Nenek Cicih saat ditemui dirumahnya. Foto: Arief Pratama/Kriminologi.id

Kasus Nenek Cicih, Frustasi Hadapi Pemegang Kuasa Harta Warisan

Estimasi Baca:
Senin, 26 Feb 2018 20:20:16 WIB

Kriminologi.id - Empat anak yang menggugat ibu kandungnya ke Pengadilan Negeri Bandung karena frustasi tak sanggup menyerang si bungsu. Penyerangan si bungsu itu berkaitan dengan amanah yang diberikan almarhum Suwanda Udin, ayahnya kepada anak bontot untuk menjaga sertifikat tanah warisan peninggalannya. 

Alit Kamila, bungsu dari lima bersaudara menyatakan gugatan sang kakak terhadap ibu kandungnya itu merupakan pengalihan setelah kewalahan menghadapi dirinya. Alit juga berstatus orang yang digugat bersama nenek Cicih.

Suwanda Udin adalah suami nenek Cicih, veteran TNI Angkatan Darat berpangkat Pembantu Letnan Dua (Pelda). Suwanda meninggal dunia karena sakit pada tahun 2012. Ayah lima anak ini meninggalkan warisan tanah 332 meter persegi kepada istrinya.

Belakangan sebagian peninggalan warisan itu berkurang 91 meter persegi yang dijual Nenek Cicih kepada seorang bidan seharga Rp 250 juta. 

Baca: Nenek Cicih Korban Cekcok Anak, Gugat Ibu karena Tantangan si Bungsu

Nenek Cicih saat menunjukkan dokumen. Foto: Arief Pratama/Kriminologi.id

Penjualan tanah ini yang menjadi sengketa hingga anak menggugat ibu kandung di Pengadilan Negeri Bandung dengan nilai Rp 1,6 miliar. Alasannya, penjualan tanah itu tanpa sepengetahuan mereka.    

"Aneh kan saya yang mau diserang, nenek (Cicih) dibawa-bawa kasihan kan. Intinya begini, saya dapat amanat dari ayah saya untuk menjaga nenek dan menjaga surat surat penting seperti sertifikat dan sebagainya," ujar Alit kepada Kriminologi, Senin, 26 Februari 2018. 

Alit membantah kalau dirinya menantang saudara tertuanya itu untuk membawa kasus penjualan tanah ke proses hukum. Pada bulan September 2017, pertemuan terakhir keluarga membahas penjualan tanah yang difasilitasi Ketua RW ini tak menemukan kesepakatan. 

Alit mengklarifikasi, usai pertemuan akhir yang masih buntu itu dirinya menyarankan kepada empat kakaknya menempuh jalur hukum ke polisi.     

Baca: Curhatan Anak Bungsu Nenek Cicih Soal Ulah Empat Kakaknya

Tantangan si bungsu ini menjadi alasan empat kakak untuk menyeret kasus penjualan tanah ibu kandungnya ke pengadilan. 

"Saya tidak mengiyakan atau menantang. Jadi kan karena mediasi yang dihadiri Ketua RW soal penjualan tanah itu deadlock, maka ya saya sarankan kalau mau ke jalur hukum ke ahlinya baik polisi atau siapa lah," jelas Alit.

Selain itu, Alit juga tidak habis pikir dari mana angka harga jual tanah Rp 9 juta per meter yang menjadi landasan empat kakaknya itu muncul. Karena, sepengetahuan ibu dua anak itu berdasarkan pengalamannya membayar pajak tanah NJOP di daerah Cipadung, kota Bandung itu hanya Rp 2,7 juta per meter.

Baca: Nenek Cicih, Istri Veteran yang Digugat Anaknya Hidupi 18 Cucu

"Saya dan nenek (Cicih) selalu bayar pajak tanah 330 meter ini, dan itu NJOPnya hanya 2,7 juta. Ngawur kalau sampai bilang 9 juta per meter," papar Alit ditemui di Cipadung. 

Hingga saat ini, kata Alit, dirinya tak habis pikir kenapa kakaknya memperlakukan ibu di pengujung usianya sampai ke pengadilan. Bagi nenek Cicih, menginjakkan kaki ke PN Bandung itu merupakan sejarah pertama sepanjang hidupnya. 

Apalagi, keempat kakaknya itu beralasan kalau gugatan yang dilayangkannya itu untuk menjaga sisa aset keluarga.  

"Kalau mau bilang menyelamatkam aset kenapa harus menggugat? Toh tetap saja nenek selalu membayar biaya kebutuhan anak dan cucunya kalau kepepet," papar Alit.

Reporter: Arief Pratama
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500