Ketua Rukun Warga kampung Boncos. Foto: Rizky Adytia/Kriminologi.id

Kematian Sahabat Tekadkan Azwar Lawan Jerat Narkoba Kampung Boncos

Estimasi Baca:
Sabtu, 10 Feb 2018 07:00:55 WIB

Kriminologi.id - Tak ada kata menyerah tertanam di benak Azwar Laware. Jerat narkoba merenggut nyawa banyak orang, termasuk warga di Kampung Boncos, Jakarta Barat. Kematian beberapa sahabat semasa kecilnya membuat ia bertekad melawan jerat narkoba di Kampung Boncos.

Azwar Laware berhadapan dengan pemakai, pengedar hingga bandar besar. Selamatkan keluarga. Kalimat itulah yang memacunya tiap hari untuk mengurangi peredaran di Kampung Boncos, sebuah wilayah yang terkenal dengan peredaran narkotika di DKI Jakarta.

Di Kampung Boncos, orang dengan mudah menemukan transaksi narkoba. Gang-gang sempit yang menjadi pembatas antara rumah-rumah peduduk membuat para pelaku kejahatan narkoba betah berada di kawasan itu.

Wilayah ini dikenal sebagai kawasan padat penduduk dengan luas wilayah 42 ribu meter persegi. Wilayah ini penuh sesak dengan hunian kumuh. Di tempat ini, narkotik jenis sabu-sabu paling banyak diedarkan pelaku. Terkadang, sebuah kontrakan memiliki bilik tersendiri bagi pengguna untuk menikmati sabu-sabu.

Baca: Bilik Kampung Boncos Jadi Favorit Penikmat Sabu

kampung boncos

Terhitung 12 tahun Azwar berjuang di Kampung Boncos. Pria berusia 53 tahun ini menyaksikan bertahun-tahun daerah tempat tinggalnya dijadikan sarang narkoba. Selama itu juga ia menyaksikan banyak kepedihan warga, baik karena kehilangan anggota keluarga maupun harta benda karena narkoba. Tak terkecuali stigma Kampung Boncos sebagai sarang narkoba kelas wahid di ibukota.

"Sudah banyak yang saya lakukan tapi memang awalnya seakan percuma," kata Azwari saat ditemui Kriminologi di rumahnya, RW 03 Kelurahan Kota Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat, 9 Februari 2018.

Baca: Yeni, Srikandi Kampung Ambon Rela Dicaci Demi Perubahan

Azwar sehari-hari bekerja sebagai petugas kebersihan. Di rumah yang sederhana itu, ia hanya memejamkan mata sejenak. Selebihnya ia gunakan waktu untuk mengadakan penyuluhan kepada warga. Azwar mengatakan kematian sahabatnya semasa kecil membuatnya sakit hati kepada pengedar narkoba. Ia pun bertekad mengurangi narkoba dengan menjadi Ketua RW di lingkungannya.

Azwari sadar, memerangi narkoba bukan pekerjaan gampang atau semudah membalikkan telapak tangan. Ia pun memilih pendekatan secara personal. Dengan cara itu pula ia perlahan masuk ke dalam lingkungan pengguna narkoba.

Perjuangan Azwari bukan tanpa kendala. Rintangan yang dialaminya adalah perlawanan dari para bandar yang terus menghujat dan mengancam Azwari. Namun, hal itu menurutnya merupakan hal yang biasa sehingga pria itu tak pernah gentar menghadapinya.

"Sudah biasa, mulai ditodong golok sampai dibilang RW anjing sudah pernah saya alami tapi kalo kekerasan fisik belum pernah," ucapnya.

kampung boncos

Acapkali yang dihadapi Azwar rasa takut warganya saat berhadapan dengan pengedar narkoba. Ia mengatakan sering kali mendengar warganya tak mau campur tangan karena takut dengan bandar narkoba.

"Buat apa ganggu urusan mereka (bandar narkoba), toh mereka tidak ganggu kita," kata Azwar meniru ucapan warganya.

Baca: Bandar Kampung Boncos Cepat Hilang daripada Kampung Ambon

Hal yang membuat Azwar geram adalah tipikal penjualan narkoba di Kampung Boncos. Saat musim razia dari kepolisian, tak satupun pengedar terlihat batang hidungnya. Ia yakin, peredaran narkoba di Kampung Boncos sengaja dikondisikan biar tak hilang tuntas.

"Pengedarnya orang itu-itu saja, kalau razia hilang terus ada lagi," tuturnya.

Meskipun penggerebekan kerap kali dilakukan di Kampung Boncos oleh pihak kepolisian, namun peredaran narkotika di kawasan itu terus terjadi. Bahkan, kata Azwar, para bandar narkoba itu kerap menggunakan remaja sebagai perlindungan.

"Dahulu itu anak-anak di sini itu pasti jadi kurir bandar di sini. Jadi kalau ada yang pesan tinggal lewat mereka nanti diantar dan mendapat upah Rp 10 ribu," ucap Azwari.

Selain memberikan upah sejumlah uang, para bandar juga memberikan sabu-sabu kepada remaja atau anak-anak itu secara gratis. Hal itu dilakukan dengan tujuan agar mereka menjadi pengguna dan membeli sabu-sabu kepada para bandar yang ada di wilayah itu.

Baca: Empat Pengguna Narkoba di Kampung Boncos Positif HIV

Azwari mengaku, dalam memberantas narkoba ia tak bekerja seorang diri. Instansi terkait seperti Badan Narkotika Nasional juga kerap menggandengnya saat mengadakan penyuluhan narkoba di wilayahnya.

Dari sekian usaha Azwar, hal yang membuat warga mulai sadar akan bahaya narkoba adalah terkait penyebaran virus HIV. Keganasan virus Human Immunodeficiency Virus atau HIV membuat warga mulai sadar akan bahaha penggunaan narkoba.

"Saya adakan kegiatan penyuluhan bahwa HIV. Saya jelaskan bahwa HIV itu berbahaya dan jika terjangkit harus berobat seumur hidup," ucap Azwari.

Beberapa waktu lalu, Satuan Reserse Narkoba Polres Jakarta Barat menggerebek Kampung Boncos. Empat dari sembilan pengguna narkoba yang ditangkap terbukti mengidap. Menurut kepolisian, kawasan Kampung Boncos dikenal banyak pengidap HIV.

Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat, Komisaris Besar Hengki Haryadi mengatakan setelah menjalani pemeriksaan dan pengecekan kesehatan beberapa orang terbukti mengidap HIV.

"Di TKP (lokasi penangkapan) sana banyak yang HIV. Empat orang yang sebelumnya kami amankan juga menderita HIV," ucap Hengki di Polres Metro Jakarta Barat, Kamis, 8 Februari 2018.

Baca: Kampung Boncos Digerebek, Polisi Temukan 10 Paket Sabu di Kontrakan

kampung boncos

Selain itu, peredaran narkoba di kampung narkoba yang berada di kawasan Kota Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat, itu juga dinilai telah menelan korban jiwa. Bahkan, dari hasil pemeriksaan kesembilan tersangka yang telah diamankan, salah seorang tersangka mengaku anggota keluarganya telah meninggal dunia.

"Ada satu istri dari tersangka meninggal juga karena menderita HIV," kata Hengki. MG

Reporter: Rizky Adytia
Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500