Ilustrasi radikalisme di dunia pendidikan. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Tips Cegah Radikalisasi Pada Anak, Ajarkan Berpikir Kritis

Estimasi Baca:
Sabtu, 19 Mei 2018 10:10:54 WIB

Kriminologi.id - Pencegahan terhadap paham radikalisme harus dimulai sejak institusi sosial terkecil, yakni keluarga. Di sini, orang tua berperan penting menjadi agen pencegahan. Sala satu caranya adalah dengan mengajari anak berpikir kritis terhadap sebuah ideologi tertentu.

Banyaknya berita terkait aksi terorisme yang terjadi dalam sepekan ini mengisyaratkan bahwa masalah radikalisasi dan ekstremisme harus segera ditanggapi dengan serius.

Anak muda disadari sangat rentan terhadap paham radikalisme. Hal ini dikarenakan secara psikologis anak muda, khususnya pada usia belasan, sedang dalam masa pencarian jati diri. Anak muda dari berbagai latar belakang berjuang untuk mencari identitas mereka.

Masa-masa pencarian identitas inilah yang menjadi celah bagi kelompok ekstremis. Para ekstremis mengeksploitasi kebingungan anak muda dengan pesan-pesan radikal yang negatif.

Dengan teknologi yang semakin berkembang, pesan radikalisasi tersebut tersebar secara online. Radikalisasi online kemudian menjadi semacam perawatan ide, yang di dalamnya anak-anak muda rentan terus dipapari dengan pandangan ekstremis dan membuat mereka percaya bahwa yang mereka yakini itu normal.

Oleh karena itu, orang tua memiliki peran yang penting dalam mempengaruhi kebimbangan identitas anaknya. Masa pencarian identitas diri pada anak merupakan waktu bagi orang tua untuk menekankan pesan-pesan yang positif pada anak, dengan menekankan menjadi nyaman dengan diri sendiri.

Quiliam Foundation, sebuah tim think-tank kontra-terorisme berbasis di London, memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mencegah radikalisasi pada anak. 

Infografik Panduan Bagi Orang Tua Berbicara Tentang Terorisme Pada Anak. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Sebagaimana Kriminologi.id sadur dari parentINFO, orang tua dapat berperan aktif dalam memberi pesan-pesan positif pada anak, seperti:

1. Beritahu penilaian yang benar terkait hak asasi manusia dan kesetaraan

Semua jenis ekstremisme tidak sesuai dengan hak asasi manusia, seperti kebebasan berkespresi dan kesetaraan untuk semua orang. Menanamkan pada anak nilai-nilai menghormati perbedaan dan menghargai hak orang lain dapat membuat mereka kurang menerima pandangan ekstremis.

2. Jangan campur adukan ekstremis Islam dengan Islam

Hal ini sangat penting, mengingat banyaknya kelompok ekstremis yang mengatasnamakan Islam. Dengan tidak mencampur adukan kedua hal ini, Anda sebagai orang tua tidak akan merusak kebebasan beragama ketika Anda hendak menantang ekstremisme.

3. Mengajarkan berpikir kritis

Ideologi ekstremis adalah hitam dan putih. Ajari anak Anda untuk berpikir kritis tentang apa yang mereka dengar. Kelompok ekstremis sering kali hanya menyajikan setengah kebenaran. Ajak anak Anda berbicara tentang betapa rumitnya masalah politik dan agama juga dapat membantu mereka memahami bahwa jawaban suatu masalah tidak selalu sederhana.

4. Waspadai teknologi

Internet adalah salah satu cara anak muda terhubung dengan ekstremis yang ingin mengeksploitasinya. Bicarakan dengan anak Anda tentang apa yang mereka lakukan secara online. Selain itu, tetap waspada terhadap tanda-tanda peringatan potensial anak Anda telah terpapar radikalisasi, seperti peningkatan kerahasiaan.

5. Bicarakan tentang identitas

Sebagai orang tua, yakinkan anak Anda yang mungkin berjuang dengan identitasnya bahwa memiliki banyak aspek yang berbeda adalah hal yang normal.

Memberi tahu mereka bahwa Anda ada dan mendukung mereka saat mereka sedang dalam masa pencarian identitas adalah salah satu hal terpenting yang dapat Anda lakukan. Pastikan anak Anda tahu bahwa mereka bisa datang kapan saja kepada Anda untuk meminta bimbingan.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500