Penampakan Luka Bocah SD yang Disiksa Ibu Tirinya di Purbalingga. Foto: Ist/Kriminologi.id

Video Penampakan Luka Bocah SD yang Disiksa Ibu Tirinya di Purbalingga

Estimasi Baca:
Rabu, 29 Ags 2018 23:15:22 WIB

Kriminologi.id - Sebuah video seorang  bocah SD dengan luka-luka di sekujur tubuh akibat penyiksaan yang dilakukan oleh ibunya beredar di media sosial. Video itu viral usai diunggah oleh akun Facebook bernama Didik Pictures pada Rabu, 29 Agustus 2018.

"Sungguh menyedihkan, anak kecil disiksa ibu tiri dari bayi,..anak Kaligondang Purbalingga Jawa Tengah" tulis akun tersebut pada keterangan video.

Dalam video yang berdurasi 2 menit 50 detik itu tampak guru SDN 1 Pagerandong, Purbalingga tersebut sedang melihat luka di sekujur tubuh sang bocah. Saat membuka lengan baju sang bocah terlihat bekas luka lebam di bagian lengan korban.

"Ini  diapakan ini pakai apa ini, nyiksanya pakai apa?" tanya seseorang guru.

"Meja" jawab bocah itudengan lirih. 

Selain bekas luka di tangan, pada bagian paha kaki terlihat bekas luka sayatan benda tajam. 

Saat ditemui wartawan, Kepala SDN 1 Pagerandong, Giatri mengaku sengaja membuat video mengenai kondisi bocah berinisial IM tersebut pada Senin, 27 Agustus 2018 untuk dijadikan sebagai bukti laporan kepada Kepala Desa Pagerandong guna mengambil langkah selanjutnya.

Menurut dia, hal itu dilakukan karena guru kelas 1 pada Sabtu, 25 Agustus 2018 bercerita mengenai kondisi IM yang sering menyendiri dan banyak terdapat luka pada tubuhnya.

Sementara itu, Kasat Reserse Kriminal Polres Purbalingga AKP Poniman mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus penganiayaan yang menimpa IM.

"Anak tersebut sudah kami bawa ke rumah sakit untuk dimintakan visum. Dari hasil visum tersebut diketahui bahwa luka-luka itu disebabkan oleh benda tumpul. Ada yang luka terbuka, luka lebam. Itu diperkirakan dianiaya oleh seseorang," ujarnya.

Saat dimintai keterangan, kata dia, IM mengakui jika luka-luka pada tubuhnya akibat penganiayaan yang sering dilakukan ibu tirinya.

Multimedia: S. Dwiangga Perwira
KOMENTAR
500/500