Tayang Terorisme pada Anak. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Saat Dihujani Isu Bom, Ini Tips Dampingi Anak Agar Terhindar Terorisme

Estimasi Baca:
Sabtu, 19 Mei 2018 08:05:06 WIB

Kriminologi.id - Selama 3 hari dalam sepekan ini peristiwa teror meletup di mana-mana. Di awali kasus kerusuhan di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, dan merambat ke peristiwa bom bunuh diri di gereja-gereja di daerah Surabaya, hingga bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya. 

Peristiwa teror tak berhenti di situ. Keesokan harinya, aksi teror bergeser ke Mapolda Riau yang menewaskan seorang perwira polisi berpangkat Ipda Auzar. Hal ini berdampak pada pemberitaan media, baik televisi, radio hingga media online hingga ke media sosial begitu deras mengabarkan aksi teror dengan beragam sudut pandang.

Akibatnya, nasib anak-anak yang secara tidak sadar mudah terpapar karena mengakses pemberitaan teror tersebut. Meski sudah dilarang orang tua, namun anak-anak tetap bisa mengakses informasi tersebut melalui media online dari ponsel pribadinya atau membuka media sosial.

Dunia maya menyediakan seluruh informasi yang diinginkan penggunanya. Larangan anak menonton berita aksi teror ini bukan jalan satu-satunya. Proses pendampingan orang tua saat si anak mengakses berita aksi bom atau kekerasan lain dari ponselnya menjadi langkah terbaik agar anak terhindar dari terorisme. 

Infografik waspadai 4 tahapan teroris dalam menanamkan radikalisme terhadap anggota keluarga. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Seperti yang dilansir dari National Society for The Prevention of Cruelty to Children (NSPCC) menyebutkan ada langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam meminimalisir dampak buruk pemberitaan tentang peristiwa teror yang ditonton atau dibaca oleh anak.

1. Dengarkan Ketakutan Anak Soal Terorisme

Ketika anak menonton ataupun membaca berita tentang terorisme dan korban-korban aksi terorisme tersebut, anak akan merasa khawatir dan takut. Anda bisa menanyakan kepada si anak apakah mereka merasa takut dan khawatir melihat tayangan teror.

Dengarkanlah dengan baik ketakutan, kekhawatiran anak, dan bagaimana anak memandang masalah terorisme. Jangan memutus cerita anak walaupun Anda berniat untuk memberikan penjelasan, biarkan anak menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu.

Saat orang tua mendengarkan ketakutan dan kekhawatiran anak sama dengan menunjukkan bahwa Anda peduli terhadap perasaan anak. Selain itu, anak akan merasa diperhatikan oleh orang tua dan tidak akan segan untuk menceritakan perasaannya ketika menemukan hal-hal membingungkan yang ditemukannya terkait masalah terorisme.

2. Berikan Perlindungan dan Kenyamanan

Kebanyakan anak-anak merasa takut dan khawatir jika dirinya menjadi korban. Orang tua dapat berbicara dengan anak bahwa kedua orang tuanya akan selalu berusaha membuatnya aman. Selain itu, ceritakan juga bahwa ada orang-orang yang akan berusaha menjaga keamanan semua orang dan memastikan peristiwa teror tersebut tidak terjadi lagi.

Misalnya saja polisi dan pemerintah yang berusaha menjamin keamanan setiap orang. Selain itu, katakan pada anak jika Anda tidak ada di sekitarnya namun tetap pada orang-orang lain yang akan melindunginya. Misalnya guru-gurunya di sekolah ataupun saudara-saudaranya. Hal ini akan mereduksi ketakutan dan kekhawatiran yang dirasakan si anak.

3. Hindari Penjelasan yang Membingungkan

Sebagai anak-anak tentu saja mereka menyimpan banyak pertanyaan terkait serangan teroris. Jelaskanlah secara sederhana siapakah sebenarnya para teroris itu, jangan gunakan kata-kata yang membingungkan bagi si anak. Anda bisa mengatakan bahwa terroris adalah orang-orang jahat yang ingin melukai masyarakat.

Ada beberapa anak yang menanyakan masalah agama terkait masalah terorisme. Anda bisa mengatakan bahwa tidak semua orang dengan agama tertentu adalah teroris dan katakanlah bahwa selalu ada orang-orang yang berbuat jahat di semua agama yang ada.

Selain itu, ceritakanlah bahwa agama apapun akan mengajarkan kebaikan dan mengutuk tindakan yang mengakibatkan orang lain menderita hingga menghilangkan nyawa orang lain.

Hal tersebut akan mengajarkan anak untuk tidak menghakimi agama tertentu sebagai pelaku terorisme. Mereka akan memahami bahwa teman-temannya yang berbeda agama dan tidak berbuat jahat terhadap dirinya bukanlah musuh.

4. Libatkan Kakek-Nenek atau Keluarga Terdekat

Seringkali anak-anak kebingungan ketika kedua orang tuanya tidak ada di sampingnya, namun mereka memiliki kekhawatiran atau pertanyaan di dalam benaknya. Anda dapat mengatakan bahwa mereka bisa menceritakannya kepada saudara-saudaranya ataupun kepada guru-guru sekolahnya.

Selain itu, anda bisa mendukung anak-anak untuk berbagai ceritanya kepada kakek-nenek ataupun paman dan bibinya, dan orang terdekat yang bisa dipercaya ketika kedua orang tuanya tidak ada.

Pastikan bahwa semua anggota keluarga akan mendengarkan si anak dan membantunya agar merasa aman berada di wilayah tersebut bersama keluarganya.

Langkah-langkah tersebut dapat dilakukan oleh orang tua untuk memberikan pemahaman pada si anak dan sekaligus meminimalisir ketakutan yang dialami anak dengan tetap menumbuhkan sikap toleransi dan tidak menghakimi agama tertentu sebagai bagian dari tindakan terorisme.

KOMENTAR
500/500