Ilustrasi Mayat, Foto: Pixabay.com

Selain Mayat Gosong di Karawang, Ini Kasus Mutilasi Selama 2017

Estimasi Baca:
Selasa, 12 Des 2017 05:00:18 WIB

Kriminologi.id - Korban pembunuhan dan mutilasi yang ditemukan oleh warga Dusun Ciranggon, Majalaya, Karawang, Jawa Barat pada 7 Desember 2017 belum menemui titik terang. Mayat korban yang ditemukan dalam kondisi terbakar, tanpa kepala, dan bagian kaki dari lutut ke bawah juga menghilang. Ini menyulitkan tim forensik untuk mengidentifikasi identitas korban, sebab sidik jari korban juga telah rusak akibat pembakaran.

Pembunuhan disertai mutilasi ini memang sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Pertama kali mutilasi terjadi di Indonesia adalah kasus penemuan mayat yang terpotong menjadi 13 bagian dan dimasukkan dalam dua dus besar pada tahun 1985 di daerah Sudirman, Jakarta Pusat. Setelah itu, terjadi beberapa kasus mutilasi yang menggemparkan seperti kasus Ryan Jombang dan kasus Babe Baekuni.

Baca: Fakta-fakta Korban Mutilasi Karawang, dari Tato Hingga Seragam

Infografik Rentetan Kasus Mutilasi 2017. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kasus pembunuhan disertai mutilasi seperti tidak pernah absen setiap tahunnya. Berdasarkan hasil penelusuran Kriminologi dalam setahun ini terjadi 10 kasus pembunuhan disertai mutilasi yang terjadi di Indonesia.

23 Februari 2017 (Sumatera Selatan)

Korban yang bernama Gus Setian ditemukan tewas mengenaskan. Mayatnya berlumuran darah dan tanpa kepala tergeletak di sebuah rumah kontrakan yang terletak di Jalan Pangeran Ayin, Kecamatan Talang Kelapa, kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Pelaku yang nekat menghabisi nyawa korban diketahui bernama Zumrowi dan diduga mengidap gangguan jiwa. Pelaku membunuh dan kemudian memotong kepala korban. Setelah itu, pelaku juga menenteng kepala korban sambal berjalan keliling kampong.

28 Februari 2017 (Aceh)

Potongan-potongan tubuh korban pembunuhan dan mutilasi di temukan di sepanjang aliran Sungai Alas, Desa Kute Melie. Awalnya masyarakat menemukan bagian tubuh berupa kaki kiri dan tangan kiri yang mengambang dan hanyut mengikuti arus sungai, kemudian masyarakat dan Badan SAR Nasional Pos Kutacane menyusuri aliran sungai tersebut untuk mencari potongan tubuh lainnya.

Korban diketahui bernama Saparuddin adalah warga Desa Kuta Tinggi, Kecamatan Badar, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. Korban terakhir kali terlihat oleh istrinya pada 25 Februari 2017 saat berpamitan hendak pergi ke sawah. Namun sejak saat itu, korban tidak diketahui keberadaannya.

15 Maret 2017 (Sumatera Utara)

Penemuan mayat di dalam karung goni berwarna putih menghebohkan warga Desa Aek Sobahan, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan. Karung goni tersebut diletakkan tepat di pinggir jalan, tentu saja ini mengundang kecurigaan masyarakat dan kemudian melaporkannya ke Polsek Batangtoru.

Setelah polisi dating dan kemudian membuka karung tersebut ditemukan sepasang kaki, badan, dan kepala. Tidak ditemukan identitas apapun di mayat tersebut dan kondisinya mayat tersebut hanya mengenakan celana dalam. Selain itu, di tubuh korban juga ditemukan 12 luka tusuk dan diduga korban sempat melawan.

Baca: Korban Mutilasi Karawang, Forensik: Tingkat Kesulitannya Tinggi

24 Maret 2017 (Riau) 

Seorang laki-laki yang mengaku sebagai saksi mata pembunuhan dan mutilasi menunjukkan tempat terjadinya pembunuhan tersebut kepada polisi. Di sebuah bangunan rumah toko (ruko) yang terletak di Jalan Riau Desa Tanjung Medang, Kecamatan Ruput, Pekanbaru, Riau ditemukan mayat korban pembunuhan dan mutilasi yang dimasukkan ke dalam tas dan drum.

Ternyata setelah dilakukan penyelidikan, orang yang mengaku sebagai saksi mata sebenarnya adalah salah seorang pelaku pembunuhan tersebut. Motif dilakukannya pembunuhan dan mutilasi ini diduga karena para pelaku yang berjumlah 3 orang merasa terancam. Korban mengancam untuk membongkar bisnis narkoba yang sedang mereka jalani. Selain itu, para pelaku juga merasa kesal karena korban tidak juga menepati janjinya untuk memberikan uang pasang karpet di tempat usahanya tersebut.

29 Juni 2017 (Aceh)

Pembunuhan beserta mutilasi yang terjadi di Gampong Titi Mas, Kecamatan Babul Rahmah, Kutacane Aceh menggemparkan. Korban berusia 70 tahun dan pelaku pembunuhan tersebut adalah anaknya sendiri, Nasruddin.

Pelaku mendatangi rumah korban dan kemudian menggendong korban ke luar rumah. Selanjutnya pelaku meletakkan korban di tanah dan kemudian menggorok leher korban dan kemudian memotong-motong tubuh korban dimulai dari kedua kaki lalu kedua tangan korban.

Tidak berhenti disitu, kesadisan Nasruddin terus berlanjut dengan menguliti kepala korban dan membelah perut ibunya tersebut hingga organ-organ di dalamnya terburai di tanah.

Berdasarkan laporan masyarakat, polisi segera bergerak ke tempat kejadian dan melakukan penangkapan. Saat melakukan penangkapan, polisi terpaksa menembakkan senjatanya ke arah kaki korban. Ini dilakukan karena korban tidak mau menurunkan parang yang dipegangnya.

Pelaku mengaku bahwa ibunya sering ingkar janji sehingga dia kesal. Namun selama proses pemeriksaan, pelaku lebih banyak diam dan tidak menjawab pertanyaan penyidik. Oleh karena itu, polisi akan melakukan tes psikologi dan kejiwaan.

23 Agustus 2017 (Papua)

Sesosok mayat ditemukan warga di Kompleks Perkantoran Gubernur Papua Barat. Mayat tersebut dalam kondisi terpotong-potong dan dimasukkan dalam karung. Seorang saksi mata menyebutkan bahwa dia sempat mendengar suara sepeda motor melintas dan dua orang yang berboncengan menuju Kantor Dinas PU Papua Barat. Namun ketika di dekati, sepeda motor tersebut pergi dan terlihat seperti membuang sesuatu. Ternyata karung berisi mayat itulah yang dibuang.

Berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan, polisi menetapkan dua orang tersangka. Mereka memukul korban dengan balok kayu dan kemudian menikam leher korban dengan pisau. Selanjutnya mereka secara bersama memotong mayat korban dengan pisau dan parang. Kemudian mereka memasukkan mayat korban ke dalam karung. Sebenarnya mayat korban hendak dibuang ke tempat yang sunyi, namun di tengah perjalanan terjatuh sehingga mereka panik dan memilih pergi meninggalkan karung tersebut.

18 September 2017 (Jakarta)

Seorang Asisten Rumah Tangga di daerah Kelapa Gading tega memutilasi bayinya sendiri. Bayi tersebut lahir secara prematur dan pelaku melakukan persalinan bayi tersebut di kamarnya seorang diri. Keesokan harinya, pelaku membuang bayi tersebut ke atas loteng namun ditemukan oleh tetangganya yang sedang memperbaiki pompa air.

Akhirnya, tetangganya pun memberitahukan pemilik rumah dan pemilik rumah bergegas ke kantor polisi untuk melaporkan hal tersebut. Merasa tindakannya telah diketahui, pelaku kemudian mengambil jasad bayi tersebut dan kemudian memotong-motong jasadnya lalu dibuang melalui kloset di kamar mandi.  Berdasarkan hasil pemeriksaan, motif pelaku melakukan hal tersebut adalah untuk menutupi bukti hubungan gelapnya  

19 Oktober 2017 (Tuban)

Siswa kelas 1 SDN Tanggulangin 2 Montong dibunuh dan dimutilasi oleh tetangganya sendiri. Korban dibunuh dengan menggunakan cangkul  dan tewas seketika karena luka di kepalanya. Selain itu, kondisi kepala korban tidak utuh, tangan kanannya terpotong hingga pangkal lengan. Mayat korban ditemukan dibawah kolong tempat tidur pelaku.

Baca: Wanita Korban Mutilasi di Karawang Punya Tato Kupu-kupu di Punggung

6 November 2017 (Jambi)

Seorang ibu dan anaknya ditemukan tidak bernyawa di sebuah kebun milik PT Tebo Plasma Inti Lestari. Tubuh kedua jasad tersebut kondisinya sudah membusuk dan tidak utuh lagi hanya tinggal beberapa bagian saja. Pertama kali yang menemukan jasad mereka adalah petani yang hendak memanen di kebun tersebut

Sebelumnya, mereka dilaporkan menghilang pada pertengahan Oktober 2017 oleh suaminya. Sejauh ini dugaan kuat mengarah pada kasus perampokan dan pembunuhan sadis.

14 November 2017 (Medan)

Jalan besar Tembung, Kecamatan Percut Seituan, Medan mendadak dipadati warga yang berdiri di pinggiran Sungai Tembung. Para warga begitu penasaran untuk melihat langsung potongan daging manusia yang diduga adalah korban mutilasi.

Potongan tubuh manusia yang dimasukkan di dalam plastik warna biru ini pertama kali ditemukan oleh anak-anak Sekolah Dasar yang kebetulan sedang bermain di bantaran sungai. Selanjutnya mereka memberitahukan temuan tersebut pada orang dewasa yang ada di sekitar sungai itu juga. Ketika dibuka, isi plastic tersebut ada seonggok daging yang sangat mirip dengan jantung manusia dan juga kaos kutang warna putih. Identifikasi korban ini sangat sulit dilakukan mengingat minimnya bagian tubuh yang tersisa dari korban.

KOMENTAR
500/500