Bupati Nganjuk Taufiqurrahman. Foto: Ist/Kriminologi.id

Sepak Terjang Bupati Nganjuk, Terlilit Korupsi dan Dipecat Partai

Estimasi Baca:
Kamis, 26 Okt 2017 11:25:22 WIB

Kriminologi.id - Bupati Nganjuk Taufiqurrahman akhirnya ditangkap KPK. Penangkapan itu diduga terkait tindak pidana korupsi selama ia menjabat sebagai Bupati sejak tahun 2008. 

Perjalanan Taufiqurrahman sebagai orang nomor satu di salah satu Kabupaten di Jawa Timur itu tak selamanya berjalan mulus. Ia pernah beberapa kali berurusan dengan penegak hukum.

Kejari Nganjuk pernah mengusut dugaan korupsi yang melibatkan namanya. Nama Taufiqurrahman juga pernah nyangkut di meja penyidik Kejaksaan Agung hingga KPK. 

Dengan PDI-P, partai yang mengusungnya sebagai Bupati pun, pria kelahiran Nganjuk ini pernah bermasalah. Berikut ini hasil penelusuran Kriminologi terkait rekam jejak Taufiqurrahman selama memimpin Kabupaten Nganjuk.  

Baca: Ditangkap KPK, Bupati Nganjuk Miliki Harta Rp 21 M

1. Korupsi APBD
 
Taufiqurrahman pernah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK terkait penyalahgunaan wewenang dan penerimaan gratifikasi saat menjabat Bupati Nganjuk periode pertama tahun 2008-2013.

Penyalahgunaan wewenang yang dimaksud itu adalah keikutsertaan Taufiqurrahman dalam lima proyek yang menggunakan APBD Kabupaten Nganjuk tahun 2009.

Lima proyek itu adalah pembangunan jembatan Kedung Ingas, proyek rehabilitasi saluran Melilir Nganjuk, proyek perbaikan jalan Sukomoro sampai Kecubung, proyek rehabilitasi saluran Ganggang Malang, dan proyek pemeliharaan berkala jalan Ngangkrek ke Blora.

Kasus ini awalnya diusut oleh Kejari Nganjuk. Saat ditangani oleh Kejari Nganjuk, Taufiqurrahman belum ditetapkan sebagai tersangka. Perkara itu kemudian diambil alih Kejaksaan Agung sebelum akhirnya dilimpahkan ke KPK. Bahkan Kejagung dan KPK sempat melakukan gelar perkara bersama dalam kasus ini.

2. Melawan KPK di Pengadilan

Taufiqurrahman melakukan perlawanan terhadap KPK di pengadilan. Ia melakukan gugatan praperadilan terkait penetapan status tersangkanya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Pada Maret 2017, hakim tunggal PN Jaksel memutuskan menerima sebagian gugatan praperadilan Taufiqurrahman. Ia menang melawan KPK yang membuat status tersangkanya gugur.

Putusan hakim didasari pertimbangan bahwa kasus yang sama telah diperkarakan sebelumnya di Kejaksaan. Hakim merujuk pada Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Kepolisian, Kejaksaan, dan KPK yang ditandatangani pada 29 Maret 2012. SKB itu memuat ketentutan yang menyebutkan apabila ada dua instansi/lembaga yang menangani perkara yang sama, maka penanganan perkara itu dikembalikan ke lembaga/instansi yang melakukan penyelidikan awal.

3. Dipecat Partai

Kasus hukum yang membelit Taufiqurrahman berimbas pada jabatannya di partai politik. Saat ditetapkan sebagai tersangka pada Desember 2016, PDI-P memutuskan untuk memberhentikan Taufiqurrahman dari jabatannya sebagai Ketua DPC PDI-P Kabupaten Nganjuk. Pemecatan Taufiqurrahman itu tertuang dalam Surat Keputusan DPP PDIP bernomor 216/KPTS/DPP/1/2017.

Baca: Bupati Nganjuk, Lolos di Praperadilan hingga Dua Kali Dijerat KPK

4. Ditangkap KPK

Meski Taufiqurrahman berhasil bebas dari jerat KPK pada Maret 2017 lalu, namun KPK tak melepasnya begitu saja. Rabu 25 Oktober 2017 kemarin, KPK melakukan tindakan terkait dugaan tindak pidana korupsi yang melibatkan Taufiqurrahman di dua wilayah yakni Jakarta dan Nganjuk. 

Dalam upaya penindakan itu, KPK menangkap Taufiqurrahman beserta 15 orang lainnya. KPK belum memastikan dalam kasus apa Taufiqurrahman kali ini dijerat. Namun beredar kabar bahwa penangkapan kali ini terkait jual beli jabatan, dan menerima setoran-setoran dari kepala dinas di lingkup pemerintahan Kabupaten Nganjuk.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah yang dikonfirmasi masih menolak menjelaskan secara rinci kasus apa yang menjadi dasar KPK menciduk Taufiqurrahman untuk kedua kalinya ini. Febri mengatakan KPK memiliki waktu 1x24 jam untuk menetapkan status pihak-pihak yang ditangkap dalam operasi penangkapan yang berlangsung kemarin itu. RZ

Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500