Gubernur Aceh Irwandi Yusuf (baju putih) tiba di Gedung Dwiwarna KPK pasca Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK, Rabu, (4/7/2018). Foto: Dimeitri Marilyn/Kriminologi.id

Irwandi Yusuf, Gubernur Penerbang Pesawat Akhirnya Mendarat di KPK

Estimasi Baca:
Rabu, 4 Jul 2018 18:50:32 WIB

Kriminologi.id - Dilantik pada Rabu, 5 Juli 2017, Irwandi Yusuf resmi menjabat sebagai Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam untuk periode jabatan 2017-2022. Pria kelahiran Bireuen, Aceh, 2 Agustus 1960 itu untuk kali kedua menjabat sebagai Gubernur Aceh. Tengku Agam, demikian Irwandi akrab disapa, memimpin Aceh didampingi wakilnya Nova Iriansyah. 

Irwandi Yusuf menjabat sebagai Gubernur Aceh kali pertama pada masa jabatan periode 2007 sampai 2012. Kala itu, Irwandi berpasangan dengan Muhammad Nazar untuk memimpin Tanah Rencong asal kelahirannya. 

Semasa menjabat Gubernur Aceh, berbagai terobosan dilakukan Irwandi. Salah satu program yang dibuatnya yakni Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Berbekal kartu tanda penduduk atau KTP, masyarakat Aceh dapat dengan mudah berobat di berbagai klinik dan rumah sakit. Program ini kemudian menjadi cikal bakal program pemerintah pusat di bidang kesehatan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Setelah masa jabatannya berakhir, Irwandi kembali mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh di Pilgub Aceh 2012. Berpasangan dengan Muhyan Yunan, Irwandi maju melalui jalur perseorangan atau independen. Namun pada pemilihan kali ini Irwandi harus berlapang dada setelah mengakui kemenangan pasangan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf yang diusung oleh Partai Aceh.

Selama tak menjabat sebagai Gubernur Aceh, Irwandi memutuskan menghabiskan waktunya belajar menjadi penerbang pesawat di Bandung Pilot Academy. Irwandi mengaku memilih aktivitas demikian untuk menunjukkan kepada generasi muda bahwa semua cita-cita dapat dilakukan selama ada kemauan.

“Hey anak muda Aceh! Saya yang sudah tua saja, dan sudah pernah kena stroke lagi, masih bisa menjadi pilot. Kenapa kalian yang muda-muda ini masih takut pada ketinggian? Padahal anak-anak Aceh terkenal se-Nusantara ini memiliki tubuh yang bagus dan mental paling berani,” kata Irwandi dalam tulisannya di media sosial Facebook.

Setelah mahir menerbangkan pesawat, Irwandi kemudian mencoba membeli sebuah pesawat jenis Shark Aero yang memuat dua orang. Pesawatnya itu dilabelinya Hanakaru Hokagata. Irwandi mengaku tak membutuhkan modal besar untuk membeli pesawat Shark Aero. Menurutnya, harga pesawat itu setara dengan satu unit mobil. 

"Pesawat Shark saya tergolong mahal juga, karena setara dengan mobil Harrier. Sebenarnya harga pesawat Shark Aero itu 90.000 Euro, atau kira-kira Rp 1,3 M. Tapi saya membayarnya hanya 40.000 Euro (Rp 600 juta)," kata Irwandi.

Menurut Irwandi, menjadi seorang penerbang merupakan bakat terpendam yang dimiliki dirinya. Ia pun mengaku pilot merupakan cita-citanya sejak kecil. Karena itu, tak heran bila Irwandi cukup bangga dapat menerbangkan pesawat. Terlebih usianya terbilang sudah tak lagi muda. 

"Memang sudah dari 'sono'-nya saya suka, bakat namanya. Saya waktu masih sangat kecil sering berpikir mengapa mobil bisa jalan tanpa ditarik dan mengapa pesawat bisa terbang. Saya sangat kagum pada sopir yang menyebabkan mobil dapat berjalan tanpa dihela. Begitu juga, saya menganggap pilot itu manusia Class One," tulis Irwandi.

Puas mengarungi udara bersama pesawatnya, Irwandi kemudian rehat dari aktivitasnya menerbangkan pesawat. Ia diketahui kembali mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh berpasangan dengan Nova Iriansyah. Di pilkada serentak yang dilangsungkan pada Februari 2017, Irwandi meraup suara terbanyak. Ia mengalahkan enam calon yang kala itu turut bertarung. 

Di periode 2017-2022 menjabat sebagai Gubernur Aceh, Irwandi memproyeksikan program reformasi birokrasi. Salah satunya mengimplementasikan rencana aksi pemberantasan korupsi yang difokuskan pada perencanaan dan pengawasan pengelolaan keuangan.

Namun alih-alih menegakkan pemberantasan korupsi di Pemerintah Provinsi Aceh, Irwandi Yusuf justru malah tersangkut perkara korupsi. Irwandi Yusuf diketahui terjaring operasi tangkap tangan atau OTT oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Selasa malam, 3 Juli 2018. Irwandi ditangkap bersama Ahmadi, Bupati Bener Meriah. 

Kedua kepala daerah ini diciduk terkait adanya pembahasan anggaran dana otonomi khusus (otsus) dalam penganggaran yang diperuntukan pada provinsi maupun kabupaten. Dalam OTT tersebut, KPK menyita barang bukti sebesar Rp 500 juta. Diduga, uang tersebut sebagai commitment fee untuk melancarkan dana otsus sebesar Rp 200 miliar mengalir ke Kabupaten Bener Meriah yang baru terbentuk. 

Usai ditangkap KPK, Irwandi Yusuf diterbangkan langsung ke Jakarta dari Aceh Tengah. Sekitar pukul 14.05 WIB, Irwandi mendarat di Gedung KPK, Jakarta dengan selamat. Setibanya di Gedung KPK, Irwandi dihujani pertanyaan wartawan yang telah menunggu kedatangannya. 

Sayang, Irwandi memilih bungkam sembari menebar senyum dan terus melangkahmasuk ke dalam Gedung KPK. Selanjutnya ia bergegas ke ruang penyidik yang berada di lantai dua gedung utama KPK untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. 

Penulis: Tito Dirhantoro
KOMENTAR
500/500