar Basri Ternyata Dianiaya Orang Gila, Polisi: Pelaku Stres Berat

	Infografik deretan penyerangan polisi oleh pengidap gangguan jiwa. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Aksi penyerangan yang dilakukan orang dengan gangguan jiwa ini tidak pandang bulu dalam memilih sasaran. Kriminologi menelusuri sejumlah kasus penyerangan yang dilakukan orang dengan gangguan jiwa itu. Ada enam kasus yang terjadi sepanjang 2017. Berikut rentetan peristiwanya:

23 Mei 2017

Seorang anggota Polsek Teweh Tengah, Barito Utara, Kalimantan Tengah dibacok oleh seorang laki-laki saat hendak menunaikan salat dhuhur di Masjid Baiturrahman . Korban terkena tebasan parang dibagian telinga.

Pelaku dikabarkan baru saja keluar dari Rumah Sakit Jiwa di daerah Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sebelumnya, pelaku mengamuk di rumahnya dan kemudian berlanjut di masjid tersebut.

27 Juni 2017

Anggota Brimob Kepolisian Daerah Jawa Tengah mengamankan seorang laki-laki berjenggot yang kepergok sedang memanjat pagar belakang markas Polda Jawa Tengah.  Saat diamankan, pelaku ternyata membawa pisau dapur dan cutter di dalam tasnya. Selain itu juga ditemukan dua buah Kartu Tanda Penduduk di dalam tas tersebut.

Setelah dilakukan penyelidikan dan observasi pelaku di Rumah Sakit Jiwa Amino Gondhutomo Semarang, pelaku terindikasi mengalami gangguan kejiwaan. Sehingga penanganan selanjutnya adalah mengirim pelaku ke Rumah Sakit Jiwa untuk menjalani pemeriksaan lanjutan dan pengobatan.

10 Agustus 2017

Seorang anggota tentara mengamuk di tengah jalan di daerah Pekanbaru, Riau. Saat mengamuk, pelaku memukul anggota polisi lalu lintas yang tengah bertugas. Diketahui bahwa anggota tentara tersebut adalah Bintara dengan pangkat Sersan Dua dan bertugas Korem Pekanbaru.

Menurut penuturan Kapendam I Bukit Barisan yaitu Kolonel Edi Hartono, pelaku memang mengalami gangguan kejiwaan. Beberapa kali pelaku tidak masuk kerja dan ketika apel, pelaku tidak menggunakan seragam sebagaimana mestinya. Sehingga rekan-rekan pelaku dan polisi memaklumi tindakannya tersebut.

Baca: Bongkar Modus Gila Penganiayaan Ulama, Kata Hidayat Nur Wahid

28 September 2017

Seorang laki-laki tidak dikenal tiba-tiba masuk ke kantor Kepolisian Resor Purbalingga, Jawa Tengah. Laki-laki tersebut langsung menyerang seorang anggota polisi di ruang penjagaan. Pelaku merangsek maju dan mencekik petugas tersebut. Ketika melakukan aksinya, pelaku juga meneriakkan umpatan dan kata-kata kotor.

Bripka Sokhimun yang menjadi korban serangan laki-laki tersebut berusaha mempertahankan diri, hingga akhirnya datang rekannya dan membantu meringkus pelaku. Saat dimintai keterangan oleh petugas, pelaku kebingungan dan melantur dalam menjawab pertanyaan yang diajukan. Sehingga muncul dugaan bahwa pelaku mengidap gangguan kejiwaan.

Akhirnya tetangga dan ketua RT tempat pelaku tinggal mengkonfirmasi dugaan tersebut. Pelaku memang dikenal warga sebagai seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan.

14 November 2017

Seorang pria lagi-lagi menerobos pos polisi yang ada di Plaza Wonosobo, Jawa Tengah. Pelaku masuk sembari berteriak adan mengacungkan pisau kepada polisi yang sedang berjaga di pos polisi tersebut.

Pelaku meminta helm kepada anggota polisi tersebut dan setelah diberikan helm, pelaku pergi meninggalkan pos polisi. Setelah ditangkap dan dilakukan pemeriksaan ternyata pelaku pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Magelang.

30 November 2017

Seorang polisi lalu lintas yang tengah bertugas diserang oleh seorang pria tidak dikenal. Saat itu, Bripka Noor Ampiyanto sedang mengatur arus lalu lintas di Simpang Tiga Jalan Urip Sumoharjo.

Bripka Noor mencurigai pelaku karena tengah menuntun sepeda motor dan berjalan dengan menenteng-nenteng besi di tangannya. Akhirnya pelaku diberhentikan dan ditanyai perihal surat-surat kendaraan serta kepemilikan motor tersebut. Akan tetapi, pelaku mengacungkan besi yang dipegangnya ke arah Bripka Noor.

Sebenarnya Bripka Noor berhasil mengunci dan menahan pergerakan pelaku, tetapi tanpa diduga-duga pelaku mencabut pisau dan langsung menyabetkannya ke leher Bripka Noor.

Walaupun sempat terjatuh, namun Bripka Noor kemudian berhasil melumpuhkan pelaku. Menurut penuturan polisi, rupanya pelaku memiliki catatan mengalami gangguan kejiwaan. Hal ini diperkuat dengan pihak keluarga yang datang dengan membawa surat keterangan dokter.

Baca: Kasus Tanita Felycia, RSJ: Kartu Kuning Belum Tentu Gangguan Jiwa

Begitu banyaknya aksi penyerangan yang dilakukan oleh orang dengan gangguan kejiwaan harus mendapatkan perhatian secara khusus. Apakah penanganan oleh pihak keluarga ataupun pemerintah telah efektif terhadap penderita gangguan kejiwaan?

Menjadi pekerjaan rumah selanjutnya bagi pihak RS Jiwa yang untuk memperketat dan mengevaluasi kembali kondisi kesembuhan pasien-pasiennya. Jangan sampai keberadaan pasien-pasien ini selanjutnya justru malah membahayakan orang lain dan orang-orang yang ada di sekitarnya. RZ

KOMENTAR
500/500