Kepala Peleton III A Pemadam Kebakaran Tanjung Priok, Haerudin (16/07/2018). Foto: Humas JakFire

Haerudin Kepala Peleton Damkar Tutup Mata Usai Bertarung Jinakan Api

Estimasi Baca:
Senin, 16 Jul 2018 16:30:29 WIB

Kriminologi.id - Kepala Peleton III A Tanjung Priok, Jakarta Utara, Haeruddin gugur dalam tugas usai berjibaku saat kebakaran di Jalan Kenanga No 25, Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin, 16 Juli 2018. 

Sang penjinak api, julukan petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) itu mundur sebelum menutup mata untuk selamanya. 

Langkah mundur dilakukan Haerudin usai merasakan sesak di dadanya dan kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, Jakarta Utara. 

Pria yang telah mengabdikan diri selama 23 tahun sebagai petugas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan itu menutup mata pukul 06.10 WIB pagi. 

Deraian air mata dan apresiasi mengalir deras melepas kepergian Haerudin, yang menghembuskan nafas saat menghadapi kobaran api. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan datang sekaligus memimpin salat jenazah melepas kepegian salah satu personel Satria Biru, julukan petugas Pemadam Kebakaran itu. 

Di mata rekan kerja dan pimpinan, Haerudin merupakan sosok petugas yang bertanggung jawab dan tak kenal takut dalam menjalankan tugasnya. Sebagai kepala peleton III A Tanjung Priok, Haerudin selalu mencontohkan kepada anak buahnya dengan tampil paling depan di setiap medan kebakaran. 

Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Utara, Satriadi B Gunawan, memiliki kekaguman luar biasa terhadap Haerudin yang dijuluki sebagai Limbad dalam mengemban tugasnya. 

Limbad, seorang Master Magician yang dikenal selalu menampilkan adegan-adegan terkesan berbahaya dan kerap memancing ketegangan di setiap aksinya di layar kaca. 

Keberanian yang tertanam dalam jiwa Haerudin dalam menjalankan tugasnya itu lah yang membuat pimpinannya menjuluki dirinya sebagai Limbad. 

Haerudin juga memiliki jiwa petarung yang tinggi dalam menghadapi peristiwa kebakaran. 

"Kalau dia itu dikenal dengan istilah Limbad. Dia ingin berada di lapangan bersama anak buah. Jiwanya suka gatel lah pengen terjun langsung melakukan aksi pemadaman," tutur Satriadi B Gunawan mengenang kepribadiain anggotanya tersebut

Di tengah kesan positif yang teramat panjang, Satriadi sempat menceritakan detik terakhir sang pemberani itu menghembuskan nafas.  

Ia memutuskan mundur ke belakang dan meninggalkan arena pertarungan kobaran api untuk mencari ambulans. Ketika itu, Haerudin merasakan sesuatu di dadanya saat bertarung menjinakkan api pada kebakaran bangunan semi permanen yang dijadikan lapak penyimpanan barang bekas.   

Kemudian, Haerudin pun dibawa ke RSUD Koja untuk mendapatkan pertolongan. Setiba di RSUD Koja, nyawanya pun sudah tidak tertolong. 

Petugas rumah sakit sudah memberikan pertolongan dengan memasang alat pendeteksi jantung (ERP: Enterprise Resources Planning), kemudian dilakukan tindakan dengan memberikan suntikan reaksi jantung. Akan tetapi, penanganan maksimal itu tetap tak ampuh hingga sang penjinak api itu pulang untuk selama-lamanya. 

Selamat jalan Kepala Peleton III A Haerudin, yang telah bekerja dengan keberanian, dengan nyali yang luar biasa.

Reporter: Walda Marison
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500