Pedagang diserang Geng Motor di Bekasi. Foto: Ist/Kriminologi.id

Video Geng Motor Bercelurit Serang Pedagang di Bekasi

Estimasi Baca:
Rabu, 8 Ags 2018 13:15:00 WIB

Kriminologi.id - Sekelompok geng motor menyerang dua pedagang yakni seorang pedagang sate Madura dan nasi bebek di  Jalan Bintara 17, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Selasa, 7 Agustus 2018  pukul 03.00 WIB.

Kejadian berawal saat korban bernama Muhammad Yusron (19) baru selesai berjualan sate bersama satu rekanya bernama Saiful (19) seorang pedagang nasi bebek sedang duduk di bangku warteg sambil bermain ponsel hingga pukul 03.00 WIB.

Ketika sedang asik bermain ponsel, datang seorang pelaku dari arah belakang Jalan Bintara 17 dengan berjalan kaki menuju tempat nongkrong Yusron dan Saiful di bangku depan warteg milik ibu Watem (45).

Pelaku lain tampak  menggunakan tiga motor kemudian datang dan sempat berhenti di samping warteg, satu pelaku membawa senjata tajam jenis celurit kemudian turun dari sepeda motornya kemudian meminta ponsel milik korban. Saiful yang ketakutan memberikan ponselnya, sementara Yusron mencoba melarikan diri, melihat Yusron melarikan diri, satu pelaku yang membawa celurit kemudian mengejar korban.

Korban yang berusaha melawan pelaku akhirnya tumbang setelah celurit pelaku melukai bagian tangan kiri,  paha kiri, paha kanan. Usai disabet celurit Yusron mendapat tujuh luka sabetan celurit. Usai melukai korban dan berhasil mengambil ponsel milik Saiful, para pelaku langsung melarikan diri ke arah belakang Kecamatan Bekasi Barat, warga yang melihat kejadian langsung berusaha menolong korban.

Dari keterangan pemilik warteg bernama Watem, korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur untuk mendapatkan perawatan.

"Langsung dibawa sama warga ke RS Islam Pondok Kopi, dibawa pake motor, dia pedagang sate sama nasi bebek," kata Watem kepada Kriminologi.id, Rabu, 8 Agustus 2018.

Saat ini kasus penyerangan terhadap dua pedagang telah dilaporkan ke Mapolsek Bekasi Kota.

Reporter: Rahmat Kurnia
Multimedia: S. Dwiangga Perwira
KOMENTAR
500/500