Erwin Purba, mantan perampok yang tobat dan memilih menjadi pedagang atribut berkendara sepeda motor di Stasiun Palmerah, Jakarta Barat. Foto: Rizky Adytia/Kriminologi.id

Kisah Pertobatan Erwin, Tak Tahan Buah Hati Diejek Anak Penjahat

Estimasi Baca:
Senin, 21 Mei 2018 22:20:45 WIB

Kriminologi.id - Erwin Purba (36) adalah pedagang perlengkapan kendaraan bermotor di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Selintas, ia terlihat seperti pria biasa. Namun, siapa yang sangka jika ia punya punya masa lalu yang kelam. Ia kerap merampok perumahan mewah dengan cara sadis.

Aksinya terhenti ketika ia melihat anak bungsunya, Mira Marlina (9) menangis dan diejek teman-teman sebayanya. Mereka mengatakan 'penjahat' untuk menyebut sosoknya.

Ditemui Kriminologi.id, Senin, 21 Mei 2018, ia bercerita tentang kehidupannya di masa lalu, pergulatan hidupnya, hingga akhirnya ia memilih untuk meninggalkan dunia hitam.

"Saya dulu kalau ngerampok itu modalnya samurai aja tidak pake senjata api. Saya juga tidak segan ngelukain korban," kata Erwin.

Ia mengaku 20 tahun menekuni jalan sebagai perampok. Bahkan hal itu dilakoninya sejak ia masih berusia remaja.

Bersama tiga rekannya, ia menyusuri berbagai kota, mulai dari Bandung, Tasikmalaya, hingga Surabaya. Ia menggasak harta benda para korban yang tinggal di pemukiman mewah. Tak jarang, samurai mereka gunakan untuk melukai korban.

"Saya tak ingat lagi sudah berapa rumah yang saya datangi dan berapa orang yang pernah saya lukai," kata pria berkulit sawo matang ini.

Ia tak pernah kapok. Angin berhembus. Erwin melanjutkan ceritanya lagi. Selama puluhan tahun menjadi perampok, ia ingat kalau ia sudah merasakan tinggal di enam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

Lapas yang paling berkesan baginya adalah ketika ia dijebloskan ke Lapas Bulak Kapal, Bekasi, Jawa Barat. Di lapas ini menjadi titik balik hidupnya. Tekad untuk keluar dari dunia hitam terikrar di tempat itu. 

"Di lapas itu, saya mendapat penyiksaan yang amat kejam dari narapidana lain. Saya dipukuli tanpa ampun setiap hari. Saya dendam. Saya balas semuanya itu sampai saya menjadi Kepala Kamar di sana," kata Erwin.

Hukuman di penjara itu akhirnya selesai ia jalani. Ia bebas. Udara kebebasan terasa segar di depan mata. Namun rupanya, tekad yang ia bangun saat di penjara untuk meninggalkan dunia hitam, tidak mudah ia lakukan. Ia terlena untuk melakukan kejahatan yang sama.

Ia kembali lagi ke dunia lamanya: merampok. Hasilnya, ia berikan ke istri dan anak-anaknya. Ia berpikir dengan uang yang ia dapatkan, ia bisa memberi kebahagiaan untuk keluarganya. Asumsinya salah. Sejumlah uang itu tak mampu membuat keluarganya bahagia.

Ia kembali bercerita, tetangga sekitarnya sebenarnya tidak mengetahui kalau ia bekerja sebagai perampok. Tetapi, karena setiap pulang ke rumah ia selalu membawa uang banyak, membuat para tetangga menaruh curiga dan beranggapan bahwa ia adalah penjahat. Buah hatinya bahkan terkena dampaknya.  

"Nah, anak saya di-bully teman-temannya, mereka bilang kalau bapaknya Mira itu penjahat," kata Erwin.

Ejekan itu, kata Erwin, terus diarahkan pada Mira. Mira tertekan. Tak jarang, Mira pulang ke rumah dengan menangis histeris, sambil menanyakan kepada ibunya apa pekerjaan sang ayah.

Meski sempat dicecar pertanyaan oleh buah hatinya, istrinya tetap berlaku sabar. Istri yang ia nikahi pada tahun 2004 itu hanya menjawab, pekerjaan ayah itu halal.

Ia teringat, saat ia keluar dari penjara, ia mendengar dan mendengar anaknya menangis karena ejekan dari teman-temannya yang menyebutkan ayahnya narapidana.

Tepat di tahun 2010, ia memutuskan untuk meninggalkan profesinya sebagai perampok. Ia kemudian menjual tiga buah sepeda motor untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. 

Meski godaan dari tiga rekannya untuk kembali ke dunia hitam masih menghampirinya hingga kini, ia tegas menolaknya. Alasannya, keluarga.

"Istri dan dua anak saya segalanya buat saya. Lebih baik saya miskin daripada anak saya tidak bahagia. Saya kasihan sama anak saya yang bungsu. Dia di ejek terus sama teman-temannya. Saya mikir masa depan dia nantinya bagaimana," ucap Erwin dengan mata berkaca-kaca. YH | RZ

Reporter: Rizky Adytia
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500