Sisi Negatif Media dalam Kasus Bunuh Diri

Estimasi Baca :

pixabay.com - Kriminologi.id
Ilustrasi Jurnalistik, Foto: Pixabay.com

Kriminologi.id - Bunuh diri yang dilakukan sejumlah perempuan terjadi berulang kali. Seperti aksi bunuh diri yang dilakukan oleh Lorena Carino Binayan pada Senin, 16 Oktober 2017 di pusat perbelanjaan Blok M Square, Jakarta Selatan. perempuan 39 tahun itu sengaja menjatuhkan diri dari lantai lima gedung tersebut dan tewas seketika.

Sebelumnya juga terjadi kasus bunuh diri yang dilakukan oleh Florence Sahara pada 18 September 2017. Instruktur senam di sejumlah pusat kebugaran di Jakarta itu mengakhiri hidupnya dengan loncat dari lantai 30 Apartemen Green Lake, Jakarta Utara, Senin, 18 September 2017.

Tidak hanya itu, dua perempuan berinisial EP dan ESP juga mengakhiri hidupnya dengan loncat dari gedung tinggi. Kedua perempuan ini menjatuhkan diri dari lantai lima Apartemen Gateway Bandung, Jawa Barat. Tragisnya peristiwa ini sempat terekam dalam video yang kemudian menjadi viral di media sosial.

Hasil riset Kriminologi menemukan sedikitnya enam peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh perempuan dengan cara menjatuhkan diri dari gedung tinggi selama 2017. Sedangkan pada 2016 hanya ditemukan dua kasus saja. 

Baca: Bukan Hanya Florence Sahara, 6 Wanita Juga Pilih Bunuh Diri

Hal yang menarik dari data tersebut, terjadinya peningkatan terhadap jumlah kasus bunuh diri perempuan dengan cara menjatuhkan diri dari gedung selama 2017. Hampir setiap bulannya terdapat seorang perempuan yang mengakhiri hidup dengan loncat dari ketinggian. 

Akihito Hira dan Takeru Abe dalam Jurnal Internasional yang berjudul Effects of Media Reports and The Subsequent Voluntary Withdrawal from Sale of Suicide-Related Products on The Suicide Rate in Japan menegaskan bahwa pemberitaan media dapat mempengaruhi angka bunuh diri.

Pada penelitian yang dilakukan Hira dan Abe menunjukkan bahwa pemberitaan media yang menginformasikan tentang detail bagaimana tindakan tersebut dilakukan dapat menjadi faktor pemicu peningkatan angka bunuh diri yang terjadi.

Phern Chern Tor, Beng Yeong Ng, dan Yong Guan Ang dalam Jurnal The Media and Suicide menginformasikan bahwa awal mula hubungan antara bunuh diri dengan media terlihat setelah diterbitkannya novel karya Johann Wolfgang Von Goethe pada 1774 yang berjudul The Sorrows of Young Werther.

Tokoh protagonis dalam novel tersebut adalah seorang laki-laki yang jatuh cinta pada perempuan. Sayangnya perempuan tersebut berada di luar jangkauannya sehingga tokoh tersebut mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya. Saat melakukan bunuh diri, tokoh digambarkan sedang mengenakan mantel berwarna biru, rompi kuning, dan sepatu bot. 

Baca: Kenali Gejala dan Pemicu Orang Bunuh Diri

Populernya novel ini membawa dampak buruk, hampir dua ribu pemuda Eropa yang melakukan bunuh diri dengan cara yang sama dan berpakaian seperti yang digambarkan dalam novel tersebut. 

David Philips pada 1974 melakukan penelitian terkait dengan fenomena meniru cara bunuh diri tersebut dan mempublikasikannya dalam Jurnal American Sociological Review dengan judul The Influence of Suggestion on Suicide: Substantive and Theoritical Implications of The Werther Effect. Tindakan meniru yang dilakukan oleh masyarakat karena pengaruh media, dalam hal ini novel, disebut dengan Werther Effects.

Ini tidak hanya terjadi di Eropa saja seperti yang dicontohkan dalam peristiwa novel karya Goethe. Penelitian yang dilakukan Hira dan Abe memotret fenomena yang sama di Jepang. Salah satu kasus yang diteliti adalah meninggalnya tiga orang anak muda yang melakukan bunuh diri dengan menggunakan Hydrogen Sulfate pada 29 Februari 2008. 

Peristiwa ini memancing media nasional dan media lokal memberitakan peristiwa ini secara besar-besaran. Bunuh diri ini dianggap menarik karena cara yang digunakan tidak biasa. Selain itu, ketiga anak muda tersebut pertama kali bertemu dan merencanakan bunuh diri di dunia maya.

Pemerintah Jepang mencatat terdapat seribu kejadian bunuh diri dengan menggunakan cara yang sama sejak Januari hingga November 2008. Hira dan Abe dalam penelitiannya menyebutkan media secara detail menceritakan pelaku dengan mudahnya mendapatkan Hydrogen Sulfate karena sebenarnya adalah kandungan dalam garam mandi yang dijual bebas. Hingga akhirnya Japanese Association of Chain Drug Store (JACDS) menghentikan penjualan garam mandi yang mengandung sulfur

Media seringkali memberikan gambaran mendetail tentang sebab dan cara yang digunakan dalam melakukan bunuh diri. Menurut penelitian M. Gould dalam Suicide and The Media menemukan bahwa 69 persen pemberitaan media terkait kejadian nyata bunuh diri memberikan gambaran begitu lengkap sehingga memungkinkan dilakukan imitasi.

Baca: 10 Negara dengan Kasus Bunuh Diri Tertinggi di Dunia

Werther effect menurut Philips dapat dijelaskan melalui teori pembelajaran sosial atau teori pemodelan. Teori menyatakan jika ada seseorang yang menyelesaikan masalah hidupnya dengan bunuh diri, maka orang lain akan menganggap bahwa dirinya juga dapat melakukan hal tersebut. 

Keberadaan media memiliki dua sisi mata uang yang sangat berlawanan. Satu sisi, media dapat digunakan sebagai sarana informasi bagi masyarakat sehingga mengetahui kondisi sosial yang berkembang. Sedangkan di sisi lainnya, media dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain yang berniat bunuh diri atau melakukan kejahatan. Oleh karena itu, media harus tetap menjunjung tinggi kode etik jurnalistik sebagai salah satu pagar bagi media agar tetap berada di jalurnya. BC

Baca Selengkapnya

Home Lapor & Waspada Peta Kejahatan Sisi Negatif Media dalam Kasus Bunuh Diri

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu