Ilustrasi Foto: Pixabay.com

Cegah Bunuh Diri, 2 Anak Muda Gagas Hotline Darurat

Estimasi Baca:
Sabtu, 21 Okt 2017 07:00:50 WIB

Kriminologi.id - Permasalahan kerap menghampiri setiap manusia. Baik itu masalah yang terlihat kecil atau sepele, hingga persoalan yang seakan tak ada jalan keluarnya. Dalam menghadapinya, setiap individu memiliki sikap yang berbeda. Pengambilan keputusan atas reaksi terhadap peristiwa yang ia hadapi, berkaitan erat dengan sikap hidup dan terpaan peristiwa yang telah ia jalani sejak kecil. 

Peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh Florence Sahara pada 18 September 2017, misalnya. Instruktur senam di sejumlah pusat kebugaran di Jakarta itu mengakhiri hidupnya dengan loncat dari lantai 30 Apartemen Green Lake, Jakarta Utara. Belum lagi, warga Filipina yang terjun dari lantai 5 ke lantai UG Blok M Square baru-baru ini, yang ternyata depresi karena masalah ekonomi.

Dari peristiwa tersebut, kita melihat bahwa korban seakan tidak mampu lagi menanggung beban hidupnya dan bahkan mereka ada yang mengakhirinya dengan cara yang tragis. Kasus-kasus yang hampir mendekati upaya bunuh diri oleh korban, juga sering diterima oleh lembaga nirlaba Save Yourselves. 

Menurut CEO Save Yourselves Indri Mahadiraka kepada Kriminologi, Jumat, 20 Oktober 2017 mengatakan, pihaknya kerap menerima keluhan dari warga terkait dengan persoalan keluarga, asmara, dan karier.

"Diantaranya tidak bisa membayar utang, diputusin oleh pacar, dipukuli oleh kedua orang tuanya, hingga aborsi," kata Indri. Selain itu, kasus sosial di masyarakat dan karier juga menjadi kasus yang paling sering pihaknya tangani. 

Baca: Studi: Perempuan Kota Cenderung Sering Bunuh Diri

Lembaga yang berkonsentrasi di bidang kesehatan mental ini mencatat, grafik orang yang menghubunginya setiap bulan, sejak November 2016 terus meningkat. Di bulan itu, saat mereka baru mempublikasikan keberadaannya di masyarakat, pihaknya sudah menerima sekitar 290 orang yang menghubungi dan berkonsultasi padanya. Angka ini bahkan meningkat dua kali lipat di bulan berikutnya. 

Di kuartal tahun 2017, Indri menceritakan, jumlah orang yang menghubungi lembaga ini sudah mencapai 786 orang. Angka ini terus naik hingga lebih dari 100 persen mencapai 1.949 orang. Angka ini terus melesat hingga berada di titik 2.815 orang di bulan Juni. Bahkan, di bulan ini, pihaknya memperkirakan, masyarakat yang mengakses lembaga ini sudah mencapai lebih dari 7.000 orang mendekati angka 8.000 orang.

"Ini mengindikasikan bahwa masyarakat kita membutuhkan tempat untuk berkonsultasi secara kejiwaan," kata Indri. 

Dari sekian banyak orang yang menghubunginya, ia mendapati tindakan para korban depresi beragam, ada yang menyayat tangan, anoreksia, hingga minum pil dalam jumlah banyak secara sekaligus. Bahkan, kata Indri, ada yang berkeinginnan untuk loncat dari ketinggian. 

"Sejauh ini, orang yang menghubungi kami tidak ada yang sampai bunuh diri. Saat mereka menghubungi kami, kami berusaha untuk membuat mereka tenang," kata Indri menegaskan.

Saat menghadapi aduan ini, misalnya percobaan untuk bunuh diri, pihanya tidak bisa bertindak terlalu jauh. Ia menyadari bahwa tidak semua orang yang menghubunginya akan memberikan alamat yang sebenarnya kepadanya. 

"Sebenarnya kita agak sulit untuk bergerak, kalau kami mau mengirimkan polisi ke lokasi mereka, terkadang mereka tidak mau memberitahu alamat mereka yang sebenarnya. Jadi, yang bisa kita lakukan adalah memaksimalkan apa yang kita bisa, yaitu berusaha menenangkan mereka dan menawarkan mereka agar menghubungi lembaga yang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan," kata Indri menambahkan.

Baca: Wanita dengan Jagrak Terjun ke Sungai, Dugaan Penyebabnya Terungkap

Dengan fenomena tingginya permintaan warga yang menghubunginya, ia menyadari bahwa tingkat kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan jiwa sangat tinggi. Namun, di sisi lain, ia sangat menyayangkan, bahwa memilih untuk datang ke psikolog saat seseorang sedang mengalami persoalan hidup, belum menjadi budaya di Indonesia. 

"Kalau di luar negeri, meski mereka enggak punya masalah, mereka akan datang ke psikolog. Misalnya saja ketika mereka capek bekerja dan mereka membutuhkan terapi, mereka akan datang berkonsultasi ke psikolog," katanya.

Kalau di sini, kata dia, belum ada budaya yang seperti itu. Bahkan biasanya ketika orang ingin datang ke psikolog ataupun ingin mengadukan permasalahan yang ia alami, oleh teman-teman sekitarnya atau orang terdekat, mereka akan dianggap lebai, dan ada juga yang meminta mereka untuk kembali ke agama.

Meski kembali pada agama itu penting, namun, seseorang yang sudah menyadari bahwa ia mengalami goncangan dalam hidupnya, patut dibantu untuk membawanya ke psikolog, agar jiwanya tenang, dan depresi dapat terminimalisir.

Pihaknya mencatat, di Indonesia, kasus bunuh diri terjadi per 3,7 orang per 100.000 penduduk. Walaupun angka ini lebih rendah dibandingkan negara lain di ASEAN, kata Indri, namun dengan 258 juta penduduk Indonesia, artinya ada sekitar 10.000 orang bunuh diri tiap tahun, atau 1 orang bunuh diri setiap jam.

Bahkan, Indri menegaskan, menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, depresi menjadi pemicu tertinggi pada kesehatan jiwa. Bahwa sekitar 300 juta orang di dunia saat ini hidup dalam depresi. Jumlah ini meningkat lebih dari 18% antara tahun 2005 hingga 2015.  

Save Yourselves

Lembaga nirlaba ini berkonsentrasi di bidang kesehatan mental, dan berdiri pada November 2016. Konseling kejiwaan yang mengkhususkan diri dalam pendampingan seseorang yang mengalami masalah mental ini tidak lepas dari peranan Indri Mahadiraka bersama adiknya, Rifa Respati Rumamby.

Dari perempuan berusia 24 tahun ini, kemudian tercipta sebuah platform sebagai jalur konseling online mengenai kesehatan mental. Terutama bagi mereka yang depresi dan berniat mengakhiri hidupnya.

Melalui Save Yourselves keduanya mengunggah berbagai artikel tentang kesehatan mental. Ide itu tidak tercetus begitu saja, karena menurutnya penanganan kesehatan mental di negeri ini belum memadai.

Terkait pengalaman mental tersebut, diakui oleh Indri. Ia mengaku pernah mengalami depresi hebat. Dari pengalaman depresi itu, Indri akhirnya melihat bahwa banyak orang yang bunuh diri dimulai dari depresi.

Melalui Save Yourselves itu, Indri berharap para remaja dan dewasa muda bisa bercerita tentang masalah yang mereka hadapi. 

Keduanya juga berharap bisa memberikan bantuan tercepat untuk pencegahan seseorang yang berniat bunuh diri. Serta pengguna juga dapat menceritakan keluh kesahnya yang tidak nyaman diceritakan ke orang lain. 

Selain itu, untuk menggerakan lembaga ini, keduanya menggandeng sekitar 20 psikolog, baik itu mereka yang masih mengenyam pendidikan di Strata 1 maupun Stata 2, hingga kaum profesional.

Selama November 2016 hingga Juni 2017, jumlah gender yang paling sering menghubungi lembaga ini adalah kaum  perempuan sebanyak 68,4%. Dengan cakupan wilayah di DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Pulau Jawa, dan di luar Pulau Jawa. Dengan respons terbanyak berasal dari Kota DKI Jakarta sebesar 35%. Rentang usia yang paling banyak mengakses lembaga ini yakni antara 21-24 tahun sebanyak 49%, diikuti oleh usia 18-21 tahun sebesar 30.3%.

Baca: Sisi Negatif Media dalam Kasus Bunuh Diri

Mereka memberikan bantuan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang membutuhkan dukungan. Lembaga ini menerima keluhan melalui aplikasi Line dengan akun @vol7047h. Masyarakat juga dapat mengakses fanpage Facebook dengan akun Save Yourselves, IG: @Saveyourselves.id, dan situs: saveyourselves.org, dan layanan kontak darurat bunuh diri 081272714238. YH | OS | AS

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500