Studi: Perempuan Kota Cenderung Sering Bunuh Diri

Estimasi Baca :

Pixabay.com - Kriminologi.id
Ilustrasi bunuh diri, Foto: Pixabay.com

Kriminologi.id - erempuan asal Filipina bernama Lorena C. Binayan menghebohkan pengunjung mal di Blok M Square, Jakarta Selatan, Senin 16 Oktober 2017. Lorena tewas bunuh diri di pusat perbelanjaan itu. Ia diduga menjatuhkan diri dari lantai lima pusat perbelanjaan tersebut dan tewas seketika.

Belum ini lama sejumlah kasus bunuh diri juga terjadi di kawan Ibu Kota yang dilakukan perempuan lainnya, yaitu Florence Sahara. Instrukur senam di berbagai pusat kebugaran itu disebut polisi menjatuhkan diri dari lantai 30 Apartemen Green Lake, Jakarta Utara, 18 September 2017.

Tak hanya Lorena dan Florence saja perempuan yang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Menurut pantauan Kriminologi setidaknya ada enam perempuan melakukan bunuh diri selama 2017.

Baca: Kenali Gejala dan Pemicu Orang Bunuh Diri

Menurut penelitian yang dilakukan Yavus Hekimonglu dkk dalam A Descriptive Study of Female Suicide Deaths from 2005-2011 in Van City, Turkey yang menemukan bahwa perempuan memang lebih sering melakukan bunuh diri.

Perempuan yang melakukan bunuh diri dilihat dari kelompok umurnya ternyata sebanyak 13,6 persen berumur kurang dari 15 tahun, 45,5 persen berumur 16 sampai 34 tahun, dan 7,5 persen berumur lebih dari 35 tahun.

Kecenderungan usia ini dipengaruhi status pernikahan dan keberadaan anak. Perempuan berusia lebih dari 35 tahun lebih sedikit terlibat aksi bunuh diri karena memiliki anak yang menjadi tanggung jawabnya. Penelitian yang sama juga menunjukkan hampir 80 persen kasus bunuh diri dilakukan oleh perempuan yang belum memiliki anak.

Baca: Wanita Filipina yang Jatuh di Blok M Square Terlihat Gelisah

Yavus dkk juga membandingkan tindakan bunuh diri perempuan yang terjadi di perkotaan dan di pedesaan. Temuannya menunjukkan perbandingan tindakan bunuh diri perempuan yang terjadi di perkotaan dan pedesaan adalah 1 berbanding 4. Artinya perempuan di perkotaan lebih banyak melakukan bunuh diri daripada perempuan di pedesaan.

Penelitian ini juga mengidentifikasi penyebab-penyebab terjadinya bunuh diri perempuan di perkotaan. Penyebab ini dikelompokkan dalam empat karakteristik yaitu tidak aktif secara ekonomi, janda atau sedang menghadapi perceraian, mengalami sejarah depresi mendalam sebelumnya, dan mengalami konflik juga kekerasan dalam hubungan.

Karakteristik pertama adalah tidak aktif secara ekonomi dijabarkan dalam keadaan saat perempuan mengalami keterbatasan dalam bekerja dan memiliki pendapatan sangat rendah dibandingkan dengan pasangannya. Sehingga selain menghadapi masalah kemiskinan, sering kali masalah finansial menjadi penyebab konflik di dalam hubungan rumah tangganya. Penelitian ini menunjukkan bahwa 86,4 persen tindakan bunuh diri perempuan disebabkan karena masalah finansial.

Baca: Mahasiswi Tewas Aborsi di Kamar Hotel, Polisi Buru Seorang Pelaku

Karakter kedua adalah statusnya sebagai janda atau sedang dalam proses perceraian. Karakter ini seringkali berhubungan dengan persepsi saudara dan kerabatnya dalam memandang seorang perempuan yang bercerai dan menjadi janda. Budaya yang ada di Turki tidak berbeda dengan di Indonesia, perempuan dianggap sumber kesalahan sehingga akhirnya hubungan pernikahan tidak dapat dipertahankan. Seringkali perempuan tidak kuat menanggung rasa malu tersebut dan akhirnya melakukan bunuh diri.

Karakter ketiga adalah pernah mengalami depresi mendalam di masa lalu sehingga kondisi kejiwaanya tidak stabil. Permasalahan yang begitu berat dan tidak mudah dihadapi oleh perempuan sendirian dapat menjadi pemicu terjadinya bunuh diri perempuan. Perempuan yang pernah mengalami depresi mendalam sering kali merasa hidupnya penuh dengan masalah sehingga jalan untuk mengakhirinya adalah dengan bunuh diri.

Masalah depresi ini memang menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya bunuh diri yang dilakukan perempuan di perkotaan. Penyebabnya bisa beragam seperti kesulitan beradaptasi dengan hidup di perkotaan yang dihadapi perempuan desa yang pindah ke kota. Selain itu, depresi dapat muncul dari rasa penyesalan perempuan terhadap pilihan hidup yang dibuatnya dan membuatnya malu untuk kembali ke keluarga dan kerabatnya.

Baca: Bukan Hanya Florence Sahara, 6 Wanita Juga Pilih Bunuh Diri

Karakteristik keempat adalah konflik dan kekerasan yang dialaminya di dalam hubungan. Konflik yang berujung dengan kekerasan dalam ranah domestik perempuan juga dapat menjadi pemicu bunuh diri pada perempuan. Studi yang sama menunjukkan bahwa pengalaman menjadi korban kekerasan menyumbang hampir 20 persen sebagai penyebab terjadinya bunuh diri pada perempuan.

Kekerasan yang dialami perempuan dan berujung pada bunuh diri ditunjang oleh penyebab-penyebab lainnya. Misalnya, kurangnya pengetahuan perempuan terhadap masalah hukum terkait kekerasan. Selain itu, perempuan masih merasa takut untuk melaporkan kekerasan yang dialaminya kepada polisi. Perempuan merasa dengan melaporkan kekerasan tersebut maka pelaku akan melakukan kekerasan lebih parah dari sebelumnya.

Ketika kekerasan yang dihadapinya dilakukan oleh pasangannya maka perempuan semakin enggan untuk melaporkannya. Terjadi konflik di dalam dirinya sendiri karena pasangan tersebut adalah lelaki yang dipilihnya sendiri. Tidak jarang ketika memilih lelaki yang menjadi suaminya itu dia mendapatkan pertentangan dari keluarga dan juga kerabatanya. Sehingga kebingungan yang melanda perempuan inilah yang dapat mendorong perempuan melakukan bunuh diri.

Baca: Nenek Syane Ditemukan dengan Lidah Menjulur di Rumah Anaknya

Tidak banyak berbeda dengan penelitian yang dilakukan di Turki, keadaan sosial dan kultural yang serupa dapat memberikan gambaran tentang bunuh diri yang dilakukan oleh perempuan perkotaan di Indonesia. BC

Baca Selengkapnya

Home Lapor & Waspada Peta Kejahatan Studi: Perempuan Kota Cenderung Sering Bunuh Diri

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu