Perjalanan Kasus Perampokan Pulomas, dari Beraksi Hingga Disidangkan

Estimasi Baca :

Persidangan kasus Pulomas, Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Persidangan kasus Pulomas, Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Tiga orang terdakwa kasus perampokan disertai pembunuhan yang terjadi di Pulomas, Jakarta Timur, pada 26 Desember 2016, akan menjalani sidang dengan agenda pembacaan vonis, Selasa, 17 Oktober 2017 di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Ius Pane alias Ridwan Sitorus dan Erwin Situmorang dituntut hukuman mati, sementara Alfin Sinaga dituntut hukuman penjara seumur hidup, pada sidang pembacaan tuntutan, 19 September 2017.

Mereka didakwa dengan pasal berlapis yakni Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, Pasal 339 tentang pembunuhan didahului kejahatan, Pasal 338 tentang pembunuhan, pasal 365 tentang pencurian dengan kekerasan, Pasal 363 tentang pencurian dengan pemberatan, dan Pasal 333 tentang penyekapan.

Kasus yang menjerat para terdakwa bemula saat ketiga terdakwa dan satu tersangka bernama Ramlan Butarbutar yang tewas saat dilakukan penangkapan itu merampok sebuah rumah mewah milik Dodi Triono, seorang arsitek, di rumah yang beralamat di Jalan Pulomas Utara Nomor 7A, Pulogadung, Jakarta Timur, 26 Desember 2016.

Para pelaku yang menggunakan mobil sedan, memasuki rumah Dodi melalui pintu teralis yang tak dikunci karena sopir Dodi hendak pergi. Lalu, Ramlan menodongkan senjata api ke sopir dan pembantu rumah tangga.

Baca: Menanti Vonis Kasus Perampokan dan Pembunuhan Pulomas

Kemudian Ramlan masuk ke tengah rumah dan mengumpulkan orang-orang yang berada di sana sambil mengancam menggunakan pistol dan golok. Para korban yang ketakutan, kemudian digiring ke kamar mandi berukuran 1,5 x 2 meter. Tak berapa lama, Dodi datang dan langsung disekap bersama 10 orang lainnya.

Erwin Situmorang membantu Ramlan dalam proses penyekapan ini. Keran air dalam kamar mandi dinyalakan, kunci dibuang, gerendel pintu dirusak. Maka terkuncilah 11 orang di dalam kamar sempit itu. Setelah itu, para pelaku kabur setelah menggasak barang berharga di rumah Dodi.

Baca: Tuntutan Belum Siap, Hakim Batal Vonis Perampok Pulomas

5 orang tewas pada kejadian itu, Dodi Triono, Diona Arika anak pertama Dodi, Dianita Gemma anak ketiga Dodi, Amelia Callista yang merupakan teman dari Dianita, serta Yanto, sopir Dodi. Satu korban lain yang bernama Tasrok tewas di rumah sakit. Sementara korban yang selamat adalah Zanette Kalila anak kedua Dodi, Emi, Santi, dan Fitriani serta Windy, yang merupakan pembantu rumah tangga.

Pada 28 Desember 2017, polisi meringkus ketiga pelaku Ramlan, Erwin, dan Sinaga di Gang Kalong, Bojong, Rawalumbu, Bekasi, Jawa Barat. Ramlan tewas ditembak karena melawan, Erwin tersungkur karena kakinya ditembak, sementara Ius Pane dan Sinaga berhasil kabur.

Tak berapa lama, Sinaga diringkus di Villa Mas Indah Blok C, Bekasi Utara. Menurut keterangan polisi, Sinaga adalah sopir mobil yang digunakan untuk menyatroni rumah Dodi. Polisi menembak kaki Sinaga saat penangkapan.

Satu tersangka bernama Ius Pane ditangkap pada hari Minggu, 1 Januari 2017, pukul 07.45 WIB di Pool Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) Jalan Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara, setelah melakukan perjalanan dari Bogor, Jawa Barat.

Baca: JPU Tuntut Terdakwa Perampokan Pulomas Hukuman Mati

Pada tanggal 15 Juni 2017, para tersangka menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum mengungkapkan para pelaku merencanakan aksi kejahatannya di kawasan Bogor, Jawa Barat. Pada 25 Desember 2016 pagi, para tersangka survei ke perumahan Pulomas untuk mencari rumah tujuan perampokan.

Setelah mendapatkan sasarannya, yakni Kediaman Dodi Triono, 25 Desember 2016, siang mereka beranjak ke Bogor untuk merencanakan aksi kejahatannya itu. Pada sidang perdana, terungkap bahwa Ramlan menyuruh tersangka lain untuk membunuh siapa saja yang melawan saat mereka beraksi. Pembagian tugas para tersangka juga terungkap di persidangan perdana.

Pada sidang kedua yang digelar 22 Juni 2017, JPU menghadirkan salah satu korban selamat dari perampokan di Pulomas, yaitu Zanette Kalila Azaria yang masih berusia 13 tahun. Remaja yang akrab disapa Anet itu hadir sebagai saksi. Ia datang ditemani oleh ibunya dan dibantu penerjemah untuk menyampaikan kesaksiannya.

Sidang ketiga berlangsung 6 Juli 2017. Jaksa Penuntut Umum kembali menghadirkan empat saksi dari korban yang masih hidup. Keempat korban yang menjadi saksi tersebut adalah Fitriani, Santi, Emi, dan Windy. Dalam sidang tersebut, keempat korban itu memberikan kesaksian tentang kronologi mereka disekap di dalam kamar mandi bersama dengan korban lainnya.

Baca: Pembacaan Tuntutan Terdakwa Perampokan Pulomas Ditunda Pekan Depan

Kemudian pada sidang tanggal 3 Agustus 2017 diperlihatkan rekaman CCTV yang menayangkan bagaimana para terdakwa beraksi hingga memasukkan korban ke kamar mandi.

Pada sidang berikutnya yang digelar 19 September 2017, JPU menuntut Erwin dan Ius Pane dengan hukuman mati, sedangkan Sinaga dituntut hukuman seumur hidup. Para terdakwa dan kuasa hukum terdakwa pun mengajukan pleidoi atau pembelaan yang dibacakan pada sidang selanjutnya 3 Oktober 2017. Saat itu, para terdakwa mengaku tidak ada niat sedikitpun untuk membunuh korban.

"Kami tidak ada sedikit pun niat menghilangkan nyawa korban, tetapi apa yang terjadi justru di luar kendali kami," kata Ius Pane di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa, 3 Oktober 2017. AN

Baca Selengkapnya

Home Rekam Jejak Misteri Perjalanan Kasus Perampokan Pulomas, dari Beraksi Hingga Disidangkan

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu