Cepi Iskandar, Sang Pengadil Setnov Foto: Ryan/Kriminologi.id

Cepi Iskandar, Sang Pengadil Setnov Lawan KPK

Estimasi Baca:
Selasa, 12 Sep 2017 11:50:30 WIB

Kriminologi.id - Cepi Iskandar menjadi hakim tunggal dalam sidang praperadilan Setya Novanto melawan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setya Novanto mengajukan praperadilan terkait penetapan tersangka terhadap dirinya oleh KPK dalam kasus korupsi kartu tanda penduduk berbasis elektronik atau e-KTP.

Bukan sekali ini Cepi memegang perkara yang menjadi sorotan publik. Siapa sebenarnya sosok hakim senior di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu?

Baca: Suap E-KTP, Saksi: Orang Cari Proyek di DPR Sudah Biasa

Dikutip dari laman resmi PN Jaksel di www.pn-jakartaselatan.go.id, Selasa, 12 September 2017, Cepi diketahui lahir di Jakarta, 15 Desember 1959.

Ia memiliki pangkat Pembina Utama Madya atau golongan IV D dengan jabatan Hakim Madya Utama. 

Selama lebih dari 20 tahun menjadi pengadil perkara di meja hijau, Cepi telah merasakan penugasan di beberapa pengadilan.

Dihimpun dari berbagai sumber, ia pernah bertugas di PN Bandung. Setelah itu ia dimutasi ke PN Tanjung Karang, Lampung.

Perjalanan Cepi sebagai pengadil berlanjut ke PN Depok. Di pengadilan golongan IB itu ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Pengadilan.

Baca: Pimpin Sidang Praperadilan Setnov, PN Jaksel Hadirkan Hakim Cepi

Setelah dari PN Depok ia kembali dimutasi ke PN Purwakarta dan dipercaya menjadi ketua pengadilan.

Dari PN Purwakarta, Cepi berlabuh ke PN Jaksel. Sejak 2015 itulah ia menjadi salah satu hakim di pengadilan yang sering menangani perkara-perkara yang menjadi sorotan publik.

Salah satu perkara yang memunculkan nama Cepi ke permukaan adalah saat dia menjadi hakim tunggal praperadilan Hary Tanoeseodibjo.

Dalam perkara itu, Hary Tanoe menggugat penetapan tersangka dirinya oleh Badan Reserse Kriminal Mabes Polri terkait dugaan ancaman melalui pesan pendek kepada Jaksa Yulianto. 

Dalam sidang putusan pada 17 Juli 2017 itu, Cepi menolak mengabulkan gugatan Hary Tanoe tersebut. RZ | BC

Reporter: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500