Penemuan bayi laki-laki di tumpukan sampah Pasar Minggu. Foto: Ist/Kriminologi.id

Video Penemuan Bayi Laki-Laki di Tumpukan Sampah Pasar Minggu

Estimasi Baca:
Jumat, 22 Jun 2018 16:05:49 WIB

Kriminologi.id - Bayi berjenis laki-laki ditemukan terbungkus plastik di tumpukkan sampah di Dang Daeng, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Kamis, 22 Juni 2018 sekitar pukul 22.00 WIB. 

Dalam video yang diterima Kriminologi.id tampak bayi yang ditemukan tersebut berjenis kelamin laki-laki. Penemuan bayi yang berselimut kain batik di  dalam plastik hitam itu berawal dari suara jeritan yang di kira kucing oleh warga yang bernama Ahmad Hermanto (33), seorang karyawan swasta.

Ketika Hermanto mendatangi lokasi sumber suara yang ternyata dirinya menemukan sosok bayi di atas tumpukkan sampah. 

Kapolsek Pasar Minggu Kompol Harsono membenarkan penemuan bayi lelaki tersebut. 

"Pukul 19:00 WIB, saksi mendengar kembali suara tersebut semakin kencang dan saksi mengecek sumber suara di tumpukan sampah di Dang Daeng yang cukup berukuran hanya untuk satu motor saja. Ternyata, di tumpukan sampah tersebut ditemukan bayi," tutur Harsono saat dihubungi Kriminologi.id di Jakarta, 22 Juni 2018.

Bayi laki-laki tersebut langsung dibawa menuju Rumah Sakit Siaga Raya yang terletak di Pejaten, Pasar Minggu untuk mendapatkan perawatan.

"Dari hasil pengecekan di rumah sakit, bayi dalam kondisi masih hidup dan berjenis kelamin laki-laki. Umur Bayi sekitar 2-3 hari, berat badan sekitar 3 kilogram, dengan panjang 43 centimeter. Tali pusarnya sudah dalam keadaan terpotong. Badannya dibalut kain batik warna coklat," ujar Harsono.

Hingga kini, kepolisian masih belum menemukan siapa orangtua dari bayi laki-laki tersebut. Oleh karena itu, Harsono menyampaikan, pihaknya akan menelusuri temuan bayi tersebut lebih lanjut.

"Sampai saat ini kami belum menemukan siapa orangtua bayi tersebut. Kami akan mencari keterangan dari saksi. Kami juga akan mengecek CCTV milik warga yang mengarah ke area Gang Daeng," kata Harsono. 

Reporter: Erwin Maulana
Multimedia: S. Dwiangga Perwira
KOMENTAR
500/500