Bupati Ngada, NTT, Marianus Sae. Foto: Facebook Marianus Sae

Jejak Marianus Sae, dari Blokir Bandara Hingga Terjaring OTT KPK

Estimasi Baca:
Senin, 12 Feb 2018 15:15:15 WIB

Kriminologi.id - Bupati Ngada, Nusa Tenggara Timur Marianus Sae terjaring operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi. Menurut KPK, Marianus menerima suap proyek sebesar Rp 4,1 miliar terkait sejumlah proyek infrastruktur di Kabupaten Ngada senilai Rp 54 miliar.

Tersangkutnya Marianus dalam dugaan korupsi mengagetkan warga NTT, khususnya para pendukungnya di Pemilihan Gubernur. Marianus merupakan salah satu kandidat potensial di Pilgub NTT 2018.

Baca: Halangi Pesawat Mendarat, 23 Satpol PP Divonis Penjara

Namun cerita Marianus terjaring OTT KPK seolah-olah mengangkat semua isu kontroversial menyangkut dirinya. Tahun 2013, Marianus diisukan menghamili mantan pembantunya, Maria Natalia Sisilia. Informasi beredar, kasus itu terjadi tahun 2012. Hubungan Marianus dan Natalia membuahkan seorang anak lelaki, Paulus Reynaldi Sae.

Tudingan miring itu dibantah Bupati Ngada dua periode itu. Marianus mengatakan dirinya menunggu siapa perempuan yang mengaku melahirkan anaknya. Sebab, dalam setahun terakhir, tidak pernah ada orang yang mengatakan sebagai korban karena dihamili olehnya.

Kasus Natalia ditangani Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F) sebuah lembaga advokasi yang beranggotakan sejumlah pastor dan biarawan-biarawati. TRUK-F mengklaim punya data seperti catatan, surat kuasa, rekaman, video wawancara.

Namun hingga kini isu Marianus menghamili Natalia tidak jelas kelanjutannya. Pun sosok Natalia seperti misteri, belum pernah muncul secara langsung ke publik.

Di tahun yang sama, tepatnya akhir tahun 2013 nama Marianus menjadi perbicangan publik. Itu tak lain ketika aksinya menutup Bandara Turelelo pada 21 Desember 2013. Akibatnya pesawat Merpati Nusantara Airlines penerbangan MZ 6516 dari Kupang tujuan Soa gagal mendarat. Pesawat tersebut akhirnya terpaksa kembali ke Bandara El Tari, Kupang.

Sebanyak 23 personil Satpol PP Kabupaten Ngada menutup Bandara Turelelo atas perintah Bupati Marianus dari Kupang yang tengah menerima Daftar Isian Pelaksanaan Anggara (DIPA) dari Gubernur Frans Lebu Raya pada 20 Desember 2013.

Baca: Bupati Ngada Marianus Dibekali Kartu ATM Atas Nama Penyuap Sejak 2011

Kata Marianus acara tersebut tidak bisa diwakili. Hingga pada hari Sabtu pagi, Marianus batal ke Ngada untuk menghadiri sidang pembahasan APBD pada pukul 09.00 Wita. Marianus Sae dalam sebuah program di televisi swasta mengakui menutup bandara Turelelo  karena alasan tidak mendapatkan tiket.

Kasus ini berbuntut panjang. Sedikitnya 23 orang anggota Satpol PP Ngada, Kasat Pol PP Ngada Hendrikus Wake termasuk Bupati Marianus dipolisikan. Namun, meski ditetapkan sebagai tersangka, Marianus lolos. Sementara 23 anggota Satpol PP Ngada divonis 6 bulan penjara dan Kasat Pol PP Hendrikus Wake divonis selama 2 tahun.

Terkini adalah ketika Marianus dijaring KPK dalam OTT, Minggu, 11 Februari 2018. KPK telah menetapkannya sebagai sebagai tersangka tindak pidana korupsi suap terkait proyek pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Ngada.

Bakal calon Gubernur NTT ini diduga menerima suap Rp 4,1 miliar dari seorang pengusaha, yaitu Direktur PT Sinar 99 Permai (S99P) Wilhelmus Iwan Ulumbu untuk mengerjakan sejumlah proyek infrastruktur di Kabupetan Ngada dengan total Rp 54 miliar.

“Pemberian dilakukan pada November 2017 Rp 1,5 miliar secara tunai di Jakarta, Desember 2017 terdapat transfer Rp 2 miliar dalam rekening Wilhelmus, 16 Januari 2018 diberikan tunai di rumah Bupati Rp 400 juta, 6 Februari 2018 diberikan tunai di rumah Bupati Rp 200 juta,” ucap Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan di Jakarta, Senin, 12 Februari 2018.

Baca: Selain Bupati Ngada, KPK Juga Amankan Kepala Dinas NTT

Menurut Basaria, pada 2018 Wilhelmus dijanjikan proyek di Kabupaten Ngada senilai Rp 54 miliar terdiri atas pembangunan jalan Poma Boras Rp 5 miliar, jembatan Boawe Rp 3 miliar, jalan ruas Ranamoeteni Rp 20 miliar, ruas jalan Riominsimarunggela Rp 14 miliar, ruas jalan Tadawaebella Rp 5 miliar, ruas jalan Emerewaibella Rp 5 miliar, dan ruas jalan Warbetutarawaja Rp 2 miliar.

Sebagai penerima, Marianus disangkakan pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU No 31 Tahun 1999 yang diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. RZ

Reporter: Marselinus Gual
Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500