Hakim Agung, Artidjo Alkostar. Foto: Facebook Zulfahmy Wahab

Momok yang Bernama Artidjo Alkostar Kini Telah Purnabakti

Estimasi Baca:
Kamis, 24 Mei 2018 08:50:30 WIB

Kriminologi.id - Hakim agung Artidjo Alkostar resmi menjalani masa pensiunnya sejak 22 Mei 2018. Sebelumnya, hakim agung Artidjo dikenal sebagai hakim eksekutor beberapa kasus fenomenal yang terjadi di Indonesia. Hakim agung Artidjo tidak hanya menangani kasus-kasus korupsi tetapi juga kasus narkoba hingga kasus ujaran kebencian. Satu hal yang menjadi ciri khas kasus-kasus yang ditangani Hakim Agung Artidjo yaitu kasus yang menyangkut nama-nama kondang di negeri ini.

Pria yang lahir di Situbondo, Jawa Timur pada 22 Mei 1948 itu menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Asem Bagus, Situbondo dan kemudian melanjutkan studinya ke Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta.

Sebelum menjadi hakim agung, Artidjo berprofesi sebagai pengacara dan dosen pengajar di UII. Artidjo pernah menjadi pengacara Human Rights Watch divisi Asia. Selain itu, Artidjo juga pernah menjabat sebagai Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Tidak hanya itu, Artidjo juga mengelola firma hukumnya sendiri yang bernama Artidjo Alkostar.

Infografik Deretan Koruptor Korban Palu Sakti Hakim Agung Artidjo Alkostar. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id
Caption

Lama berkiprah di bidang hukum, akhirnya pada tahun 2000-an Artidjo diminta untuk mendaftar sebagai hakim agung oleh Yusril Ihza Mahendra yang menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM saat itu. Artidjo kemudian menyanggupinya dan ternyata dirinya berhasil lolos seleksi hakim agung tersebut. Selama menjadi hakim agung, Artidjo juga sempat menjabat sebagai ketua kamar pidana.

Selama menjabat sebagai hakim agung, banyak nama-nama pejabat maupun politikus yang menajdi korban ketegasan Artidjo dalam memutus perkara. Sebut saja anggota DPR Angelina Sondakh yang terjerat kasus korupsi Hambalang. Sebelumnya Angelina diputus 4,5 tahun penjara, namun kemudian diajukan kasasi dan putusan kasasi mengharuskan Angelina menjalani hukuman penjara selama 12 tahun. Angelina harus menerima hasil putusan kasasi yang lebih berat 7,5 tahun dari putusan sebelumnya. Majelis hakim dalam sidang kasasi tersebut dipimpin Artidjo Alkostar.

Selain Angelina, Artidjo juga memimpin majelis hakim untuk kasasi dengan terdakwa Anas Urbaningrum. Anas sebelumnya divonis 7 tahun hukuman penjara namun setelah kasasi, justru harus menjalani hukuman penjara selama 14 tahun. Artinya Artidjo telah memutuskan untuk menjatuhi hukuman yang lebih berat terhadap Anas.

Hampir semua putusan perkara yang ditangani Artidjo mendapatkan hasil yang minimal sama dengan hukuman sebelumnya dan bahkan cenderung memberatkan terdakwa. Rekam jejak Artidjo inilah kemudian menjadi momok bagi para koruptor yang hendak mengajukan kasasi dengan harapan dapat meringankan hukumannya.

KOMENTAR
500/500