5 Tips bagi Driver Taksi Online Agar Terhindar dari Perampokan

Estimasi Baca :

Ilustrasi pembunuhan supir taksi online. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ilustrasi pembunuhan supir taksi online. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Tindak kejahatan yang menyasar driver taksi online kembali marak. Kasus terakhir merenggut nyawa driver taksi online Grab Car bernama Justinus SInaga (40). Di pengujung tahun 2017, Mulud (63), driver taksi online Grab yang juga menjadi korban pembunuhan dan perampokan oleh penumpangnya sendiri. 

Penulusuran Kriminologi mencatat beberapa kasus deretan driver taksi online yang menjadi korban kejahatan penumpangnya.

Tingkat pertemuan dengan pemberi order (penumpang) tidak dipungkiri membuat profesi driver taksi online rentan menjadi sasaran pelaku kejahatan. Terlebih tidak ada sistem screening calon penumpang dari penyedia jasa (aplikator) sebelum disebar ke driver taksi online memutuskan menerima atau menolak pesanan.

Baca: Kasus Pembunuhan Driver Taksi Online, Hilang Nyawa karena Kejar Sewa

Infografik Tips Aman Bagi Sopir Taksi Online Saat Terima Pesanan. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Jika berkaca pada beberapa kasus tindak kejahatan terhadap driver taksi online, Kriminologi menuliskan 5 tips aman bagi para driver taksi online dalam menerima pesanan (order) agar terhindar dari korban perampokan:

1. Pertimbangkan Jarak

Jarak pesanan menjadi hal yang layak dipertimbangkan oleh driver taksi online saat memutuskan menerima pesanan. Terlebih ketika jarak pesanan sangat jauh dari titik penjemputan. Mempertimbangkan jarak bisa meminimalisasi kemungkinan driver taksi online menjadi sasaran tindak kejahatan. Pada beberapa kasus driver taksi yang menjadi korban kejahatan itu mengantarkan penumpang tujuan jarak jauh. 

Seperti korban pembunuhan Justinus Sinaga dan Mulud. Sebelum menjadi korban pembunuhan, Justinus diketahui menerima pesanan dari kawasan Sukaraja menuju Gunung Gede, yang berjarak sekitar 59 KM. Sementara Mulud menerima pesanan sejauh 52 KM dari kawasan Bojonggede menuju kawasan kebun teh di Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat.

Baca: Motif Pembunuhan Driver Taksi Online di Bogor Serupa Kasus Sukabumi

2. Jumlah Penumpang

Jumlah penumpang pemberi order yang terlalu banyak juga perlu dipertimbangkan. Pada beberapa kasus kejahatan yang menimpa taksi online, driver mengangkut penumpang dengan jumlah yang banyak. 

Contohnya pada kasus penganiayaan dan perampokan yang dialami Arman Sajira, driver Grab di Sukabumi. Sebelum menjadi korban kejahatan, Arman menerima pesanan dengan penumpang berjumlah delapan orang. Meskipun dirinya sempat melakukan negosiasi terkait jumlah penumpang, Arman tetap menerima pesanan itu lantaran ditawari harga borongan.

Sementara pada kasus lain yang menimpa Justinus, diketahui jumlah penumpang yang diangkut oleh korban sebanyak tujuh orang.

3. Waktu Pemesanan

Untuk meminimalisasi menjadi sasaran pelaku kejahatan, ada baiknya driver taksi online tidak menerima pesanan pada jam-jam tertentu. Misalnya order pada malam hari. Meskipun dalam beberapa kasus waktu orderan ini tidak bisa menjadi acuan untuk mengidentifikasi pelaku kejahatan.

Pada kasus Mulud, ia menerima orderan penumpang pada siang hari. Kondisi jalanan yang lebih sepi pada malam hari menjadi alasan utama bagi driver untuk mempertimbangkan mengambil orderan tersebut. 

Baca: Jejak Sopir Taksi Online Sebelum Ditemukan Tewas di Gunung Salak

4. Waspadai Permintaan Mendadak Penumpang

Ketika driver taksi online sedang perjalanan mengantar penumpang sesuai tujuan, ada baiknya mewaspadai permintaan mendadak dan cenderung aneh. Mulai mengalihkan tujuan lain yang berbeda dengan pesanan, meminta istirahat sejenak, mual hingga beralasan mampir ke rumah teman untuk mencari uang tambahan. 

Dalam beberapa kasus, pelaku kejahatan kerap menggunakan itu sebagai modus untuk mengalihkan konsentrasi dan kewaspadaan driver. Beberapa modus yang kerap digunakan seperti meminta driver menepi dengan alasan mual, ingin buang air kecil, meminta istirahat sejenak, dan lainnya.

Selain itu, ada juga dengan modus mengajak driver mencari rumah kerabat dengan alasan uang untuk membayar tarif kurang, seperti pada kasus pembunuhan yang menimpa Deny Setiawan.

5. Biasakan Share Location atau Melengkapi dengan GPS  

Jika merasa curiga dengan penumpang, segera mengabarkan kepada rekan terdekat atau keluarga dengan mengirimkan alamat lokasi tujuan (share location). 

Atau bisa saja dengan cara lainnya yang disarankan adalah dengan memasangkan GPS pada mobil yang digunakan sebagai taksi online. Dengan demikian, kerabat atau orang terdekat Anda menjadi tahu posisi terkini real time saat membawa penumpang. Sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bisa dilakukan penanganan yang lebih cepat. SM

Baca Selengkapnya

Home Lapor & Waspada Tips & Trik 5 Tips bagi Driver Taksi Online Agar Terhindar dari Perampokan

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu