pixabay.com

6 Skandal Pembunuhan Paling Misterius Sepanjang Masa

Estimasi Baca:
Jumat, 6 Okt 2017 20:10:52 WIB

Kriminologi.id - Kriminologi.id - Kasus pembunuhan memang selalu menyita perhatian publik. Apalagi, jika pembunuhan terjadi beruntun dan dilakukan secara brutal. Beritanya bakal menjadi perbincangan publik bukan hanya sehari, sepekan, sebulan, tetapi hingga bertahun-tahun lamanya.

Di Indonesia, salah satu kasus pembunuhan beruntun brutal terjadi medio 1996. Pembunuh itu bernama Siswanto alias Robot Gedek. Dia diketahui membunuh selusin anak di bawah umur. Siswanto menyodomi korbannya terlebih dahulu sebelum membunuh mereka lantas memutilasi tubuh korbannya.

Baca: Buronan Kasus Pembunuhan Tertangkap Setelah 10 Tahun Menghilang

Kisah di atas merupakan kasus pembunuhan brutal yang akhirnya terungkap. Namun, ada juga kasus serupa yang hingga bertahun-tahun diselidiki hasilnya nihil. Akibatnya, masyarakat ketakutan karena diliputi rasa tak aman. Polisi yang menyelidikinya pun dibuat putus asa dan tekor, karena keuangan operasional terkikis tanpa hasil.

Akhirnya, kasus pembunuhan yang tak terungkap tersebut dibiarkan menguap begitu saja, sehingga meninggalkan pertanyaan di benak masyarakat maupun aparat. Sebabnya, tahun-tahun berlalu tak juga ada penangkapan atau bahkan penetapan tersangka untuk diadili.

Baca: Siti Aisyah Mengaku Tak Bersalah dalam Pembunuhan Kim Jong-nam

Televisi berbayar Netflix, baru-baru ini menyelidiki kasus pembunuhan berdarah dingin biarawati Baltimore dalam tayangan dokumenter terbaru The Keeper. Hal ini mengingatkan kembali dengan beberapa kasus pembunuhan paling terkenal sejak 150 tahun terakhir. Meski berbeda, tapi memiliki satu kesamaan: pembunuh menjelma misteri.

Seperti yang dilansir dari Time.com, berikut ini enam kasus pembunuhan beruntun yang belum terungkap sepanjang masa:

#1. Jack The Ripper

Pembunuh berantai paling terkenal di London ini berkeliaran di East End lebih dari seabad lalu. Dia mengincar pelacur sebagai korbannya. Seusai membunuh, biasanya dia membuat tanda sebagai identitas: Jack the Ripper. Selain membunuh, dia juga kerap meneror daerah yang menjadi sarang penyamun itu.

Dalam rentang tiga bulan pada 1888, Jack The Ripper membunuh dan memotong setidaknya lima wanita. Kelima korbannya adalah Mary Ann Nichols, Annie Chapman, Elizabeth Stride, Catherine Eddowes, dan Mary Jane Kelly. Kasus ini lalu terkenal dengan sebutan Pembunuhan Whitechapel. Surat kabar The Morning Post menyebut pembunuhan itu biadab. Dalam pemberitannya, tindakan pembunuhan itu terlalu mengerikan untuk dideskripsikan.

Baca: Buron 7 Tahun, Pelaku Pembunuhan Tertangkap

Merespons peritiwa itu pemerintah setempat semula mengira tersangka adalah tukang daging atau dokter. Sebabnya, metode pembunuhannya dilakukan dengan sebilah pisau, termasuk keahlian membubuhkan tanda tangan dengan benda serupa. Dalam membunuh korban, Jack the Ripper menyayat tenggorokan, perut, dan organ tubuh lainnya hingga robek.

Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat atau FBI yang menganalisis kasus tersebut pada 1988 atas perintah perusahaan produksi film, menyatakan korban Jack the Ripper adalah peminum berat dan pelacur. Mereka menjadi target karena mudah diakses dan dibunuh dengan cepat di pagi hari. Polisi setempat yang memergoki pelaku saat beraksi bahkan tak berdaya.

Baca: Infografik: Sepuluh Pembunuh Berantai Tersadis Sedunia

Menurut FBI, penyelidikan terhadap kasus ini terhambat karena kala itu tak ada teknologi forensik dan cara lanjutan lainnya untuk menyelidiki pembunuhan secara menyeluruh. Arsip Nasional yang memperoleh dokumen antar penegak hukum, menggambarkan pada 1888 departemen kepolisian kewalahan mengungkap kasus Jack the Ripper.

Charles Warren, Komisaris Utama Polisi Metropolitan saat itu, meminta bantuan Kepolisian Kota London. Keterlibatan sejarawan dan kriminolog juga tak terhitung jumlahnya–baik amatir maupun profesional—untuk mengungkap kasus ini. Namun, mereka hanya bisa berspekulasi tentang identitas si pembunuh.

#2. Kematian Black Dahlia

Pemandangan itu menghentikan langkah seorang ibu dan anaknya. Mereka melihat wanita telanjang terbaring di trotoar. Tubuhnya teriris rapi di bagian pinggang dengan tidak ada satu pun darah menetes. Pembunuhan Elizabeth Short ini sangat terkenal. Usianya yang 22 tahun kala itu langsung menjadi berita utama pada 1947.

Surat kabar kemudian menambahkan dengan sebutan ‘Black Dahlia’ karena dia memiliki rambut hitam. Menurut catatan FBI, tubuh korban dikeringkan terlebih dulu sebelum dibuang ke tempat kosong di perumahan di Los Angeles, Amerika Serikat. Pelaku tampaknya pembunuh profesional dilihat dari caranya membedah dan memotong payudara korban.

Baca: 10 Pembunuh Berantai Tersadis Sedunia, Ryan Jombang Lewat

Dalam kasus ini, tidak jelas siapa aktor pembunuhnya. Beberapa lusin orang mengklaim memiliki riwayat kejahatan tingkat tinggi tersebut. Pihak berwenang setempat dibantu FBI yang menginvestigasi kasus ini menyatakan telah mengkonfirmasi kepada calon tersangka dan mewawancarainya di seluruh negara.

Hasilnya, tidak ada satu pun di antara mereka yang mengaku sebagai pelaku berkata jujur. Hingga kemudian kasus ini pun tidak terpecahkan. Pada 1987, kasus pembunuhan tersebut menjadi subyek sebuah novel. Hampur 20 tahun berselang sebuah film yang dibintangi Josh Hartnett, Hilary Swank, Aaron Eckhart dan Mia Kirshner, muncul berjudul Black Dahlia.

#3. Zodiac Sang Pembunuh

Zodiac bukanlah pembunuh biasa. Alih-alih menghindari sorotan, dia justru mendambakan perhatian media. Zodiac sepertinya menikmati saat mengejek polisi melalui catatan dan petunjuk sumir yang dia tinggalkan seusai membunuh para korbannya. Pembunuh Zodiac membunuh lima orang secara acak di California Utara pada 1968 dan 1969.

Dalam suratnya kepada polisi, dia mengaku ada lebih banyak korban yang sudah dibunuh olehnya. Aksi dimulai pada Desember 1968 dengan membunuh dua remaja di tempat parkir menggunakan pistol. Tujuh bulan kemudian, dua orang lainnya tertembak di sebuah mobil yang sedang terparkir. Namun, satu di antaranya selamat.

Baca: Cerita yang Tersisa di Hari Pembunuhan Indria

Sejak peristiwa itulah surat kabar lokal secara teratur mendapat surat dari seseorang yang secara anonim mengaku bertanggung jawab atas pembantaian tersebut. Surat itu dari orang misterius yang berisi pesan kode yang menjelaskan motif pembunuhannya. Kode-kode itu juga sekaligus kunci untuk membantu pembaca menguraikan identitasnya.

"Ini adalah Zodiac yang berbicara," tulisnya dalam sebuah surat yang tercatat pada Agustus. "Saya suka membunuh orang karena sangat menyenangkan. Ini lebih menyenangkan daripada membunuh hewan liar di hutan, karena manusia adalah hewan yang paling berbahaya."

Baca: Pembunuhan Murtianingsih, Tetangga Sempat Curiga dengan Agustinus

Saat pihak berwenang tidak dapat memecahkan kode untuk mengungkapkan namanya, Zodiac terus mencari korban. Pada akhir September 1969, Zodiac kembali menusuk dua orang dengan sebilah pisau. Tapi, salah satunya selamat.

Dua pekan kemudian, si pembunuh beraksi lagi. Dia menembak sopir taksi berusia 29 tahun. Selang beberapa hari kemudian, Zodiac mengirimkan sepotong baju berdarah yang berasal dari korban terakhirnya ke koran Chronicle. Sampai hari ini, tidak ada tersangka yang terkonfirmasi dalam kasus ini.

#4 dan 5. Pembunuhan Rapper Tupac Shakur dan Notorious B.I.G

Pada akhir 1990-an, dunia musik terguncang saat superstar musik hip hop, Tupac Shakur dan Notorious B.I.G. ditembak mati dalam rentang enam bulan secara terpisah. Pembunuhan terjadi setelah ditandai adanya persaingan ketat antara label rekaman mereka. Kedua rapper adalah artis papan atas untuk perusahaan rekaman yang bersaing itu.

Banyak yang mengatakan, pembunuhan itu pertanda permusuhan musik sudah terlalu jauh. Shakur terbunuh dalam sebuah pemotretan di Las Vegas, 13 September 1996, saat label rekamannya Death Day bertengkar dengan pesaingnya, Bad Boy. Enam bulan kemudian, Christopher Wallace dari Bad Boy –yang lebih dikenal dengan nama Biggie—terbunuh dengan cara yang sama. Rapper itu ditembak mati saat dia meninggalkan pesta industri musik di Los Angeles.

Baca: Kancing Baju Tuntun Polisi ke Skenario Pembunuhan Berencana

Menurut FBI, dua superstar itu sebelumnya berteman ketika berada di bawah perusahaan rekaman Bad Boy. Namun, karena kasus pemerkosaan yang menjeratnya, Tupac dipenjara. Karena keadaan vakum itulah, rekannya Biggie, menjadi semakin terkenal. Tupac kemudian beralih ke Death Row setelah keluar dari penjara.

Meski begitu, tidak jelas apakah persaingan yang menjadi penyebab pembunuhan keduanya. Sebab, polisi belum menemukan bukti yang cukup untuk menjerat kedua label rekaman tersebut.

#6. Pembunuhan JonBenet Ramsey

Ratu kecantikan berusia enam tahun, JonBenet Ramsey, ditemukan tewas di ruang bawah tanah rumah keluarganya di Colorado sehari setelah Natal pada 1996. Kejahatan tersebut sangat mengejutkan untuk lingkungan yang sepi dan makmur itu. Saat ditemukan, mayat pemenang kontes kecantikan itu terdapat bekas luka karena dipukuli dan dicekik.

Di bagian mulut dan tenggorokannya melekat selotip. Ibunda JonBenet, Patricia, mengatakan kepada polisi saat dirinya bangun pagi mendapati putrinya sudah hilang. Kemudian, dia menelepon 911 untuk melaporkan kasus penculikan itu. Patricia mengatakan, dia menemukan sebuah surat tiga halaman. Isinya permintaan tebusan sekitar US$ 118 ribu.

Baca: Detik-detik Pembunuhan Pasutri Benhil Hingga Mayat Dibuang

Beberapa jam kemudian, kepada polisi, ayah JonBenet bernama John, mengatakan telah menemukan mayat putrinya di ruang bawah tanah. Dari hasil autopsi, JonBenet meninggal karena sesak napas akibat cekikan. Sejak itulah kematiannya diputuskan sebagai pembunuhan.

Peristiwa ini menarik perhatian nasional. Keluarga Ramseys kemudian dicurigai oleh pihak kepolisian. Banyak kalangan yang juga berspekulasi, bahwa pelaku pembunuhan adalah orang tuanya sendiri. Namun, hingga kini pihak kepolisian tidak pernah mendakwa siapa pun sehubungan dengan kematian JonBenet.

Kepada CNN, John Ramsey mengatakan anggapan masyarakat yang menuduh keluarganya berada di balik kejahatan tersebut sangat memuakkan. "Saya tidak membunuh anak perempuan saya," kata John. TD | BC

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Bobby Chandra
KOMENTAR
500/500