Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Kerabat Jadi Korban KDRT, Apa yang Harus Dilakukan?

Estimasi Baca:
Jumat, 27 Jul 2018 07:35:56 WIB

Kriminologi.id - Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT hingga kini masih menjadi masalah yang terus berulang. Beberapa waktu yang lalu, KDRT yang cukup sadis terjadi di kawasan Depok, Jawa Barat. Nurul Amelia alias Atun mengalami penganiayaan dan pelecehan oleh suaminya, Prima Hadi Waspada alias Adoy, di tempat umum.

Atun mengalami siksaan bertubi-tubi dari suaminya, Senin, 23 Juli 2018. Tidak hanya kekerasan fisik, Atun juga menerima pelecehan dari suaminya seperti disuruh menjilati jempol kaki si suami hingga ditelanjangi di salah satu tempat Biliar.

Tidak hanya itu, Atun juga mengalami kekerasan ekonomi. Adoy hanya memberikan uang belanja kepada istrinya sebesar Rp 50 ribu untuk keperluan belanja seminggu. Hal itu dikarenakan Adoy tidak memiliki pekerjaan yang jelas sehingga ia tidak menafkahi keluarga dan anaknya.

Banyaknya kasus KDRT yang terjadi pada perempuan Indonesia menjadi hal yang sangat memprihatinkan. Sepanjang 2017 saja, Komnas Perempuan mencatat ada sekitar 259 ribu laporan kasus KDRT.

Beberapa tanda hubungan yang telah mengarah pada tindak kekerasan sebenarnya sudah bisa dikenali sebelum kekerasan yang lebih buruk terjadi. Mulai dari sikap meremehkan, mengatur yang berlebihan, hingga adanya ancaman kekerasan. Namun, para korban sering kali sudah menyadari dirinya menjadi korban kekerasan, tetapi enggan untuk melapor.

Jumlah yang tercatat itu hanya berdasarkan pada kasus-kasus yang terlaporkan. Banyak juga korban KDRT yang pada akhirnya hanya bisa pasrah dan tidak melaporkan kekerasan yang dialaminya. Biasanya hal itu terjadi karena mereka merasa takut. Hal ini juga yang ternyata dialami Atun.

Sikap pasrah yang terjadi di beberapa korban KDRT ini ternyata sesuatu yang rumit, dan banyak latar belakang yang menyebabkannya. Korban mungkin merasa takut pelaku akan menyakiti anaknya atau membawa anaknya pergi.

Dalam beberapa kasus, korban memilih pasrah karena ia tidak ingin memecah keluarga atau karena alasan agama. Jika sudah demikian, orang-orang di sekitar korbanlah yang kemudian dapat membantunya. Setidaknya menjadi pendengar yang baik dan rekan yang suportif.

Seperti dilansir Centerstone, ada beberapa hal dapat Anda lakukan untuk membantu ketika mengetahui ada kerabat yang menjadi korban KDRT, antara lain:

1. Beri tahu bahwa Anda mengkhawatirkan keselamatannya

Bantu kerabat Anda untuk mengenali kekerasan yang dialaminya. Katakan padanya Anda melihat apa yang sedang terjadi dan Anda ingin membantu. Bantu mereka menyadari apa yang terjadi tidak “normal” dan mereka berhak mendapatkan hubungan yang sehat dan tanpa kekerasan.

2. Beri tahu situasi yang tengah dialaminya

Beri tahu kerabat Anda kekerasan yang diterimanya bukan karena kesalahannya. Yakinkan dirinya, ia tidak sendiri dan ada bantuan dan dukungan di luar sana.

3. Bersikaplah suportif

Dengarkan kerabat Anda dengan baik. Perlu diingat mungkin akan sulit baginya untuk membicarakan kekerasan tersebut. Biarkan ia tahu Anda siap membant kapan pun mereka membutuhkannya. Yang paling dibutuhkan korban adalah seseorang yang mau mempercayai dan mendengarkannya.

4. Jangan bersikap menghakimi

Hargai keputusan kerabat Anda. Terkadang ada saja beberapa alasan yang membuat kerabat Anda pasrah dan tetap bertahan di hubungan yang penuh kekerasan tersebut. Jangan mengkritik keputusannya itu atau mencoba untuk membuat mereka merasa bersalah. Ia justru akan membutuhkan dukungan yang lebih dari Anda.

5. Bantu rencana keselamatan

Dorong kerabat Anda untuk berbicara dengan orang-orang yang dapat memberikan bantuan dan bimbingan. Temuan tempat-tempat yang menyediakan konseling atau kelompok pendukung untuk korban kekerasan. Tawarkan diri untuk selalu mendampinginya berbicara dengan keluarganya. Tawarkan dukungan moral Anda ketika ia memutuskan untuk melapor ke pihak berwajib.

6. Ingat, keputusan tetap pada kerabat Anda

Meskipun sulit untuk melihat seseorang yang Anda sayangi terluka, pada akhirnya ia sendirilah yang harus memutuskan ketika mereka ingin melakukan sesuatu. Yang harus Anda lakukan adalah mendukungnya dan membantunya menemukan cara untuk selamat dan mengakhiri kekerasan yang dialaminya.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500