Ilustrasi kerPenangkapan Daus Pengedar Sabu Milik Anggota DPRD Langkat. Foto: Ist/Kriminologi.idusuhan dalam penjara. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Video BNN Tangkap Daus Pengedar Sabu Milik Anggota DPRD Langkat

Estimasi Baca:
Rabu, 22 Ags 2018 19:05:08 WIB

Kriminologi.id - Badan Narkotika Nasional  atau BNN menankap Firdaus alias Daus rekan dari anggota DPRD Langkat bernama Ibrahim di Bandara Aceh, Rabu, 22 Agustus 2018. Daus merupakan pengantar 150 kilogram sabu-sabu dan 30 ribu butir ekstasi.

Dalam video yang diterima Kriminologi.id, tampak Daus menggunakan baju biru dengan motif garis merah putih di dada serta bercelana Jins. Daus ditangkap oleh petugas BNN yang menggunakan baju seragam biru muda dengan tulisan BNN.

Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari menjelaskan bahwa Daus merupakan orang suruhan Ibrahim alias Hongkong untuk mengantarkan narkoba dari Malaysia ke Aceh.

"Dia (Daus) merupakan suruhan Ibrahim alias Hongkong untuk mengantar sabu-sabu dengan speed boat dari pulau Penang, Malaysia ke tempat serah terima di tengah laut,"kataArman Depari saat dikonfirmasi, Rabu, 22 Agustus 2018 sore.

 

Arman menjelaskan bahwa  Daus berupaya mengelabui petugas dengan membeli tiket pesawat dari Penang, Malaysia tujuan Aceh. Setelah cek in dan cap pasport di imigrasi bandara, ternyata Daus tidak berangkat. Daus malah pergi ke Kuala lumpur. 

"Di Kuala Lumpur Daus beli tiket pesawat dengan tujuan ke Aceh, petugas BNN yang langsung menangkap Daus ketika turun dari pesawat dan langsung diterbangkan ke Medan," kata Arman.

Menurut keterangan Daus, dia telah empat kali mengantar sabu-sabu ke tengah laut atas perintah Ibrahim alias Hongkong. Sekali mengantar paket Daus mendapat upah sebanyak Rp 80 juta.

"Dari keterangan Daus, kami ketahui, Ibrahim bukan satu dua kali mengirim sabu-sabu ke Indonesia," jelas Arman.

Seperti diketahui Ibrahim alias Hongkong merupakan anggota DPRD Langkat ditangkap BNN karena kepemilikan 150 kilogram sabu-sabu dan 30 ribu butir ekstasi.

Reporter: Rahmat Kurnia
Multimedia: S. Dwiangga Perwira
KOMENTAR
500/500