Polisi tangkap 7 calo tiket Asian Games di Stadion Patriot. Foto: Ist/Kriminologi.id

Video Polisi Tangkap Tujuh Calo Tiket Asian Games di Stadion Patriot

Estimasi Baca:
Jumat, 17 Ags 2018 17:45:32 WIB

Kriminologi.id - Polisi menangkap tujuh calo tiket pertandingan cabang olahraga sepak bola pada babak penyisihan group A diajang perhelatan Asian Games 2018 antara Indonesia melawan Laos di Stadion Patriot Chandrabhaga Kota Bekasi, Jawa barat pada Kamis, 17 Agustus 2018.

Para calo tersebut diamankan lantaran nyaris dipukuli suporter yang marah padar ulah si calo.

Kericuhan bermula saat pendukung Timnas Indonesia yang sudah mengantri sejak pagi kecewa  karena tiket seharga Rp 75 ribu sudah habis sejak pukul 09.00 WIB. Para suporter menuding habisnya tiket lantaran ulah calo yang memborong banyak tiket.

"Pak polisi, tolong tuh calo. Ini tiket abis sama calo nih. Masa baru jam 9  tiket udah abis, calo megang tiket banyak," celetuk salah satu pendukung timnas di Stadion Patriot.

Banyaknya suporter yang tak kebagian tiket membuat situasi makin memanas, terlebih saat itu banyak calo yang menawarkan tiket Rp 75 ribu dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.

Petugas polisi Brimob dan Sabhara berusaha menenangkan para suporter, namun permintaan suporter yaitu mengamankan para calo yang membuat kesal para suporter.

"Tuh kok calo bisa pada punya tiket. Tolong tangkap pak," kata salah suporter.

Petugas kepolisian kemudian mengamankan para calo dan menggiringnya kedalam kantor keamanan stadion. Saat digiring suporter kemudian meneriaki para calo bahkan beberapa suporter hendak memukuli calo.

Seorang calo berinisial T, mengungkapkan dirinya menjual tiket harga Rp 75 ribu menjadi Rp 150 ribu, bahkan jelang pertandingan harga tiket bisa mencapai Rp 200 ribu.
"Jual 150 ribu, saya kan antri biasa. Ini cuman jual 5 tiket bang," kata T.

Ketika diperiksa polisi, rata-rata satu calo mempunyai delapan tiket bahkan ada calo yang memiliki 200 tiket di dalam kantong plastik untuk dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.

Reporter: Rahmat Kurnia
Multimedia: S. Dwiangga Perwira
KOMENTAR
500/500