Dok. Muhammad Sofyan Tsauri. Foto: Humas BNPT

Jungkir Balik Kehidupan Sofyan Tsauri, Pengusaha dan Pengangguran

Estimasi Baca:
Rabu, 23 Mei 2018 06:30:47 WIB

Kriminologi.id - Menyandang status sebagai mantan narapidana kasus tindak pidana terorisme (napiter) tidak mudah. Bahkan, boleh dibilang berat. Stigma yang mengental di benak masyarakat berbuah penolakan terhadap para napiter kala keluar dari penjara.

Kondisi serupa dialami Sofyan Tsauri. Mantan anggota Sabhara Polri ini, kesulitan menjalani hidup di tengah-tengah masyarakat usai menjalani hukuman penjara selama kurang lebih lima tahun tujuh bulan. Ia mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang semenjak 6 Maret 2010 hingga 21 Oktober 2015.

"Ya jadi memang begini (menurut) saya (masyarakat) agak susah membunuh stigma terorisme itu," katanya membuka kisah hidupnya kepada Kriminologi.id saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 22 Mei 2018.

Sofyan pun menceritakan kehidupannya usai keluar dari jeratan jeruji besi, yang di dalamnya terhiasi suka dan duka. Serangkain duka dalam hidup yang ia jalani tersaji saat mulai bercengkrama dengan masyarakat. Terlebih saat mencoba mencari penghasilan tetap guna menghidupi keluarga tercinta.

"Jadi saya punya pengalaman buruk juga dari sulitnya mencari pekerjaan dan dukanya ya memang itu ya sudah jalan hidup yang harus saya jalani ya," ujarnya seraya meresapi.

Ia menceritakan, hidupnya seperti jungkir balik melakukan segala upaya untuk bertahan hidup bersama istri dan kelima anaknya. Ia mengaku sejak keluar dari penjara ia tidak memiliki pekerjaan yang tetap. 

"Ya jungkir balik mas, pasang surut juga, saya susah juga mas, ngutang sana, ngutang sini, susah lah pokoknya, prihatin lah. Jadi bekerjanya ya sambilan-sambilan saja gitu lho, maksudnya ya kadang ada job ceramah dari masjid ke masjid," kata Sofyan.

Meski begitu, ia mengaku, sempat mendapatkan bantuan berupa suntikan modal dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Namun, bantuan itu tidak tentu karena sifatnya insidentil. Terkadang sebulan mendapat bantuan, berikutnya tidak. Sehingga, ia tidak begitu berharap banyak pada bantuan BNPT.

"Sekali pernah dikasih modal buat wirausaha, tapi modal itu enggak banyak kan gitu. Saya sebenarnya ingin buka laundry, tapi buka laundry ternyata kurang modalnya kan gitu," kata mantan anggota Polri itu.

Dok. Sofyan Tsauri, mantan narapidana teroris. Foto: Walda Marison/Kriminologi.id
Dok. Sofyan Tsauri, mantan narapidana teroris. Foto: Walda Marison/Kriminologi.id

Sofyan mengungkapkan, ia juga sempat membuka usaha warung makan. Namun kini usahanya itu tak dilanjutkan lantaran tidak memiliki prospek yang bagus.

"Kemarin itu saya juga sempat punya warteg, tapi warteg sudah selesai, kontraknya juga sewanya juga sudah selesai ya kan, dan saya lihat juga enggak profit, ya sudah saya tinggal saja sudah selesai," tuturnya. 

Kendati begitu, ia mengatakan, dalam hidup tidak melulu berbicara duka, melainkan suka. Sebab, ia meyakini, di balik duka yang dialami tersimpan suka

"Jadi memang ada suka dan ada duka, sukanya ya Alhamdulillah saya bisa keluar dari jerat pemikiran-pemikiran takfiri ini, pemikiran-pemikiran jahat menurut saya itu," kata Sofyan. 

Di tengah beratnya cobaan hidup, ia masih menaruh harapan besar akan masa depan. Terutama masyarakat tempat ia berinteraksi.

Ia berharap masyarakat dapat mau menerima kembali mantan napiter yang sudah benar-benar bertaubat kembali ke jalan yang benar. Karenanya, ia meminta agar menjadikan kisah hidupnya sebagai pelajaran agar tidak ditiru.

"Ya memang ini menjadi sebuah hal yang penting mudah-mudahan ini menjadi berguna bagi masyarakat gitu, bagaimana saya bisa masuk ke dalam kelompok radikal teroris, lalu bagaimana saya bisa keluar, ini menarik sebetulnya untuk dikaji kan begitu," ujar Sofyan.

Sebelumnya, Sofyan menjelaskan, kini ia tidak memiliki aktifitas atau pekerjaan tetap atau bisa dikatakan sebagai orang pengangguran.

"Aktivitas saya ya di rumah saja mas, enggak ada kerjaan. Ya saya pengangguran," katanya. 

Ia menuturkan, kehidupannya sebagai mantan napi kasus terorisme seperti dikucilkan masyarakat. Hal itu bisa dilihat dari usahanya yang mencoba mencari penghasilan tetap, namun selalu mentok.

"Teroris mana bisa laku kerja, mau kerja di mana, kan enggak bisa," ujarnya.

KOMENTAR
500/500