Allen Dulles, Foto: Istimewa

Bos CIA Dalang Penggulingan John F. Kennedy dan Sukarno?

Estimasi Baca:
Jumat, 8 Sep 2017 07:00:14 WIB

Kriminologi.id - Indonesianis asal Australia, Greg Poulgrain, membuka tabir baru motif pembunuhan Presiden Amerika Serikat, John Fitzgerald Kennedy dan penggulingan Presiden Sukarno. Poulgrain meyakini ada keterlibatan Central Intelligence Agency (CIA) dalam kedua peristiwa itu. Menyebut nama Direktur CIA, Allen Dulles, menurut Poulgrain, tujuan penggulingan tersebut sebenarnya untuk menguasai tambang emas di Papua.

Kesimpulan Poulgrain tersebut tertuang dalam sebuah buku hasil penelitian Poulgrain yang ditulis selama 30 tahun berjudul The Incubus of Intervention: Conflicting Indonesia Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles. Buku setebal 264 halaman ini menyebut sangat rinci peran Dulles dalam penggulingan kedua presiden yang bersahabat itu.

Bermula pada 1936. Jean Jacques Dozy, Ah Colijn, dan Franz Wissel menemukan sebuah bukit dengan kandungan bijih tembaga dan konsentrasi emas sangat tinggi. Mereka adalah ahli geologi yang bekerja untuk Netherland New Guinea Petroleum Company, sebuah perusahaan minyak yang bermarkas di Babo, Papua Barat.

BacaTragedi Rohingya dan Potensi Ancaman Keamanan Indonesia

Penemuan kandungan bijih tembaga dan emas ini oleh mereka lalu dibawa ke kantor pusat di Den Haag, Belanda. Setelah diananlisis, hasilnya membuktikan ada kandungan emas dua kali lipat lebih besar dari Witwatersrand di Afrika Selatan, yang saat itu merupakan tambang emas terkaya di dunia. Informasi ini lantas tak dipublikasikan. Khawatir berdampak pada situasi politik dan masa depan Papua.

Pada 1959, perusahaan minyak yang terpusat di Belanda yang dikendalikan Rockefeller ini kembali membuka hasil analisis ketiaga ahli geologi itu. Informasi tersebut lantas diketahui oleh Allen Dulles. Dulles kebetulan memiliki hubungan dekat dengan pengusaha minyak raksasa asal Amerika Serikat itu melalui kakaknya, John Foster Dulles, yang menjabat Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.

Dari situlah, Allen Dulles, berhasrat menguasai sumber daya alam berupa emas di Papua. Terlebih, sebelumnya Dulles yang juga berprofesi sebagai pengacara berbasis di Paris, Perancis, kerap membantu perusahaan minyak milik Rockefeller di Belanda dan Amerika Serikat terkait masalah investasi di negara dunia ketiga.

“Di Indonesia, operasi Dulles dimulai pada masa Presiden John F Kennedy. Dia yang dilantik sebagai Direktur CIA saat itu, tak memberi informasi sedikitpun kepada Kennedy terkait tambang emas di Grassberg, Papua,” kata Poulgrain.

Baca: Min Aung Hlaing, Jenderal di Balik Tragedi Rohingya

Sebelum Dulles memulai operasinya di Indonesia, pada 22 November 1963, Presiden Sukarno sempat mengundang Presiden Amerika Serikat ke-35 itu ke tanah air. Agendanya, selain mengakhiri konflik antara Indonesia-Malaysia, tujuan pertemuan ini juga untuk mendukung negara-negara yang baru merdeka mengentaskan kemiskinan melalui bantuan ekonomi dan pembangunan.

Namun, kunjungan Kennedy ke Indonesia tak pernah terwujud. Dia dibunuh di Dallas, Amerika Serikat, dua hari sebelum kunjungannya. Pembunuhan Kennedy, menurut Poulgrain, didalangi oleh Dulles. Dulles khawatir kunjungan Kennedy dapat merusak rencananya menggulingkan Soekarno. Jika ini terjadi, akan sangat suilit baginya menguasai emas Papua.

Terbunuhnya Kennedy membuat Dulles semakin leluasa merancang strategi menggulingkan Sukarno. Melalui CIA, Dulles kerap membuat peristiwa-peristiwa politik yang berdampak pada ekonomi tanah air. Presiden Sukarno pun dibuatnya tak berdaya hingga tak bisa mengkonsolidasikan kekuasaannya. Akibatnya, Dulles yang piawai di bidang intelijen sukses membuat pemerintahan Sukarno tak stabil.

Sejak itu, upaya Dulles menggulingkan Sukarno jalannya semakin mulus. Dulles menempatkan Jenderal Soeharto sebagai komandan pemberontakan terhadap pemerintahan Presiden Sukarno. Caranya, membuat situasi politik Indonesia kacau balau melalui pembantaian orang-orang yang terlibat Partai Komunis Indonesia atau diduga menjalin hubungan dengan partai tersebut.

Peristiwa yang kemudian dikenal dengan G30S PKI inilah yang menjadi titik awal tumbangnya kekuasaan Sukarno. Jenderal Soeharto yang disponsori CIA kemudian mengambil alih kekuasaan. Di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, jalan Dulles menguasai tambang emas di Papua terbuka lebar.

Penguasaannya terhadap tambang emas Grasberg, Papua Barat, ini dimulai pada 1966 melalui Freeport McMoran, di mana salah satu direktur perusahaan itu bernama Henry Kissinger merupakan rekan kerja Dulles sekaligus juga rekan kerja Rockefeller. TD

Penulis: Tito Dirhantoro
KOMENTAR
500/500