Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengunjungi Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis, 10 Mei 2018. Foto: Rizky Adytia/Kriminologi

Serangan Teror Kian Marak, Tito: Tiap Polda Bentuk Satgas Antiteror

Estimasi Baca:
Senin, 16 Jul 2018 15:45:58 WIB

Kriminologi.id - Aktivitas para terduga teroris belakangan ini kian massif. Hampir menyebar di beberapa daerah, yang sebelumnya tidak terdeteksi ada aktifitas teror.

Yang terbaru adalah petugas Densus 88 Antiteror Polri terlibat baku tembak dengan empat terduga teroris yang akan ditangkap di Jalan Kaliurang, Yogyakarta, pada Sabtu, 14 Juli 2018 sekitar pukul 17.00 WIB.

Terkait hal itu, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menginstruksikan semua kepolisian daerah (polda) untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) Antiteror. Satgas tersebut, tidak lain untuk memberantas para pelaku terorisme.

"Saya sudah perintahkan semua polda membuat Satgas Antiteror. Jumlah personelnya tergantung pada wilayah dan peta kerawanan masing-masing," katanya di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Senin, 16 Juli 2018.

Tujuan pembentukan Satgas Antiteror ini, ia mengungkapkan, untuk memberantas orang-orang yang terlibat dalam teror Bom Surabaya hingga ke akar-akarnya.

"Untuk kasus Bom Surabaya, siapa pun yang terlibat, tangkap! Ideolog, inspirator, pelaku, dan pendukung, yang menyiapkan dana, yang menyiapkan bahan peledak, harus ditangkap. Kami sudah tahu peta jaringannya," ujar Tito.

Mantan Kapolda Metro Jaya ini mencatat, sedikitnya ada 197 orang pelaku terorisme telah ditangkap, yang 20 di antaranya meninggal dunia.

Pihaknya pun meminta jajarannya berhati-hati dalam menangkap para pelaku teror karena pelaku teror merupakan para pelaku siap mati yang tidak segan-segan melukai targetnya, termasuk polisi.

"Jangan mengambil risiko. Kalau mereka mengancam petugas, membahayakan masyarakat, petugas diberikan kewenangan untuk melakukan tindakan tegas dan terukur," kata Tito.

Sebelumnya, Tito Karnavian menyebut tiga terduga teroris yang tewas saat penyergapan di Jalan Kaliurang, Yogyakarta dan suami-istri pelaku penyerangan bom panci di Mapolres Indramayu, Jawa Barat memiliki hubungan.

Menurut Tito, tiga terduga teroris yang tewas di Kaliurang adalah kelompok Jemaah Ansharut Khilafah (JAK) sedangkan suami-istri pelempar bom panci di Indramayu adalah anggota kelompok Jemaah Ansharut Daulah (JAD).

"JAK ini mendukung JAD. Jadi ada hubungannya. Akan kita kembangkan, kita sudah tahu," kata Tito saat mengunjungi Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Senin, 16 Juli 2018.

Tito juga mengatakan, bahwa tindakan tegas petugas Densus 88 Antiteror yang menembak mati tiga terduga teroris saat penyergapan di Kaliurang terpaksa dilakukan mengingat ketiganya dinilai membahayakan keselamatan petugas. Dua orang petugas Densus terlebih dahulu diserang hingga mengalami luka bacok di bagian tangan dan pinggang.

"Kalau berani menyerang petugas sehingga petugas luka, maka mereka akan berhadapan dengan kekuatan mematikan. Kita sikat!," tegas Tito.

Sama halnya saat melumpuhkan suami istri pelaku penyerangan Mapolres Indramayu. Menurut Tito, tindakan tegas petugas kepolisian menembak pelaku yang berusaha melempar bom panci ke petugas kepolisian adalah tindakan yang tepat karena suami istri bernama Galuh dan Hasanah itu telah mengancam dan membahayakan keselamatan petugas kepolisian.

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500