Kapal hantu di Myanmar, Foto: Yangon Police/Facebook

Kapal Kontainer Sam Ratulangi PB 1600 Terdampar di Perairan Yangon

Estimasi Baca:
Sabtu, 1 Sep 2018 15:00:32 WIB

Kriminologi.id - Polisi Myanmar mengungkap kapal kontainer besar berkarat yang mengambang di sekitar perairan Yangon itu dari Indonesia. Hasil penyelidikan tersebut berdasarakan kesaksian para nelayan yang melihat kapal tersebut berbendera Indonesia. 

Pekan lalu, kapal dengan nama lambung "Sam Ratulangi PB 1600" itu ditemukan mengambang di sekitar pantai kota yang menjadi pusat komersial Myanmar.

"Tidak ada pelaut atau muatan barang di kapal itu," kata polisi Yangon.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/kapal-hantu-di-myanmar-foto-1535773283.jpg

Untuk diketahui, kapal itu kandas pada Kamis, 30 Agustus 2018. Polisi serta personel angkatan laut Myanmar naik ke atas kapal untuk melakukan pemeriksaan.

Petugas setempat tidak menemukan awak atau barang apa pun di dalam "kapal hantu" tersebut.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial Facebook, polisi Yangon mengatakan kapal itu "terdampar di pantai dengan sehelai bendera Indonesia yang menempel di tiangnya".

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/kapal-hantu-di-myanmar-foto-1535773318.jpg

 

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/kapal-hantu-di-myanmar-foto-1535773359.jpg

Sekretaris Jenderal Federasi Pelaut Independen Myanmar Aung Kyaw Linn mengatakan kapal itu masih dalam keadaan laik jalan dan bisa dioperasikan untuk berlayar. Kyaw Linn menduga, kapal itu belum lama ditinggalkan para pelautnya. 

"Pasti ada sebabnya bahwa kapal itu ditelantarkan begitu saja," kata Kyaw Linn.

Menurut situs internet Marine Traffic, situs yang mencatat lalu lintas pergerakan kapal di seluruh dunia, kapal itu dibuat pada tahun 2001 dan panjangnya lebih dari 177 meter. Lokasi kapal itu terakhir kali tercatat di lepas pantai Taiwan pada tahun 2009.

Menurut kantor berita AFP, peristiwa terbaru ini merupakan yang pertama kalinya sebuah kapal yang ditelantarkan muncul di perairan Myanmar.

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Syahrul Munir
Sumber: BBC
KOMENTAR
500/500