Ilustrasi buronan koruptor. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Buronan Korupsi Sewa Lahan Negara Masih Bebas, Jaksa Dinilai Lemah

Estimasi Baca:
Senin, 6 Ags 2018 09:05:50 WIB

Kriminologi.id - Penyidik Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dinilai 'lemah' dan tidak serius menangkap boronan Soedirjo Aliman alias Jen Tang tersangka kasus dugaan korupsi penyewaan lahan negara di Kelurahan Buloa, Makassar. Lahan tersebut merupakan lahan milik negara berupa laut yang ditimbun Jen Tang kemudian disewakan kepada PT PP sebesar Rp 500 juta. 

 "Publik menunggu, bagaimana keseriusan penyidik Kejati Sulsel menangkap Jen Tang. Ini tentu menjadi pertanyaan ada apa sampai berbulan-bulan kasus ini tidak bisa dituntaskan," kata Wakil Direktur lembaga Anti Corruption Committee (ACC) Sulawesi, Kadir Wokanubun, Minggu, 5 Agustus 2018.

Kadir menjelaskan, ada dugaan unsur kesengajaan agar persoalan ini terlupakan oleh publik. Bahkan panggilan yang dilayangkan kepada Jen Tang sudah tiga kali diabaikan. Bahkan Jen Tang memilih kabur hingga menyandang status Daftar Pencarian Orang atau DPO.

Kendati Jen Tang sudah dicap DPO, namun belum ada reaksi kuat dari penyidik Kejati melakukan upaya serius menangkap otak di balik penyewaan lahan negara senilai Rp 500 juta tersebut kepada PT Pembangunan Perumahan (PP). Lahan tersebut digunakan sebagai akses jalan proyek pembangunan Makassar New Port.

Tidak sampai di situ, kata Kadir, anak Jen Tang yakni Edy Aliman diduga memberikan alamat palsu pada penyidik kejaksaan saat dipanggil untuk memberikan kesaksian terkait kasus ayahnya.

Menurut Kadir, anak dari Jen Tang yakni Edy juga diduga terlibat dalam kasus ini. Hal tersebut, kata Kadir, terungkap melalui anak Jen Tang lainnya, Jhony Aliman. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sebelumnya menemukan indikasi ada transaksi yang terendap pada salah satu rekening Jhony.

Secara terpisah, Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejati Sulsel, Salahuddin mengatakan pihaknya intens melakukan pelacakan keberadaaan Jen Tang. Tetapi dirinya belum mau membeberkan dengan alasan kehati-hatian.

"Saat ini tim Intel Kejati terus bekerja dengan bergerak cepat, hanya saja kami tidak ingin terburu-buru mengeksposnya, ini demi memperlancar proses penyelesaian kasus ini," katanya.

Sebelumya saat sidang tanggal 16 November 2017, Jayanti dan Rusdin, dua terdakwa kasus dugaan korupsi itu 'bernyanyi' bahwa uang sewa lahan PT Pembangunan Perumahan (PP) Persero ditransfer melalui Bank Mandiri cabang Hos Cokroaminoto Makassar dan masuk ke rekening Johny Aliman.

Dana ini ditarik tunai di kantor PT Jujur Jaya milik Jen Tang di Jalan Gunung Bawakaraeng Makassar. Hakim dalam persidangan itu menanyakan mengapa Rusdin tidak menggunakan rekening pribadi untuk menyimpan uang sewa itu, kata dia berdalih, lupa nomor rekeningnya.

"Saya punya rekening pribadi, tapi tidak ingat nomornya berapa. Jadi dipakai dulu rekening Johny," tutur Rusdin berkilah saat menjawab pertanyaan hakim kala itu.

Ironisnya, kedua terdakwa ini dinyatakan terbukti bersalah. Jayanti Ramli dan Rusdin dijatuhi pidana penjara selama satu tahun, denda Rp 50 juta, subsider 1 bulan kurungan. Rusdin juga diwajibkan membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 250 juta, subsidair 6 bulan penjara. Tetapi keduanya divonis bebas saat mengajukan banding pada 6 Maret 2018.

Kedua orang tersebut diketahui merupakan mantan orang kepercayaan Jen Tang. Keduanya ikut memuluskan kasus penyewaan lahan dengan mengklaim lahan tersebut miliknya. Sedangkan mantan Asisten I Pemkot Makassar M Sabri juga terlibat dalam perkara itu.

Lahan yang disewakan kepada PT PP dengan satuan panjang 500 meter dan 60 meter persegi sebesar Rp 500 juta pada 2016 ini ternyata milik negara berupa laut karena sebelumnya ditimbun oleh Jen Tang. 

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500