Petugas Palang Hitam, Foto: S Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Palang Hitam: Riwayat Pasukan Pemburu Mayat

Estimasi Baca:
Minggu, 1 Okt 2017 18:05:06 WIB

Kriminologi.id - Percakapan di Senin siang, 25 September 2017

“Tolong kirim satu unit mobil jenazah beserta kru untuk evakuasi mayat,” kata seorang polisi di ujung telepon kepada salah seorang petugas Palang Hitam yang sedang piket.

“Di mana alamatnya, ndan?” jawab petugas.

“Di Komplek Ciputat Baru, Tangerang Selatan,” balas polisi.

Hari itu, Senin, 25 September 2017, warga menemukan mayat seorang pria tua berusia 73 tahun di sebuah gorong-gorong dengan posisi telungkup. Saat dievakuasi, kondisi mayat mengenaskan. Wajahnya sulit lagi dikenali dan sudah menguarkan bau tak sedap. Karena itulah, Palang Hitam dikerahkan untuk mengevakuasi mayat tersebut.

Permintaan bantuan demikian sudah tak asing lagi bagi Palang Hitam. Tugas organisasi ini sehari-harinya memang tak jauh-jauh dari mayat. Selain mengevakuasi, Palang Hitam juga mempunyai tugas untuk pemulasaraan jenazah. Dari yang tak dikenal hingga memiliki identitas. Kasus bunuh diri atau pembunuhan. Sampai korban kecelakaan tunggal maupun tabrak lari.

Baca: Warga Ciputat Dihebohkan Penemuan Mayat di Gorong-gorong

Salah seorang petugas Palang Hitam, Ismetollah, mengatakan saat ini ada tiga pelayanan yang dimiliki oleh Palang Hitam. Pertama, mengevakuasi mayat dari tempat kejadian perkara (TKP). Biasanya mayat-mayat yang dievakuasi ini adalah mayat-mayat kasus pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan, dan mati tanpa sebab.

Kedua, pemulasaraan jenazah untuk tunawisma, pasien rumah sakit jiwa, dan pasien panti jompo yang berada di bawah Dinas Sosial Pemprov DKI. Ketiga, pelayanan mobil jenazah untuk masyarakat Jakarta yang meninggal setelah dirawat di rumah sakit umum daerah (RSUD) di Jakarta. Semua pelayanan ini tersedia tanpa dipungut biaya sepeser pun.

“Mulai dari mengevakuasi, memandikan, mengkafani, menyolatkan, hingga mengantarkan ke pemakaman itu semua yang mengurus Palang Hitam,” ujar pria yang sudah 12 tahun mengabdi sebagai petugas Palang Hitam itu.

Baca: Kematian Pria di Gorong-gorong Ciputat Dinilai Tak Wajar

Sebelum berada di bawah naungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, organisasi kematian Palang Hitam sebenarnya sudah ada sejak zaman Belanda. Berdiri pada 1938, organisasi kematian ini dikenal bernama NV Verbugt. Organisasi yang bersifat komersial ini kala itu melayani pengurusan jenazah bagi orang-orang Belanda, terutama para pejabat di pemerintahan Hindia Belanda.

Pada 1953, organisasi kematian ini berpindah tangan. Pemiliknya adalah orang Indonesia bernama Dr. Jenny Panggabean. Sejak menjadi badan usaha swasta, organisasi ini berganti nama menjadi PT Palang Hitam. Organisasi ini menjadi perusahaan pemulasaraan jenazah paling besar saat itu. Infrastruktur semisal kereta mayat atau ambulans yang dimilikinya berjumlah 17 buah.

Pelayanan yang dihadirkan PT Palang Hitam kemudian tak hanya komersial, tapi juga meluas untuk kegiatan sosial. Malah dalam pelayanannya, PT Palang Hitam lebih banyak mengurusi jenazah orang tak mampu. Setiap harinya melayani rata-rata empat jenazah gelandangan tanpa identitas. Sementara yang membayar jasa Palang Hitam paling banyak hanya 25 orang.

Baca: Mayat di Ciputat, Sebelum Ditemukan Korban Hilang 4 Hari

Karena kurangnya pendapatan inilah, keuangan PT Palang Hitam kembang kempis. Sejumlah armada kereta mayat yang dimilikinya hampir tak pernah ada peremajaan. Akibatnya, kereta mayat milik PT Palang Hitam yang difungsikan perlahan terkikis hanya sisa 7 buah. Tiga buah gedung milik PT Palang Hitam pun dijual untuk menutupi utang.

Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, lantas memutuskan mengambil alih Palang Hitam pada 1967. Meski telah diakuisisi, penamaan organisasi Palang Hitam tak berubah. Berdasarkan keterangan dari mulut ke mulut, nama Palang Hitam diambil dari pita hitam yang diikatkan kepada jenazah. Nama ini pun akhirnya melekat hingga kini.

Di bawah Dinas Kehutanan Pemprov DKI, Palang hitam kini memiliki 48 personel. Teridiri atas 6 wanita dan sisanya 42 orang laki-laki. Tugas para personel wanita adalah memandikan jenazah khusus wanita. Biasanya, jenazah yang ditangani berasal dari panti jompo. Adapun untuk jenazah laki-laki, petugas yang memandikan ada 5 orang. Sementara 37 orang lainnya terbagi atas sopir dan kru pengevakuasi jenazah.

Baca: Anak Punk Tewas Tergantung di Tol Cengkareng Sosok Penyendiri

“Dalam sehari mayat yang ditangani Palang Hitam ini jumlahnya tak pasti. Kalau 15 sampai 20 mayat, mereka (laki-laki) yang bertugas memandikan mayat, mau tak mau mesti turut serta juga untuk mengevakuasi mayat,” kata pria yang lebih akrab disapa Ismet ini.

Selain memburu mayat terlantar di wilayah DKI Jakarta, Palang Hitam terkadang juga melakoni pelayanan evakuasi mayat di luar Jakarta. Malah, sebelum Fauzi Bowo mengeluarkan kebijakan saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Palang Hitam juga dikerahkan untuk mengevakuasi mayat di seputar Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

“Bicara dahulu, Palang Hitam pernah menangani mayat terlantar di Cibitung, Muara Gembong. Kita evakuasi mayat sampai perjalanan 4 jam,” kata Ismet. “Tapi sekarang difokuskan untuk wilayah DKI Jakarta saja. Kecuali kalau ada yang minta bantuan di tempat yang tidak jauh dari Jakarta, kadang masih kami layani juga.”

Baca: Mayat Bercelana Pendek Terapung di Kalimalang

Untuk pengurusan mayat terlantar tanpa identitas, Palang Hitam bekerjasama dengan sejumlah rumah sakit. Melalui komando pihak kepolisian, mayat yang dievakuasi tanpa identitas biasanya dilarikan ke rumah sakit antara lain Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rumah Sakit Fatmawati, dan Rumah Sakit Polri. Selain untuk proses autopsi, mayat tersebut biasanya diinapkan untuk menunggu pihak keluarganya datang.

Namun, jika dalam 3x24 jam tak ada yang mengambilnya, mayat-mayat tersebut dikuburkan secara bersamaan di dua lokasi berbeda yakni Taman Pemakaman Umum Pondok Rangon, Jakarta Timur, dan Taman Pemakaman Umum Tegal Alur, Jakarta Barat. Kedua TPU ini sudah tiga tahun menjadi tempat persemayaman terakhir untuk mayat terlantar tanpa identitas.

Baca: Mayat Bayi Mengambang di Kali Bekasi, Polisi Kejar Pelaku

Berdasarkan data Dinas Kehutanan DKI Jakarta Bidang Pemakaman, jumlah mayat telantar yang dimakamkan pada 2014 hingga 2016 mencapai 3.143 jenazah. Sementara hingga Maret 2017, Palang Hitam sudah menguburkan 483 jenazah. Jika dikalkulasi, artinya ada enam jenazah telantar yang dikuburkan setiap hari di Jakarta.

Mengingat jumlah mayat terlantar tak sedikit, karena itu Ismet mengingatkan kepada masyarakat di manapun berada, agar jika bepergian hendaknya membawa identitas. Hal ini untuk meminimalisir bertambahnya mayat terlantar di Jakarta. “Sebab, kalau ada identitasnya bisa dicari pihak keluarganya oleh polisi,” katanya. TD

Reporter: Tito Dirhantoro
Penulis: Tito Dirhantoro
KOMENTAR
500/500