Pengakuan Anak Nenek Cicih, Gugat Ibunya Demi Selamatkan Aset Keluarga

Estimasi Baca :

Suasana rumah AI penggugat nenek Cicih di Jalan Cipadung, Bandung, Jawa Barat. Foto: Arief Pratama/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Suasana rumah kontrakan milik Ai Komariah, kakak pertama yang menggugat Nenek Cicih, ibu kandungnya. Rumah kontrakan Komariah dihuni pengusaha konveksi di Jalan Cipadung, Bandung, Jawa Barat. Foto: Arief Pratama/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Empat anak yang gugat ibu kandungnya beberkan alasan mereka menyeret Nenek Cicih ke pengadilan. Ai Sukawati, anak kedua nenek Cicih mengatakan gugatan perdata ke ibunya itu demi menyelamatkan aset keluarga yang masih tersisa.

Nenek Cicih, istri veteran berpangkat Pembantu Letnan Dua (Pelda) almarhum Suwanda Udin digugat oleh empat anaknya sebesar Rp 1,6 miliar ke Pengadilan Negeri Bandung. Gugatan dilayangkan ke nenek Cicih yang dituding menjual tanah warisan ayahnya tanpa sepengetahuan mereka. 

"Kami lakukan ini guna menyelamatkan aset keluarga yang masih tersisa. Kami hanya berharap harga yang sesuai, misal saat ini harga pasaran Rp 90 juta per meter, tinggal dikalikan saja. Misalnya ingin nego, yah berapa, tapi tidak sampai Rp 250 juta banget," ujar Ai Sukawati kepada Kriminologi, Jumat, 23 Februari 2018.

Ai Sukawati, anak kedua dari Cicih menjelaskan terkait penjualan tanah warisan yang dilakukan Cicih kepada bidan Iis seharga Rp 250 juta ini pernah dibahas beberapa kali dalam pertemuan keluarga. Namun hingga pembahasan keluarga terakhir bulan September 2017 yang difasilitasi Ketua RT dan Ketua RW itu tanpa menghasilkan kesepakatan alias deadlock. 

Baca: Curhatan Anak Bungsu Nenek Cicih Soal Ulah Empat Kakaknya

Selain itu, Alit Kamila (46) bungsu dari lima saudaranya menantang empat kakaknya untuk menempuh ke proses hukum.  

Foto nenek Cicih

"Jadi saya mau membantah kami minta jatah warisan, kami ikhlas sudah dapat. Sekarang permasalahan terjadi karena tanah yang luas 91 meter ini dijual tidak sesuai harga pasaran, itu saja," jelas Ai mengklarifikasi kepada Kriminologi di rumah kakak pertamanya Ai Komariah, Jumat, 23 Februari 2018. 

Secara gamblang, Ai menjelaskan kalau ia dan tiga saudara lainnya siap menerima apapun keputusannya dalam mediasi. Asalkan, harga jual tanah ibunya itu tidak sampai melorot jauh di bawah harga pasaran.

Ai menjelaskan harga pasaran tanah di lingkungannya itu berkisar Rp 10 juta per meter. Sehingga, bisa dikalikan berapa harga yang wajar untuk nilai tanah seluas 91 meter persegi. 

Baca: Nenek Cicih, Istri Veteran yang Digugat Anaknya Hidupi 18 Cucu

"Bukan kali ini saja ibu menjual tanah di bawah harga pasar. Bagi kami yang penting penjualannya tidak jauh dari harga normal, yah kalau pun mau nego silakan," ujar Ai Sukawati. 

dokumen yang dimiliki nenek Cicih

Ai dan tiga saudaranya pasrah dengan dampak gugatan dari masyarakat yang menyebut sebagai anak yang tidak sayang terhadap ibunya sendiri. 

"Ya kami pasrah saja menyikapi opini yang muncul, hanya saja kami tegaskan kami masih sayang ibu kami. Tak separah yang diduga dengan menelantarkan nenek Cicih sendiri. Itu kami nyatakan tidak benar," ujarnya. 

Ai menunjukkan kalau dirinya masih hormat terhadap nenek Cicih yakni dengan mengunjungi ke rumahnya usai pertemuan sidang mediasi di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa, 20 Februari 2018. Namun, saat Ai tiba, nenek 18 cucu dan tujuh cicit itu sedang keluar rumah. 

Baca: Digugat Rp 1,6 Miliar, Nenek Cicih Jaga Ucapan Demi Empat Anaknya

"Pascapersidangan kemarin, malam nya saya ke rumah nenek Cicih, namun nenek nggak ada karena bertemu dengan salah satu calon gubernur," jelasnya.

Kriminolog bertemu Ai di rumah kakak pertamanya Ai Komariah. Saat itu, Komariah tidak bersedia menceritakan kronologi gugatan ke ibunya.

Hanya saja, dia meminta adiknya Ai untuk menjelaskan. Ai tiba ke rumah Komariah setelah ditelepon. Ai Komariah bekerja di sebuah konveksi di depan rumahnya. Pengusaha konveksi itu mengontrak di rumah Komariah. SM

Baca Selengkapnya

Home Rekam Jejak Sosok Utama Pengakuan Anak Nenek Cicih, Gugat Ibunya Demi Selamatkan Aset Keluarga

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu