Mengenal Romo Prier, Komponis Musik Liturgi Korban Gereja St. Lidwina

Estimasi Baca :

Romo Prier korban penyerangan Gereja St Lidwina Jogja. Foto: Ist/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Romo Prier korban penyerangan Gereja St Lidwina Jogja. Foto: Ist/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Penyerangan di Gereja St. Lidwina, Sleman, Yogyakarta, yang terjadi pada Minggu pagi, 11 Februari 2018 menyebabkan empat orang luka-luka. Salah satunya Romo Prier yang saat itu tengah memimpin berlangsungnya misa. Akibat peristiwa itu, Romo Prier mengalami luka sobek pada kepala bagian belakang.

Berdasarkan penelusuran Kriminologi, Romo bernama lengkap Karl-Edmun Prier itu memiliki peran yang besar dalam perkembangan musik liturgi atau lagu puji-pujian Katolik di Indonesia. 

Baca: Pakai Parang, Mahasiswa Serang Jemaat Gereja Saat Beribadah

Selain sebagai liturgis, Romo Prier juga melayani umat melalui musik. Karena kecintaannya yang besar pada musik, Romo Prier menjadi guru dan dosen musik, pengarang lagu gereja, hingga mengaransemen lagu.

Romo Prier telah menciptakan beberapa lagu Mazmur, dua diantaranya adalah “Bangkitlah” dan “Misa Raya II”. Selain itu, Romo Prier juga menulis buku, antara lain Ilmu Bentuk Musik (1996) dan Kamus Musik (2009).

Besarnya peran Romo Prier dalam sejarah perkembangan musik liturgi di Indonesia bahkan membuat perjalanan hidup dan karya-karyanya diulas ke dalam sebuah tesis oleh Rianti Mardalena Pasaribu, mahasiswi S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM, pada tahun 2012.

Dalam tesis berjudul “Biografi Karl-Edmun Prier Perjalanan Hidup dan Karya-Karyanya” itu disebutkan bahwa Romo Prier pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1964 dan telah banyak berkarya di bidang inkulturasi musik liturgi. Romo Prier sudah belajar musik sejak masih anak-anak hingga sampai remaja dirinya terpanggil untuk menjadi biarawan dan melanjutkan studi Novisiat di Serikat Jesuit. 

Setelah studi Novisiat, ia mengambil studi filsafat di Munchen selama dua tahun. Kemudian pada tahun 1960 datang tawaran untuk tugas misionaris di Indonesia.

Baca: GP Ansor: Ada Motif Politik di Balik Penyerangan Gereja St. Lidwina

Minat Romo Prier dalam mempelajari musik terus berkembang saat dirinya diutus menjadi misionaris ke Indonesia. Merujuk pada Majalah HIDUP, saat dirinya masih menjadi seorang frater, Prier jatuh cinta pada lagu-lagu tradisional yang ia dengarkan saat tinggal di daerah Wonosari, Yogyakarta.

Saat melanjutkan pendidikan teologi di STFT Kentungan, berbagai gagasan berkembang dalam benaknya, khususnya gagasan mengenai musik. Setelah membaca hasil Konsili Vatikan II yang salah satu poinnya berbunyi “hendaknya musik gereja berpangkal dari budaya setempat”, Prier berkesimpulan bahwa lagu-lagu inkulturasi harus diciptakan agar liturgi gereja bertambah semarak.

Berdasar dari hal tersebut, Romo Prier mengusulkan pembentukan sebuah pusat musik liturgi kepada pimpinan Serikat Jesuit. Idenya tersebut ternyata diterima dengan baik. 

Kota Yogyakarta pun dipilih Romo Prier sebagai tempat untuk mengembangkan lembaga musik liturgi itu karena, menurutnya, Yogya masih sangat menjunjung budaya Jawa dibanding kota-kota lainnya. Pada tahun 1971, Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta pun didirikan.

Baca: Insiden Gereja St Lidwina Jangan Dikaitkan Agama, Kata Bamsoet

Pendirian PML Yogyakarta tersebut tidak hanya untuk menciptakan musik inkulturasi, melainkan juga untuk menciptakan pendidikan musik bagi umat Katolik di Yogyakarta. Romo Prier memberi perhatian khusus terhadap pembinaan organis yang andal.

Mengutip artikel yang dikeluarkan oleh Tembi Rumah Budaya, pendirian PML Yogyakarta juga bermula dari diskusi berkala antara Romo Prier dan Paul Widyawan, seorang pemusik yang banyak berkarya dalam bidang paduan suara gerejawi dan telah mendirikan paduan suara Vocalista Sonora pada tahun 1964.

PML Yogyakarta pada perjalanannya tidak hanya menangani inkulturasi musik liturgi secara khusus, namun juga ikut melestarikan dan mengembangkan musik tradisional Indonesia. Dengan mengawali perjalanannya dari lokakarya komposisi musik liturgi bersama umat Katolik di berbagai daerah di Indonesia, PML Yogyakarta kemudian juga mendokumentasikan berbagai nyanyian tradisional, instrument musik dan gaya musik daerah, hingga tari-tarian dan upacara adat. RZ

Baca Selengkapnya

Home Rekam Jejak Sosok Utama Mengenal Romo Prier, Komponis Musik Liturgi Korban Gereja St. Lidwina

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu