Ilustrasi hukuman mati. Ilustrasi: Kriminologi.id

Vonis Mati Teroris Indonesia Diawali Pimpinan Komando Jihad 1981

Estimasi Baca:
Sabtu, 23 Jun 2018 07:15:15 WIB

Kriminologi.id - Terdakwa teroris Oman Rochman alias Aman Abdurrahman dijatuhi vonis hukuman mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta selatan pada Jumat, 22 Juni 2018.

Keputusan vonis mati terhadap Aman Abdurrahman ini bukan yang pertama kali. 

Sejarah vonis mati bagi pelaku teroris di Indonesia ini diawali oleh Imran bin Mohammed Zein, pemimpin kelompok teroris Komando Jihad yang membajak pesawat Garuda Indonesia tahun 1981. 

Kembali kepada Aman Abdurrahamn, keputusan vonis mati terhadap pentolan Jemaah Ansharut Daulah (JAD) itu hanya menambah panjang deretan daftar teroris yang dihukum mati oleh otoritas hukum Negara Indonesia.

Aman Abdurrahman terbukti bersalah dengan menjadi otak dari berbagai aksi teror di Indonesia. Antara lain bom Thamrin, Jakarta, dan bom Gereja Oikumene, Samarinda, pada tahun 2016. Bom Kampung Melayu, serta penusukan polisi di Sumatera Utara, dan penembakan polisi di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2017.

Sosok Aman Abdurrahman sebagai residivis kasus terorisme serta pendiri kelompok terorisme di Indonesia menjadi pertimbangan Majelis Hakim akhirnya menjatuhinya vonis mati.

Aman Abdurrahman bukan pelaku teroris pertama yang diganjar hukuman mati di Indonesia. Sebelumnya sudah ada beberapa terdakwa teroris yang dijatuhi vonis mati, seperti Abdurrahman. Bahkan, enam di antaranya sudah menjalani eksekusi. Vonis pada pentolan JAD itu menambah panjang daftar teroris di negeri ini.

Infografik jejak hukuman mati teroris di Indonesia. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Berikut nama-nama teroris yang divonis hukuman mati berdasarkan aksi terornya;

Rois dan Hasan, Teroris Bom Kedutaan Besar Australia 

Pada peristiwa pengeboman di Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta, 9 September 2004 silam ditetapkan dua tersangka. Mereka adalah Iwan Darmawan Mutho alias Muhammad Rois dan Ahmad Hasan.

Keduanya bersama dengan Doktor Zahari dan Noordin M Top terbukti sebagai perencana pengeboman. Namun hanya Rois dan Hasan yang berhasil ditangkap hidup-hidup.

Atas aksi teror tersebut, Rois dan Hasan dijatuhi vonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 13 dan 14 September 2005.

Hingga kini eksekusi mati terhadap keduanya belum dilaksanakan. Narapidana kasus terorisme ini masih menjalani masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Nusakambangan, Jawa Tengah.

Amrozi, Ali Gufron dan Imam Samudra Kasus Bom Bali I

12 Oktober 2002, terjadi aksi teror bom di tiga titik di Bali yang dikenal dengan peristiwa Bom Bali I. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan lainnya terjadi di dekat kantor Konsulat Amerika Serikat.

Dari aksi teror tersebut ditetapkan tiga tersangka utama, yakni Amrozi bin H Nurhasyim, Ali Gufron alias Muklas, dan Abdul Aziz alias Imam Samudra. Pada tahun 2003, ketiganya pun dijatuhi vonis hukuman mati.

Eksekusi hukuman mati terhadap ketiganya dilakukan pada Sabtu dini hari, 8 November 2008, di Nusakambangan dan Pandeglang, Banten dengan cara ditembak oleh regu penembak.

Imran, Teroris Komando Jihad 

Pada tahun 1981 terjadi pembajakan pesawat Garuda Airways dengan kode DC-9 Wolya atau yang lebih dikenal dengan Peritiwa Wolya. Aksi pembajakan itu diotaki oleh Imran bin Mohammed Zein, yang adalah pemimpin kelompok teroris Komando Jihad. 

Imran menjalankan aksi pembajakan tersebut bersama dua rekannya, yakni Maman Kusmayadi dan Salman Hafidz. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan ketiganya bersalah dan dijatuhi vonis hukuman mati.

Imran menjalani eksekusinya pada tahun 1983 dengan cara dihukum gantung. Imran pun menjadi terpidana mati pertama untuk kasus terorisme. Sementara dua rekannya dieksekusi menyusul, Salman pada tahun 1985 dan Maman setahun setelahnya. 

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500