Ilustrasi Penjualan Rumah, Ilustrasi: Pixabay.com

Penting, 8 Kiat Hindari Jebakan Batman Agen Properti

Estimasi Baca:
Kamis, 2 Nov 2017 17:08:01 WIB

Kriminologi.id - Korban dugaan penipuan pembangunan perumahan syariah PT Arm Cipta Mulia Development mengadu ke Bareskrim Mabes Polri. Pihak developer menjanjikan kepada konsumen bahwa perumahan yang dibangun tidak menggandeng pihak bank sehingga perumahan ini bebas riba.

Ada tiga kompleks perumahan yang dijanjikan dibangun developer yaitu De Alexandria Residence, The New Alexandira, dan The Icon Lakeside Village. Ketiga kompleks ini akan dibangun di Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, para konsumen tidak mendapat kejelasan dan tidak melihat perkembangan pembangunan proyek itu.

Baca: Tipu Konsumen, Pengembang Perumahan Syariah Dilaporkan ke Bareskrim

Rumah adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Seperti yang disebutkan dalam situs first-learn.com ada lima kebutuhan dasar manusia yaitu ketersediaan air, udara, makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Infografik waspadai febakan agen properti.

Menurut data Badan Pusat Statisti atau BPS terdapat 48,33 persen masyarakat DKI Jakarta yang tinggal di rumah milik pribadi. Sedangkan sisanya tinggal di rumah sewa atau kos. Harga rumah dan properti di Jakarta yang sangat mahal, menjadikan masyarakat lebih memilih mencari tempat tinggal di daerah penyangga seperti Depok, Bekasi, dan Tangerang.

Melihat peluang ini, ada sejumlah pihak yang memanfaatkannya untuk mengambil keuntungan pribadi. Dengan iming-iming harga murah dan fasilitas yang ditawarkan, banyak pembeli dan investor yang tertipu. Agar tidak menjadi korban "jebakan Batman" dari agen properti, ada baiknya melakukan langkah yang disadur dari mashvisor.com berikut ini:

1.  Riset Pribadi

Sebelum membeli rumah atau properti tertentu, sebaiknya riset atau penelusuran sendiri. Misalnya terkait sejarah dan rekam jejak pengembang perumahan atau properti tersebut. Jika perlu Anda dapat mengunjungi salah satu proyek yang telah dibangun oleh pengembang yang sama. Ini dilakukan untuk melihat apakah benar janji developer dipenuhi saat pembangunannya, termasuk kualitas bahan yang digunakan dalam membangun rumah atau properti tersebut.

2. Cek Dokumen

Banyak memang pengembang baru tanpa memiliki sejarah proyek pembangunan yang telah direalisasikan. Jika begitu, Anda dapat melakukan pengecekan terhadap dokumen-dokumen yang dimiliki perusahaan pengembang dan juga agen pemasaran rumah atau properti tersebut.

Baca: Kerugian Hanya Rp 4,7 M, Kasus Penipuan Perumahan Syariah Dilimpahkan

3. Pendapat Profesional

Mencari pendapat kedua atau ketiga dari orang-orang yang profesional di bidangnya dapat memberikan gambaran yang lebih utuh terkait pengembang, proyek pembangunan, dan kemungkinan proyek tersebut dilakukan. Seringkali korban penipuan pembelian dan investasi perumahan atau properti adalah orang awam.

4. Jangan Terpancing

Biasanya ucapan agen pemasaran sangat persuasif untuk mengajak Anda segera membeli rumah atau properti yang ditawarkan. Begitu banyak kemudahan dan fasilitas dia sodorkan untuk menjadi umpan agar konsumen segera memutuskan untuk membeli rumah atau properti tersebut saat itu juga.

5. Jangan Terburu-buru

Hampir mirip dengan poin sebelumnya, agen pemasaran pasti memaksa Anda menyerahkan sejumlah uang sebagai tanda jadi pembelian. Biasanya untuk menarik minat konsumen, agen pemasaran akan memberikan informasi diskon atau potongan harga hanya berlaku untuk pemesanan hari ini saja dan hari selanjutnya akan mendapatkan harga normal. Sehingga Anda tidak sempat lagi melakukan riset personal, mencari tahu kebenaran dan keaslian dokumen, apalagi meninjau proyek pembangunan yang dimaksud.

Baca: Tipu Rp 1,7 M, Perempuan Bergaya Sosialita Ngaku Ponakan Kapolri

6. Teken Akad

Perjanjian dan kesepakatan atau akad selalu ditandai dengan penandatanganan resmi kedua pihak yaitu antara penjual dan pembeli dengan dibubuhi materai. Sehingga akad ini memiliki kekuatan di mata hukum. Jangan hanya percaya pada ucapan agen pemasaran atau pengembang saja tanpa adanya surat perjanjian. Surat inilah yang nantinya dapat menjadi bukti yang menguatkan jika terjadi penipuan atau pelanggaran terhadap perjanjian awal.

7. Kunjungi Properti

Ada baiknya sebelum menyepakati pembelian rumah atau properti, Anda mengunjungi proyek pembangunan yang dimaksud. Ini untuk melihat keadaan nyata dari pembangunan tersebut, apakah sesuai dengan keterangan yang diberikan agen pemasaran atau tidak. Ini juga pertimbangan penting sebelum Anda membeli rumah atau properti.

8. Jangan Malu

Jangan malu atau letih menanyakan segala hal yang belum dijelaskan di surat perjanjian. Khususnya terkait dokumen dan surat-surat kepemilikan atas rumah atau properti tersebut. Tanyakan pula konsekuensi jika proyek pembangunan yang dijanjikan molor dan bahkan mandek, ganti rugi apa yang dijanjikan developer kepada konsumen. Intinya, perjelas semua hal sebelum memutuskan membeli rumah atau properti tersebut. BC

KOMENTAR
500/500