Mantan Ketua DPR Setya Novanto, tersangka korupsi e-KTP, Foto: Antara

Menu Puasa Setya Novanto di Penjara, Berbagi Sayur Lodeh dan Gorengan

Estimasi Baca:
Senin, 21 Mei 2018 15:15:35 WIB

Kriminologi.id - Mantan Ketua DPR RI Setya Novanto menceritakan pengalamannya menjalani ibadah puasa di penjara atau Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Jawa Barat. 

Ini merupakan puasa Ramadan 2018 pertama bagi mantan Ketua Umum Partai Golkar di dalam penjara.

"Ya, insyaallah, saya beradaptasi dengan teman-teman yang sama-sama susah dan penghuninya saling berbagi serta berdoa selama tinggal di 'pesantren'," kata Setya Novanto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin, 21 Mei 2018.

Setnov menambahkan dirinya menjalankan sahur bersama dengan teman-teman di lapas. "(Saya) puasa terus, sahur bersama-sama dengan teman-teman yang lain, saling berbagi untuk sahur," tambah Setnov.

Untuk makan sahur, Setnov mengaku menunya adalah sayur lodeh, sedangkan saat berbuka cukup dengan gorengan.

"Sahur ada sayur lodeh, kalau buka gorengan yang ala di 'pesantren' sana," ungkap Setnov sambil sedikit tersenyum.

Setnov dijadwalkan menjadi saksi untuk Direktur PT Quadra Solutions Anang Sugiana Sudihardjo mendapat keuntungan sebesar Rp 79,039 miliar dari perbuatan melawan hukum yang dilakukan bersama-sama dengan pihak lain dalam proyek pengadaan KTP elektronik pada tahun anggaran 2011 dan 2012.

Setnov sendiri sudah dipindahkan sejak 4 Mei 2018 ke Lapas Sukamiskin berdasarkan vonis hakim dalam sidang 24 April 2018 yang menyatakan bahwa dia terbukti bersalah dan dihukum 15 tahun penjara ditambah denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi pengadaan e- KTP.

Ia pun memutuskan untuk menerima vonis hakim tersebut dan telah membayarkan denda Rp 500 juta serta biaya perkara Rp 7.500,00.

Untuk pembayaran uang pengganti belum dipenuhi sebesar 7,435 juta dolar AS dikurangi Rp 5 miliar. Namun, Setnov sudah menyanggupi untuk membayarnya dengan menyerahkan surat kesanggupan membayar.

Redaktur: Syahrul Munir
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500