Ilustrasi foto: Pixabay

Asli Atau Hoaks? Cek Kebenaran Berita dengan 6 Cara Ini

Estimasi Baca:
Minggu, 25 Feb 2018 15:00:15 WIB

Kriminologi.id - Hoaks teror penyerangan terhadap ulama oleh PKI menjadi topik yang sedang hangat dibicarakan. Salah satu contohnya adalah isu tentang penyerangan yang dialami Kepala Madrasah Diniyah Tarbiyatul Khoir, Ustaz Ridwan Syakir di Desa Karang Satria, Tambun, Kabupaten Bekasi pada Rabu, 21 Februari 2018. 

Informasi ini pun dibumbui dengan pelaku penyerangan adalah anggota PKI sehingga dengan cepat menyebar melalui media sosial.

Padahal informasi yang benar adalah dua orang yang mengaku mualaf hendak meminta sumbangan pada Ustaz Ridwan. Namun karena menimbulkan keributan, kedua orang tersebut diamankan warga. Menurut Kapolres Metro Bekasi, Kombes Pol Chandra Sukma Kumara, tidak ada penyerangan atau pemukulan yang terjadi.

“Enggak ada itu yang diserang sampai ustaz dipukul, apa lagi isu PKI, itu tidak ada. Karena lagi rame isu PKI makanya warganet mengkaitkan itu dan viral,” ujarnya

Baca: Teror Kepala Madrasah Tak Benar, Pelaku Hanya Paksa Minta Sumbangan

Berita yang tidak benar atau biasa disebut dengan hoaks ini dengan mudah tersebar ke masyarakat melalui media sosial. Orang-orang dengan mudah ikut menyebarkan kembali berita dan informasi tersebut.

Persebaran hoaks di Indonesia memang sudah menggurita dan tidak dapat dibendung lagi. Oleh karena itu masing-masing individu sebenarnya bertanggung jawab terhadap persebaran hoaks tersebut. Walaupun banyak orang yang ikut menyebarkannya tidak mengetahui bahwa berita juga informasi tersebut adalah berita bohong.

Masalah berita hoaks yang tersebar dengan mudahnya di media sosial juga menjadi perhatian bagi para jurnalis di Amerika sehingga mereka bersama-sama menggagas sebuah program bernama The News Literacy Project.

Sebuah video yang diunggah melalui channel resmi Quartz Media menunjukkan seorang jurnalis The New York Times bernama Damaso Reyes sedang mengajarkan bagaimana cara membedakan berita hoaks dengan yang tidak.

Infografik 6 Cara Identifikasi Berita Hoaks. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Seperti yang disadur dari video tersebut, Kriminologi menyimpulkan ada 6 cara membedakan berita hoaks dengan berita asli. Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan;

1. Sumber Informasi Tidak Kredibel

Sumber informasi berasal dari website-website yang tidak jelas. Begitu banyak website ataupun blog yang berisi informasi-informasi yang tidak benar. Bahkan ada beberapa website yang dibuat dengan begitu mirip dengan website-website berita yang terpercaya.

Misalnya seperti website abcnews.go.com yang dipalsukan dengan alamat website abcnews.com.co. Tampilan websitenya pun serupa, ini bertujuan agar para pembaca tidak menyadari bahwa informasi tersebut adalah hoaks.

Setiap orang maupun setiap memang mudah untuk membuat website maupun blognya sendiri. Selain itu, mereka juga bebas menulis informasi maupun berita apapun yang mereka kehendaki, sekalipun itu adalah informasi yang tidak benar. Oleh karena itu sebelum menyebarkan kembali suatu informasi, sumber informasi tersebut juga harus dicek kembali.

2. Judul Provokatif

Seringkali berita-berita dan informasi hoaks menggunakan judul yang sangat provokatif. Judulnya memancing rasa marah, rasa sedih, maupun membuat pembacanya tertawa. Ini seharusnya menjadi tanda yang harus diwaspadai. Sebab trik ini memang disengaja oleh orang-orang yang memproduksi hoaks untuk mempengaruhi pembacanya dan tanpa membaca keseluruhan isinya akan menyebarkan kembali informasi tersebut.

Menurut Reyes, ketika sisi emosional pembaca sudah tersentuh maka hal tersebut akan mengesampingkan sisi nalar mereka. Sehingga tanpa berpikir panjang mereka akan menyerap informasi yang disajikan walaupun sebenarnya informasi tersebut salah.

Baca: Wakapolri: Penganiayaan Pemuka Agama Lebih Banyak Hoaksnya

3. Penulis Tidak Jelas

Website-website berita yang dapat dipercaya biasanya menyertakan nama penulis artikel atau penulis berita di bawah judul. Sehingga tulisan tersebut dapat dipertanggungjawabkan oleh penulis.

Sebaliknya, website-website yang memuat berita hoaks biasanya menggunakan kata admin sebagai penulisnya. Ini menjadi peringatan bagi para pembaca. Jika menemukan berita semacam ini bisa dicek juga di bagian redaksi siapa saja orang-orang yang bekerja di website tersebut. Jika ternyata tidak ditemukan kolom susunan redaksi maka Anda harus curiga website tersebut adalah website palsu yang memuat berita hoaks.

4. Sumber dan Bahan Berita Tidak Jelas

Seringkali dalam sebuah berita maupun artikel memuat hasil penelitian ataupun pernyataan para pakar. Pada berita dan informasi yang benar, narasumber akan disebutkan secara terperinci siapa dia dan asal institusinya. Sehingga kebenaran pernyataan tersebut bisa diklarifikasi kebenarannya. Misalnya, Ketua MUI K.H Ma’aruf Amin menjelaskan sebagai berikut.

Sedangkan pada berita atau informasi hoaks, narasumber atau yang memberi pernyataan tidak disebutkan secara jelas. Misalnya, Para Ulama Indonesia menyebutkan bahwa hal ini menyalahi aturan.

Pada contoh yang kedua, tidak disebutkan siapakah para ulama yang dimaksud, sehingga informasi pernyataan tersebut tidak dapat dikonfirmasi pada sumber aslinya.

Baca: Azyumardi Azra: Hoaks Hancurkan Peradaban

5. Foto Palsu

Pada beberapa berita hoaks yang pernah tersebar di media sosial ternyata menggunakan foto-foto lama yang kemudian digunakan dalam berita yang berbeda.

Verifikasi terhadap foto yang digunakan dapat dicari dalam mesin pencarian seperti google. Apakah memang foto tersebut adalah foto yang baru digunakan ataukah sebenarnya adalah foto lama.

6. Informasi Tidak Mendetail

Pada kasus penyebaran hoaks di Indonesia sendiri seringkali melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan melalui aplikasi Whatsapp. Ketika menemukan informasi yang provokatif, ada baiknya menanyakan pada orang yang menyebarkannya tentang detil peristiwa.

Kapan terjadinya, siapa pelakunya, apa yang dilakukan pelaku, bagaimana tindak lanjutnya apakah diserahkan pada polisi atau tidak. Biasanya informasi-informasi hoaks yang tersebar melalui media sosial dan Whats App tidak disertai informasi yang detil dan orang yang menyebarkannya juga tidak mengetahui informasi tersebut.

Sehingga jika salah satu rekan Anda menyebarkan suatu informasi yang begitu menarik, maka bertanyalah detil informasinya. Jika rekan Anda tidak dapat menjelaskannya atau mengaku mendapatkan info tersebut dari grup WhatsApp lainnya, maka Anda patut curiga bahwa informasi tersebut adalah hoaks. RZ

KOMENTAR
500/500