Ilustrasi Lansia, Foto: pixabay.com

Bapak Ibu, Ini Tips Aman Jika Hidup Sendiri

Estimasi Baca:
Sabtu, 18 Nov 2017 09:00:44 WIB

Kriminologi.id - Nenek Napisa warga Bulukumba, Sulawesi Selatan yang berusia 70 tahun ditemukan tewas dengan luka tikam di sekujur tubuhnya pada 16 September 2017. Pembunuhan ini terjadi lantaran Nenek Napisa tidak menuruti permintaan cucunya yang meminta uang.

Tak lama berselang, Nenek Maria yang berusia 76 tahun juga ditemukan tewas. Nenek Maria adalah warga Bekasi yang ditemukan tewas dengan tangan terikat dan mulut tertutup lakban pada 3 Oktober 2017.  Mobil Toyota Avanza silver miliknya juga ikut raib digondol pelaku pembunuhan tersebut.

Baca: Nenek Maria Tewas dengan Tangan Terikat dan Mulut Dilakban

Tak hanya itu, baru-baru ini juga ditemukan jasad Nenek Tiamah yang berusia 70 tahun di Batam. Jasadnya ditemukan terkubur di lantai bawah tempat tidurnya pada 8 Oktober 2017. Berdasarkan hasil otopsi yang dilakukan, ditemukan tanda kekerasan dengan benda tumpul di kepalanya.

Beberapa kasus di atas menunjukkan bahwa hidup seorang diri di usia yang telah senja bukanlah pilihan terbaik. Walaupun memang, beberapa orang terpaksa melakukannya karena memang tidak ada sanak saudara yang dapat menemani mereka.

Infografik Tips Aman Hidup Sendiri Bagi Lansia. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Oleh karena itu, jika memang terpaksa tinggal seorang diri di usia senja ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti disadur dari onecallmedicalalert.com ini beberapa tips yang perlu disimak:

1. Jalin hubungan baik dengan tetangga

Pepatah mengatakan bahwa tetangga merupakan keluarga terdekat kita. Sebagai lansia yang tinggal sendiri, tentu akan sulit jika harus menunggu pertolongan keluarga saat menghadapi kesulitan.

Oleh karenanya, kenalilah dengan baik tetangga Anda dan jalinlah hubungan kekeluargaan yang baik dengan mereka. Mintalah pertolongan kepada mereka jika Anda membutuhkan bantuan yang sifatnya segera. Selain itu, Anda juga dapat meminta mereka untuk mengecek kondisi Anda setiap hari agar tetap terpantau dengan baik.

Baca: Bau Busuk Nenek 70 Tahun Dikubur di Kolong Tempat Tidur

2. Atur nomor panggilan darurat

Setiap ponsel memiliki fitur panggilan darurat. Atur nomor panggilan darurat pada ponsel agar jika terjadi seseuatu pada Anda, orang yang menemukan dapat segera mencari nomor panggilan darurat pada ponsel Anda. Namun, jika Anda hanya memiliki telepon rumah, maka buatlah daftar nomor telepon darurat dan kemudian tempelkan di dekat telepon rumah.

3. Pasang sistem keamanan tambahan

Tidak ada salahnya memasang perangkat sistem keamanan tambahan di rumah Anda, seperti CCTV, kunci, dan alat pendeteksi kebakaran. Perangkat ini akan memudahkan Anda dalam mengawasi dan membatasi jarak aman apabila ada orang asing dan mencurigakan yang datang ke rumah.

Selain itu, perangkat CCTV saat ini juga banyak yang memiliki fitur koneksi dengan aplikasi telepon pintar. Sehingga, anak maupun kerabat terdekat dapat ikut mengawasi Anda dari jauh. 

4. Simpan kunci cadangan

Pemasangan alat pengamanan tambahan dapat berisiko terkurung di dalam rumah sendiri jika Anda sakit dan tak berdaya untuk keluar.

Untuk memudahkan pengecekan harian oleh keluarga atau tetangga yang telah Anda beri kepercayaan, aturlah tempat penyimpanan kunci cadangan yang dapat diakses dari luar rumah. Pastikan kunci tersebut aman dan tidak mudah ditemukan oleh orang lain.

Jika Anda telah yakin dan sangat percaya, tidak ada salahnya memberikan kunci cadangan kepada keluarga maupun tetangga agar lebih memudahkan mereka mengakses rumah dan mengecek kondisi Anda.

Baca: Sering Dimarahi Tak Jaga Kebersihan, Rizky Bunuh Nenek Maria

5. Simpan daftar obat di dalam dompet

Jika Anda memiliki kebiasaan mengonsumsi obat-obatan tertentu untuk menunjang kesehatan, buatlah catatan obat-obatan dan simpanlah di dalam dompet Anda. Letakkan di dekat kartu identitas Anda.

Sehingga, apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, orang yang menemukan Anda dalam kondisi tidak sadarkan diri atau sulit berkomunikasi dapat menyampaikan informasi tersebut kepada pihak medis yang menangani.

KOMENTAR
500/500