Ilustrasi mengurus anak. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Bekal Majikan Menakar Emosi PRT Saat Urus Anak

Estimasi Baca:
Jumat, 3 Ags 2018 20:05:38 WIB

Kriminologi.id - Psikolog dan terapi perkawinan dan keluarga Catherine DML Martosudarmo memberikan sedikit tips guna dapat mendeteksi kadar emosi pekerja rumah tangga yang akan diminta membantu mengurus anak.

Ia mengatakan, salah satu caranya adalah dengan melihat langsung bagaimana cara calon PRT menangani anak.

"Kalau dia mau kita tes, minta dia untuk memberi makan anak dan di situ kita bisa melihat bagaimana sikapnya, kita juga bisa lihat apakah orang ini sudah pernah pegang anak atau belum. Di situ, insting kita tahu orang itu punya hati atau enggak untuk anak.Langsung tes aja di tempat dan suruh kerja," katanya kepada Kriminologi.id, Jumat, 3 Agustus 2018. 

Dengan meminta untuk memberi makan anak di hadapan sang majikan, Catherine melanjutkan, sang majikan dapat melihat bagaimana sikap yang akan ditunjukkan calon PRT. Dari situ, kesabaran ataupun cara dia membujuk anak akan terlihat jelas.

"Jika dia punya hati untuk anak-anak kan kelihatan, dari kesabarannya segala macam. Lalu, kelihatannya lagi kalau anak sedang rewel apa yang akan dia lakukan untuk membujuk itu agar tenang. Nah, dari situ kita bisa tahu orang ini sabar atau enggak. Jadi yang mau ditekankan, sang ibu harus mengamatinya secara langsung dan merasakan orang ini sebetulnya baik atau pura-pura baik," kata Catherine melanjutkan. 

Selain meminta calon PRT untuk bekerja di hadapan majikan saat proses tes ini, cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengajaknya mengobrol. Menanyakan tentang latar belakangnya, motivasi bekerja, riwayat hidupnya, serta pengalamannya dalam bekerja. Dari gambaran tersebut, akan membantu sang majikan memahami profil calon PRT. Mengajak calon PRT berbicara tentang dirinya, akan membantu majikan mengajarkan bersikap terbuka.

Di sisi lain, sang majikan juga akan lebih mudah untuk mengenal siapa sosok yang akan ia percayakan untuk membantunya dalam mengurus rumah dan juga menangani anaknya. 

"Kalau mau lebih yakin lagi, minta nomor telepon majikan dia sebelumnya dan tanyakan kenapa dia berhenti. Sebetulnya, yang paling bagus itu kalau kita tahu dia direkomendasikan oleh siapa karena sekarang ini banyak yayasan yang abal-abal, padahal dia enggak punya kualifikasi apa-apa," kata Catherine.

Terkait dengan durasi tes psikologi dan mengamati calon PRT, menurut Catherene, tidak bisa dilakukan dalam waktu satu atau dua hari saja. Waktu minimal untuk mengenal karakter seseorang itu adalah seminggu. Selama seminggu, kata Catherine, majikan harus intens melihat dengan seksama tingkah laku calon PRT tersebut dalam menangani anak maupun saat ia diberikan tanggung jawab. 

Cara lain yang bisa dilakukan untuk mengenal calon PRT dengan cepat adalah dengan melakukan tanya jawab terkait suatu kasus. Misalnya, menanyakan seputar anak yang rewel lalu apa yang akan dilakukan calon PRT.

Namun menurut dia, sang majikan juga harus waspada bila calon PRT terlalu pintar. Artinya mewaspadai bila calon PRT memanfaatkan kepintarannya untuk memanipulasi keadaan.

"Misalnya dia tahu tentang obat-obatan. Kalau anak rewel, bisa saja dia memberikan obat batuk, dan anak pasti tidur kan. Kalau dia ngasih obat batuk melebihi dosis atau sebenarnya anak enggak batuk tapi dikasih obat batuk, itu akan menjadi racun," kata Catherine.

Namun, menurut Catherine, kebutuhan akan PRT dalam keluarga tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan seperti apa yang diinginkan dari keluarga tersebut. 

Ia juga menyoroti hubungan yang terjalin antara PRT dengan sang anak dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak, terutama di bawah usia 12 tahun. Pengaruh tersebut dapat terjadi jika waktu anak lebih banyak berada dalam asuhan PRT tanpa adanya campur tangan dari orang tua atau majikannya.

Maka, menurut Catherine, dalam memilih PRT, seseorang haruslah bijaksana dan pribadi calon PRT tersebut harus dikenali sebelum ia masuk ke dalam keluarga.

KOMENTAR
500/500