Kisah Gembong Teroris Marawi, Tewas di Tangan Penembak Jitu

Estimasi Baca :

Omar Maute dan Isnilon Hapilon Foto: newsinfo.inquirer.net - Kriminologi.id
Omar Maute dan Isnilon Hapilon Foto: newsinfo.inquirer.net

Kriminologi.id - Dua pemimpin teroris di Marawi, Filipina, yang terafiliasi dengan jaringan Negara Islam Irak dan Suriah ISIS dinyatakan tewas. Keduanya Isnilon Hapilon dari kelompok Abu Sayyaf dan Omarkhayam Maute, salah seorang dari Maute bersaudara. Mereka tewas ditembak dalam operasi militer saat menjelang subuh, Senin, 16 oktober 2017, atau empat bulan setelah dua pemimpin militan teroris bersenjata itu mengepung satu-satunya kota islam di Filipina.

Sebelum baku tembak terjadi, militer Filipina sudah mengintai pasukan teroris tersebut lebih dulu menggunakan perangkat yang dikendalikan oleh semacam alat pengendali atau remote. Upaya ini untuk menentukan lokasi keberadaan para teroris tersebut. Setelah mendapatkan lokasi persembunyiannya, barulah militer menyerbunya.

Baca: Polres Asahan Pantau 8 Warga Terindikasi ISIS

Hapilon dan Maute tewas ditembak oleh tim penembak jitu menggunakan senapan jarak jauh yang dilengkapi dengan alat penglihatan malam hari. Hapilon tewas setelah peluru menghujam dadanya. Sementara Maute terbunuh lantaran peluru menyasar kepalanya.

Selain menewaskan dua pemimpin teroris yang saling berafiliasi itu, militer Filipina juga mengklaim telah menewaskan lebih dari selusin pasukan mereka. Tak hanya itu, berdasarkan laporan Associated Press, selama operasi militer tersebut, militer Filipina dapat menyelamatkan setidaknya 17 sandera, termasuk di antaranya bayi dan wanita.

Panglima Angkatan Bersenjata Filipina, Eduardo Año, mengatakan baku tembak antara kelompok teroris dengan militer Filipina berlangsung selama empat jam. Dimulai sejak pukul 2 dini hari dan berakhir pukul 6 pagi. Saat penyerangan, kata Eduardo, kedua pemimpin teroris itu kerap berpindah tempat dari satu bangunan ke bangunan lainnya.

Baca: Polisi: Terduga Teroris Cirebon Berbaiat ke ISIS

Año mengatakan, kedua mayat tersebut sudah terkonfirmasi secara positif, bahwa itu adalah Hapilon dan Maute. Hal itu didukung oleh pengakuan beberapa kerabat militan teroris yang telah dibunuh, serta anggota kelompok Maute yang sebelumnya telah menyerah.

Kematian keduanya, menurut Año, selain mengakhiri pengejaran terhadap pemimpin teroris yang berlangsung selama berbulan-bulan, juga sebagai sinyal akhir dari peperangan antara kelompok militan teroris dengan militer, yang selama ini menyebabkan krisis kemanusiaan dan keamanan dalam beberapa tahun terakhir.

Baca: Jokowi Diteror, Tersangka Latihan Tembak di Dapur

Media Malaysia, The Star, telah mengkonfirmasi tewasnya pimpinan teroris melalui pesan singkat kepada keluarga Hapilon di Maluso dan Lantawan, Provinsi Basilan, Filipina. Secara bersamaan, mereka membenarkan kematian Hapilon. 

“Hapilon sudah mati. Saya yakin tentang hal itu,” kata salah seorang sepupu Hapilon.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana, mengatakan terbunuhnya dua pimpinan teroris itu menyiratkan konflik yang sedang berlangsung di Kota Marawi akan segera berakhir. Dalam waktu dekat, dia mengklaim pemerintah Filipina akan mengumumkan bahwa perang sudah berakhir.

Baca: 671 WNI Diduga Teroris Terlibat di Suriah Dan Irak

"Implikasinya adalah bahwa akhir insiden Marawi sudah dekat. Kami dapat mengumumkan penghentian perang dalam beberapa hari ke depan," kata Lorenzana dalam sebuah konferensi pers di televisi.

Adapun pihak militer yang berhasil membunuh Hapilon dan Maute, kata Lorenzana, akan mendapat imbalan yang berasal dari luar maupun dalam negeri. Nyawa Maute dikatakannya bernilai 5 juta peso. Sementara membunuh Hapilon dihargai US$ 5 juta dan 10 juta peso.  

“Itu uang besar, "kata Lorenzana.

Baca: Densus Intai Terduga Teroris Cirebon Sejak di Bandara

Meski demikian, militer Filipina tampaknya belum akan menghentikan operasinya untuk memerangi terorisme. Saat ini, operasi militer Filipina mengarah kepada pemodal gerakan terorisme di Marawi asal Malaysia, yakni Mahmud bin Ahmad. Bekas dosen studi Islam Universitas Malaya, Malaysia itu dikabarkan akan ditetapkan sebagai petinggi kelompok teroris ISIS di Marawi, Filipina menggantikan Hapilon dan Omar Maute.

"Menurut sejumlah laporan, dia masih bersembunyi di salah satu bangunan di sana (Marawi) dan itulah yang ingin mereka lakukan sekarang," kata Lorenzana. “Komplotan mereka masih memiliki sekitar 20 sandera lagi yang belum dapat diselamatkan oleh militer.” TD

Baca Selengkapnya

Home Rekam Jejak Buronan Kisah Gembong Teroris Marawi, Tewas di Tangan Penembak Jitu

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu