Situasi rumah nenek Cicih. (22/2/2018). Foto: Arief Pratama/Kriminologi.id

Curhatan Anak Bungsu Nenek Cicih Soal Ulah Empat Kakaknya

Estimasi Baca:
Jumat, 23 Feb 2018 09:42:25 WIB

Kriminologi.id - Empat anak yang menggugat ibu kandungnya Rp 1,6 miliar di Kota Bandung, Jawa Barat sudah tiga hari putus komunikasi. Alit Kamila (46), putri bungsu dari  nenek Cicih mengutarakan ulah empat kakaknya yang telah menyeret ibunya sendiri ke meja hijau.  

Ibu dua anak ini curhat kalau keempat kakaknya itu masih meminta uang kepada ibunya yang digugat karena menjual tanah warisan suaminya. Bukan hanya itu, anak dan cucu dari kakaknya itu juga masih tinggal bersama sang nenek.

Alit merasa tindakan yang dilakukan kakaknya itu aneh.

Baca: Nenek Cicih, Istri Veteran yang Digugat Anaknya Hidupi 18 Cucu

"Keempat kakak saya yang mengajukan gugatan belum menghubungi lagi, tapi cucunya ditinggal di rumah ini sebagian, kan aneh juga," ujar Alit Kamila. 

Kasus ibu kandung digugat anak ini terjadi di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat. Adalah Ai Sukawati, Dede Rohayati, Ayi Rusbandi dan Ai Komariah, empat anak yang menggugat secara perdata Cicih ibunya karena menjual tanah warisan dari almarhum Suwanda Udin, suaminya.

Sang anak menuding penjualan tanah warisan ayahnya itu tanpa sepengetahuan mereka. Alit Kamila (46) anak nenek Cicih paling bungsu mengatakan keempat kakaknya itu sudah tidak pernah terdengar kabarnya sejak melayangkan gugatan.

Namun, dirinya merasa janggal dengan keputusan sang kakak yang menyeret ibunya sendiri ke pengadilan akan tetapi sebagian anaknya masih hidup bersama sang ibu. 

Baca: Digugat Rp 1,6 Miliar, Nenek Cicih Jaga Ucapan Demi Empat Anaknya

Alit berharap empat kakaknya itu segera sadar atas kekeliruan yang dilakukan terhadap ibunya. Bukan hanya itu, bungsu dari lima bersaudara ini berdoa semoga kakaknya itu berubah pikiran dan mengakhiri proses gugatan tersebut. 

"Yang pasti saya berharap mereka sadar, dan berubah pikiran," paparnya.

Nenek Cicih adalah seorang istri veteran dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Dua (Pelda). Nenek yang kulit wajahnya tampak keriput itu menghidupi lima anaknya dari penghasilan almarhum Suwanda, suaminya yang waktu itu masih berdinas aktif. 

Tahun 2018, Suwanda mulai sakit-sakitan. Sejak saat itu lah Cicih pertama kali mengetahui kalau penghasilan suaminya Rp 1,2 juta per bulan. Karena Cicih yang selalu mengambil gaji sang suami. Biasanya Suwanda hanya memberikan uang belanja Rp 200 ribu per bulan. 

Baca: Jual Tanah Peninggalan Suami, Nenek Cicih Digugat Anaknya Rp 1,6 M

Empat tahun kemudian, atau tetapnya 2012, Suwanda meninggal dunia. Kehidupan nenek Cicih dan anaknya pun tak karuan. Mereka tetap bertahan hidup dengan bantuan tetangga kanan-kiri rumah. Penghasilan pensiunan yang menjadi sumber tunggal untuk memenuhi kebutuhan hidup jauh untuk dibilang cukup. 

Akhirnya, nenek Cicih melepaskan sebagian tanah warisnya peninggalan sang suami 91 dari total luas 332 meter persegi. Tanah itu dijual seharga Rp  250 juta. Uang hasil penjualan pun tidak dimakan sendiri. Sebanyak Rp 138 juta untuk merenovasi rumah anaknya, dan sisanya Rp 112 juta dipakai biaya sekolah cucunya, termasuk anak dari penggugat dan biaya hidup. 

Nenek Cicih bukan saja membiaya dirinya sendiri, melainkan menghidupi 18 cucu dan tujuh cicitnya yang masih kumpul. Empat anaknya itu sama sekali tidak pernah memberikan bantuan untuk ibunya. 

Baca: Ibu Gigit Tangan Polisi Jadi Tersangka, Dijerat Pasal Berlapis

Keempat anaknya, kata Alit, masih sering meminta uang kepada ibunya. Bahkan, cucu dan cicitnya pun masih tinggal bersama sang nenek. 

"Keempat kakak saya malah meminta uang kepada ibu. Kakak saya berempat anaknya diasuh sama neneknya. Sampai cicitnya, cucu dari anaknya itu diasuh di sini. Ini kan aneh," ujar Alit dengan nada sedih. SM 

KOMENTAR
500/500