Gunawan Simatupang (kanan), personel Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Kota Administrasi Jakarta Timur. Foto: Walda Masiron/Kriminologi.id

Kisah Petarung Api, Sahur Kandas di Babak Kedua Final Liga Champion

Estimasi Baca:
Jumat, 15 Jun 2018 14:05:29 WIB

Kriminologi.id - Kebakaran di kota besar seperti Jakarta agaknya menjadi hal yang lazim terjadi karena kepadatan dan lemahnya penataan bangunan. Data yang dihimpun oleh Pemadam Kebakaran DKI Jakarta, hingga Mei 2018 tercatat 575 kebakaran di Jakarta. Jakarta Timur menjadi kawasan yang paling banyak tercatat mengalami kebakaran dengan 149 peristiwa kebakaran. 

Sementara di urutan kedua, Jakarta Selatan sebagai daerah dengan peristiwa kebakaran terbanyak yaitu dengan 128 peristiwa kebakaran. Selanjutnya disusul Jakarta Barat dengan 114 kebakaran dan Jakarta Utara dengan 102 peristiwa kebakaran. Terakhir adalah Jakarta Pusat dengan 82 peristiwa kebakaran.

Banyaknya peristiwa kebakaran membuat petugas pemadam kebakaran berjibaku dengan kobaran api hingga tersebutlah moto “Pantang Pulang Sebelum Padam”, mengingat kegigihan mereka menyelamatkan harta dan nyawa penduduk Jakarta. Tak peduli meskipun haus dan lapar mendera di bulan ramadan.

Adalah Gunawan Simatupang (33), salah satu kepala regu pemadam kebakaran (Damkar) yang bertugas di Suku dinas penanggulangan kebakaran dan penyelamatan kota Administrasi Jakarta Timur, berkantor di Matraman.

Pria yang mengabdikan diri sebagai petarung api selama14 tahun ini nampaknya sudah makan asam garam dalam mengedalikan si jago merah. Kriminologi.id sempat menghampiri bapak dua anak ini untuk berbagi kisah pengalaman selama menjadi petugas pemadam kebakaran, terutama di bulan puasa.

Menurutnya, bukan jadi masalah bertugas selama bulan puasa. Ia menganggap keduanya adalah kewajiban yang harus dijalani, antara kewajiban agama dan profesionalitas.

"Kita tahu konsekuensinya jika bertugas saat puasa seperti apa. Itu seperti tantangan tersendiri saja," ujar Gunawan di kantor Damkar Matraman, Jakarta Timur, Rabu 13 Juni 2018.

Walaupun tidak bisa dipungkiri, terkadang ada godaan untuk membatalkan puasa di tengah tugas berat yang sedang dikerjakan sebagai pemadam kebakaran.

Ketika ditanya tentang pengalaman berkesan selama bertugas di puasa tahun ini, ia sontak menjawab Bidara Cina. Kawasan Bidara Cina, Jakarta Timur merupakan kawasan padat penduduk yang sempat terbakar pada 27 Mei 2018 lalu. 

Terdapat cerita unik yang terselip dalam insiden itu. Gunawan bercerita saat itu bertepatan dengan Final Liga Champion antara Real Madrid melawan Liverpool. Ia beserta regunya sedang asik menonton laga tersebut.

"Saat nonton, saya ajak teman saya untuk sahur. Namun mereka bilang, 'nanti aja pas akhir akhir (jam imsak)' kaya gitu. Eh pas sudah masuk babak kedua menit ke 10, ternyata ada kebakaran di Bidara Cina," lanjutnya cerita dengan antusias.

Sontak regunya langsung berangkat menuju lokasi kebakaran. Ia mengaku agak sulit untuk mencapai titik-titik terjadinya kebakaran karena banyak mobil warga yang terpakir disana. 

Tak lama berselang, api pun berhasil di padamkan. Namun karena terlalu lama bertarung dengan si jago merah, ia beserta regu tidak sempat sahur. Alhasil hari itu mereka tetap puasa tanpa sahur.

"Ya karena waktu itu untuk melokalisir kebakaran kita lebih konsentrasi, ternyata setelah terlokalisir, waktu imsak sudah selesai," ujarnya sambil sedikit tertawa.

Sempat terbesit dalam dirinya untuk membatalkan puasa pada hari itu. "Kalau pas melokalisir kebakaran lewat dari jam Imsak, mungkin saya akan batalkan puasa. Tapi selesai pas waktu Imsak abis jadi saya pikir lanjut aja lah (puasanya)," ujar pria asal Sumatera Utara itu.

Dirinya mengaku harus selalu siap siaga dalam menjalani tugas yang tak terbatas waktu. Namun sebagai manusia biasa yang menjalani kewajiban puasa, ia mengaku agak terganggu jika harus bertugas di siang hari bolong.

"Soalnya siang hari ini titik kita lagi lemas-lemasnya puasa," ujarnya sambil tertawa. Seketika sifat garang layaknya petugas pemadam kebakaran yang ada pada dirinya hilang menjadi orang biasa yang hanya sekedar bercerita tentang keluh kesahnya.

Berbicara lebaran tidak terlepas dari tradisi pulang kampung atau mudik. Mudik nampaknya sudah jadi kewajiban bagi para masyarakat yang merayakan lebaran. Namun tidak untuk Gunawan. Sudah dua tahun dirinya tidak pulang ke kampung halaman. Tidak lain dan tidak bukan karena panggilan tugas. 

"Sebenarnya ada niatan bagi saya untuk pulang kampung. Tapi namanya tugas ga bisa ditinggal. Apalagi kalau libur panjang seperti lebaran ini  biasanya kebakaran makin meningkat," kata pria yang tinggal di Depok ini.

Walaupun anak perempuan pertamanya yang masih berumur 6 tahun kerap bertanya padanya, "Kok kita gak pulang kampung pak?" Dia harus menjelaskan kepada si sulung itu mengenai pekerjaan ayahnya yang tidak bisa ditinggalkan.

"Kalau bilang sama istri, dia masih bisa ngerti tentang pekerjaan saya," katanya dengan logat Bataknya yang masih kental itu.

Begitulah resiko bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran. Mereka harus rela mengenyampingkan keinginan dan kepentingan keluarga demi tugas negara, demi melayani masyarakat.  

Keluarga dan sanak saudara mau tidak mau harus ditinggal demi padamnya si jago merah yang sedang melahap rumah orang lain yang mungkin mereka tidak kenal sama sekali.

Bahkan di hari besar seperti ini, tugas utama sebagai pemadam kebakaran tidak bisa ditinggal. Totalitas dan profesionalitas merupakan kunci Gunawan sebagai kepala regu dan kawan-kawan untuk tetap bertugas dalam kondisi apapun. AS

Reporter: Walda Marison
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500